Raya membuka matanya.

Tidak ada proses terbangun yang perlahan. Tidak ada peralihan dari alam mimpi ke dunia sadar. Ia seketika terjaga penuh, dengan napas tertahan di dada.

Kamarnya gelap gulita. Raya sengaja mematikan lampu kamarnya malam ini karena entah mengapa, cahaya dari luar terasa membuat ruangan ini lebih sumpek. Ia berbaring telentang di atas kasur lipatnya yang menempel langsung ke dinding sebelah kanan—dinding yang memisahkannya dengan rumah Blok D nomor 15.

Sangat sunyi. Bahkan suara detak jarum jam dinding di ruang tamu pun tidak terdengar. Suara dengungan kulkas tua mereka juga mati. Raya tidak tahu jam berapa sekarang, dan ia terlalu enggan untuk bergerak meraih ponselnya yang tergeletak di lantai agak jauh dari kasurnya.

Udara di dalam kamar terasa berbeda. Ada hawa dingin yang mengalir perlahan di permukaan kulitnya, merayap dari pergelangan kaki hingga ke tengkuk. Bukan dingin karena suhu AC—Raya tidak punya AC. Ini adalah jenis dingin yang membuat udara terasa padat dan berat di paru-paru.

Raya tetap tidak bergerak. Mata menatap lurus ke langit-langit hitam.

Kemudian, ia merasakannya.

Ada tekanan yang aneh dari arah kanan tubuhnya. Raya perlahan menolehkan kepalanya, menatap permukaan tembok yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Dalam kegelapan, tembok itu hanya terlihat seperti blok bayangan pekat.

Namun, indra Raya berteriak bahwa ia tidak sendirian.

Ada sensasi fisik yang sangat spesifik, sensasi ketika seseorang berdiri terlalu dekat dengan Anda, sehingga Anda bisa merasakan pergeseran udara dan hawa tubuh mereka. Sensasi itu berasal dari balik tembok. Seseorang—atau sesuatu—sedang berdiri di sisi lain dinding itu. Tepat di hadapan wajah Raya, hanya terhalang oleh lapisan batu bata dan plester semen.

Raya bisa membayangkan sosok itu di dalam kepalanya. Seseorang yang berdiri diam, sangat diam, menempelkan wajahnya ke dinding, balas menatap Raya menembus kegelapan.

Jantung Raya memompa darah dengan beringas. Telinganya mulai berdenging pelan. Ia menahan napasnya tanpa sadar. Jika ia bernapas, ia merasa sosok di balik dinding itu akan bisa mendengarnya.

Keheningan ini tidak wajar. Ini bukan sepi karena tidak ada aktivitas; ini adalah sepi yang sengaja ditahan. Sepi yang menanti.

Perlahan, dengan gerakan yang nyaris tidak terdeteksi, Raya menggeser tangan kirinya di atas kasur. Jari-jarinya meraba-raba mencari sumber cahaya apa pun untuk memecah kegelapan pekat ini. Ia terus menggeser tubuhnya menjauh dari dinding, seinci demi seinci, kulitnya merinding hebat saat bersentuhan dengan seprai yang terasa sedingin es.

Tangannya menyentuh sudut persegi dari benda keras. Ponselnya.

Dengan tangan bergetar, Raya meraup ponsel itu dan menekan tombol daya di sampingnya. Layar menyala secara tiba-tiba. Cahaya putihnya terasa seperti tusukan jarum di retina Raya yang sudah beradaptasi dengan gelap. Raya memicingkan mata, menahan rasa perih.

Di layar utama, angka digital menunjukkan waktu dengan jelas.

02.13.