"Kak, kau dengar nggak sih semalam?"
Pertanyaan Dimas menghentikan gerakan tangan Raya yang sedang menuangkan air panas ke dalam gelas kopi. Kepulan uap tipis naik ke udara, membawa aroma kopi hitam yang pahit. Raya menatap adiknya yang duduk di kursi plastik meja makan darurat mereka. Wajah Dimas terlihat kusut. Lingkaran hitam di bawah matanya tercetak cukup jelas untuk anak seusianya.
"Dengar apa?" tanya Raya, mencoba menjaga nada suaranya tetap netral. Ia meletakkan teko air panas dan berjalan membawa dua gelas kopi.
Dimas mengusap wajahnya dengan kasar. "Dua malam ini aku susah tidur. Ada suara langkah kaki mondar-mandir terus dari rumah sebelah. Bolak-balik, dari ruang depan ke belakang, terus ke depan lagi. Kayak orang setrika jalanan."
Raya menarik kursi dan duduk di seberang adiknya. Ia menelan ludah, mengingat angka digital di ponselnya semalam, dan perasaan diawasi dari balik dinding. Namun, instingnya sebagai kakak perempuan mengambil alih. Ia harus menjaga agar Dimas tidak panik, terutama karena mereka tidak punya pilihan untuk pindah lagi dalam waktu dekat.
"Rumah ini kan bangunannya tua, Dim," kata Raya, meniup permukaan kopinya pelan. "Temboknya tipis. Mungkin tetangga sebelah memang kerja shift malam, atau punya insomnia. Kita kan nggak tahu."
"Tapi langkahnya aneh, Kak," bantah Dimas. Matanya menatap lurus ke arah Raya, bersungguh-sungguh. "Nggak ada suara sandal atau sepatu. Cuma suara... kulit ketemu lantai keramik. Srek, srek, srek. Dan ritmenya persis sama. Nggak pernah berhenti."
Raya merasakan sebersit rasa dingin menjalar di tulang belakangnya, namun ia memaksakan seulas tawa kecil. "Masa iya orang di rumah sendiri pakai sepatu? Ya wajar dong kalau nyeker. Udah, ah. Jangan mikir yang aneh-aneh. Mungkin kamu cuma belum terbiasa sama suasana di sini."
Dimas mendengus pelan, menyerah untuk berdebat. Ia meminum kopinya dalam diam. Meskipun Raya berusaha terdengar rasional, kata-kata Dimas terus terngiang di kepalanya sepanjang hari. Kulit ketemu lantai keramik. Malam itu, hujan turun perlahan di kota. Bukan hujan badai, hanya gerimis padat yang menciptakan suara ritmis di atas atap seng. Udara menjadi jauh lebih dingin. Raya menyelesaikan pekerjaannya lebih awal. Pukul satu dini hari, ia sudah mematikan laptop dan berbaring di atas kasur lipatnya.
Ia sengaja membiarkan lampu meja kecilnya menyala. Cahayanya yang kekuningan sedikit memberikan rasa aman. Raya menarik selimut hingga sebatas dada, memunggungi dinding yang berbatasan dengan rumah Blok D nomor 15. Ia mencoba fokus pada suara hujan, mencoba menjadikannya sebagai pengantar tidur.
Satu jam berlalu, mata Raya mulai terasa berat. Ia nyaris terlelap ketika suara itu memecah kesadaran setengah matangnya.
Srek.
Mata Raya terbuka lebar. Ia tidak berkedip. Matanya menatap bayangan kursi di sudut kamar yang diterpa cahaya lampu meja.
Srek.
Suara itu berasal dari sebelah. Sangat pelan, nyaris tertutup oleh suara rintik hujan, tapi telinga Raya bisa menangkap frekuensinya dengan tajam. Dimas benar. Itu bukan langkah sepatu. Itu adalah suara telapak kaki telanjang yang bergesekan dengan lantai berdebu. Tekanannya berat, menunjukkan bahwa siapa pun yang berjalan, menjejakkan kakinya dengan mantap.
Srek... srek... srek...
Suara itu bergerak dari arah depan (ruang tamu tetangga), berjalan menyusuri lorong yang kemungkinan sejajar dengan kamar Raya, menuju ke arah belakang rumah. Raya membeku. Napasnya menjadi pendek dan cepat. Ia mendengarkan dengan saksama.
Langkah itu berbalik. Dari belakang, kembali ke depan. Melewati sisi dinding yang berbatasan langsung dengan punggung Raya.
Srek... srek...
Setiap langkah terasa begitu dekat. Raya bisa membayangkan berat tubuh sosok tersebut setiap kali kakinya menyentuh lantai. Bolak-balik. Konstan. Monoton.
Raya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk mencegah dirinya mengeluarkan suara. Ia perlahan memutar tubuhnya, sangat pelan hingga seprainya tidak bergeser, sampai ia menghadap ke arah dinding. Ia memelototi permukaan tembok yang diterangi cahaya kuning redup itu.
Langkah kaki itu berjalan dari arah belakang rumah lagi, bergerak maju ke arah dinding kamar Raya.
Srek... srek... srek...
Raya menunggu langkah itu melewatinya menuju ruang depan, seperti pola sebelumnya.
Namun, kali ini polanya berubah.
Suara langkah kaki itu melambat saat mendekati area yang sejajar dengan posisi kepala Raya. Dan kemudian, berhenti total. Tepat di balik titik tembok tempat wajah Raya menatap. Tidak ada lagi suara langkah. Tidak ada suara menjauh. Sosok itu berdiri diam di sana, di sisi lain dinding, seakan tahu bahwa di sinilah Raya sedang berbaring memperhatikannya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar