Pagi harinya, tulang punggung Raya terasa kaku seperti kayu kering. Ia terbangun dengan posisi tubuh yang sama persis seperti saat ia membeku semalam—menghadap ke arah dinding. Matanya pedih, dikelilingi bayangan gelap karena kurang tidur.

Langkah kaki itu pada akhirnya tidak bergerak lagi semalam. Suara gesekan kulit dan lantai keramik tersebut berhenti total di titik yang sejajar dengan kepala Raya, lalu perlahan-lahan keheningan mengambil alih hingga fajar menyingsing. Raya bahkan tidak berani membalikkan badan untuk mematikan lampu meja.

"Kakak sakit?" tegur Dimas saat Raya meletakkan piring berisi telur dadar yang pinggirannya sedikit gosong di atas meja makan.

Raya menggeleng pelan, menarik kursi dan duduk dengan gerakan kaku. "Cuma salah bantal. Kasur lipatnya kurang tebal." Ia berbohong, menelan ludahnya yang terasa pahit. Ia tidak ingin membahas langkah kaki itu. Tidak sekarang, saat matahari pagi menyinari ruang tengah mereka dan membuat segala ketakutannya semalam terasa seperti halusinasi konyol.

Namun, penyangkalan itu menguap saat malam kembali turun.

Udara malam itu terasa lebih statis dari biasanya. Tidak ada angin yang menggerakkan dahan pohon mangga di luar. Raya mencoba menyibukkan diri dengan mencuci piring, menyapu lantai, dan melipat pakaian—apa saja agar ia tidak perlu masuk ke kamarnya terlalu cepat. Namun, jarum jam dinding terus bergerak tanpa ampun.

Pukul 01.45 dini hari. Dimas sudah mendengkur pelan di kamar depan. Raya akhirnya menyerah pada rasa lelah fisiknya. Ia memaksakan diri berbaring di atas kasur lipatnya. Kali ini, ia sengaja mengatur posisi tubuhnya telentang, menatap lurus ke langit-langit. Ia menyalakan lampu kamarnya terang benderang. Jika ada suara lagi, setidaknya ia tidak berada dalam kegelapan.

Keheningan yang pekat mulai menyelimuti ruangan. Detik demi detik berguguran. Raya menatap layar ponselnya.

02.10. 02.11. 02.12.

Napas Raya tertahan di tenggorokan. Otot perutnya menegang, bersiap menerima suara gesekan kaki di lantai keramik. Angka di layar berubah.

02.13.

Tidak ada suara langkah kaki.

Raya membuang napas perlahan melalui mulutnya. Bahunya yang terangkat mulai turun. Mungkin semalam memang hanya imajinasinya yang kelelahan. Mungkin tetangganya akhirnya tertidur.

Namun, sedetik kemudian, sebuah vibrasi halus merambat melalui struktur plesteran dinding di sebelah kanannya.

Bukan langkah kaki. Kali ini, sebuah gumaman.

Raya memutar kepalanya patah-patah ke arah tembok. Frekuensi suaranya sangat rendah, teredam oleh ketebalan batu bata, tetapi ritmenya jelas. Itu adalah pola suara manusia yang sedang berbicara.

Ada dua suara.

Suara pertama terdengar lebih berat, bergumam dalam nada yang konstan dan monoton. Lalu, jeda beberapa detik, sebelum suara kedua menyahut. Suara kedua ini nadanya sedikit lebih tinggi, naik dan turun layaknya seseorang yang sedang menjelaskan sesuatu atau menceritakan sebuah keluhan.

Raya perlahan bangkit dari posisi baringnya. Ia merangkak di atas kasurnya mendekati dinding. Kepalanya dimiringkan, menempelkan sebelah telinganya ke permukaan tembok yang dicat putih kusam. Permukaan tembok itu terasa sedingin es batu di kulit telinganya.

Percakapan itu terus berlangsung. Mengalir seperti aliran air keruh di bawah tanah. Raya memejamkan mata, memusatkan seluruh energinya pada gendang telinganya, mencoba memecahkan kata demi kata dari balik dinding. Ia ingin tahu bahasa apa yang mereka gunakan. Ia ingin menangkap satu nama, satu kalimat utuh.

Namun suaranya terlalu teredam. Terdengar seperti orang yang berbicara dengan mulut tertutup rapat, atau berbicara dari dasar kolam air yang dalam.

Tiba-tiba, suara bernada berat itu berhenti bicara. Suara kedua juga ikut berhenti.

Keheningan menyela secara mendadak. Raya menekan telinganya lebih kuat ke dinding, mengira percakapan itu sudah selesai.

Tepat pada detik berikutnya, hanya berjarak beberapa sentimeter dari telinga Raya di sisi lain dinding, salah satu dari suara itu mengembuskan tawa kecil yang serak dan bergetar.