Matahari Jakarta pukul lima sore tidak pernah ramah. Cahayanya yang oranye pekat menembus kaca jendela Wisma Bhinneka yang buram karena debu konstruksi flyover di dekatnya. Di ruang tengah yang luasnya tak seberapa, suara kipas angin Maspion tua berderit ritmis, berusaha melawan hawa panas yang seolah sanggup mematangkan telur di atas ubin.

Bagas, sang pengacara korporat yang biasanya necis dengan kemeja slim-fit seharga cicilan motor, kini hanya terduduk lesu di sofa bed yang per-nya sudah menusuk bokong. Dasinya sudah melingkar di dahi seperti ikat kepala rambo. Di depannya, sebuah laptop terbuka menampilkan draf kontrak yang belum selesai, namun fokusnya teralihkan oleh perutnya yang berbunyi nyaring.

"Gas, kalau perut lo bunyi lagi, gue bakal laporin ke Dinas Lingkungan Hidup karena pencemaran suara," celetuk Satya, si anak IT yang duduk bersila di lantai dengan tiga monitor menyala di depannya. Satya adalah satu-satunya orang yang tidak terpengaruh suhu udara; dia seolah punya sistem pendingin internal yang sinkron dengan prosesor komputernya.

"Diem lo, Sat. Lo enak, gaji dolar. Gue? Klien gue belum bayar retainer fee, kantor nahan bonus karena resesi. Jakarta lagi jahat banget hari ini," keluh Bagas sambil memijat pelipisnya.

Tak lama, pintu depan terbuka dengan dentuman keras. Baim, sang kurir ekspedisi, masuk dengan wajah yang lebih merah dari jaket seragamnya. Keringat bercucuran, dan dia langsung menjatuhkan diri di samping Satya.

"Asli... Jakarta hari ini rasanya kayak simulasi neraka bocor," keluh Baim dengan logat Banjar yang kental. "Mana alamat di Google Maps nipu semua. Gue nyari alamat di gang sempit, taunya buntu. Penumpang paketnya malah marah-marah karena telat sepuluh menit. Mau nangis rasanya, tapi air mata gue udah menguap duluan."

"Sabar, Im. Rezeki kurir itu di kaki, rezeki kita di mi," sahut sebuah suara dari arah dapur.

Munculah Aris, sang "pangeran" kosan alias anak pemilik Wisma Bhinneka. Meski ayahnya punya tiga kontrakan dan satu pasar kaget, Aris hidup lebih melarat dari penghuni lainnya karena uang jajannya dipotong habis oleh ibunya akibat ketahuan ikut balap liar bulan lalu. Dia membawa sebuah panci besar yang uapnya mengepulkan aroma yang sangat familiar dan mematikan: Mi Instan Rasa Kari Ayam.

"Upacara dimulai!" seru Aris.

Seketika, pintu-pintu kamar di lantai satu dan dua terbuka hampir bersamaan, seolah aroma mi itu adalah lonceng sakral.

dr. Kevin keluar dari kamarnya dengan langkah gontai. Lingkaran hitam di bawah matanya begitu pekat hingga dia lebih mirip panda daripada dokter. Dia baru saja pulang dari shift 36 jam di RSUD. Tanpa bicara, dia duduk di lantai, bersandar pada kaki meja, matanya setengah terpejam tapi hidungnya kembang kempis menghirup aroma kuah mi.

Lalu ada Rico, si model yang tetap terlihat estetik meski hanya memakai singlet dan sarung. Dia membawa sebotol air mineral alkali yang harganya setara dengan tiga porsi nasi uduk. "Gue cuma makan mienya ya, jangan kasih kuahnya. Natriumnya tinggi, ntar muka gue bloated buat casting besok," katanya sok keren, padahal tangannya sudah memegang garpu dengan gemetar karena lapar.

Mahesa, wartawan kriminal yang baru pulang meliput penggerebekan bandar narkoba, masuk sambil melemparkan tas punggungnya ke pojok. "Gue butuh asupan. Tadi siang cuma makan gorengan dua biji, itu pun minta punya polisi di TKP," gerutunya.

Dalam sekejap, 13 orang itu sudah melingkar di ruang tengah. Ada Ujang si barista yang membawa sisa roti dari kafenya yang hampir kadaluarsa, Fahri sang akuntan yang sibuk menghitung berapa biaya per orang untuk mi instan malam itu, Gede si desainer yang membawa kerupuk kaleng, Dimas mahasiswa abadi yang membawa sambal sachet hasil koleksi dari berbagai restoran cepat saji, Andre yang membawa gitar, dan Tio yang sibuk merekam momen itu dengan ponselnya.

"Konten hari ini: Makan malam mewah para sultan Jakarta," gumam Tio sambil mengarahkan kamera ke arah panci Aris yang isinya cuma mi instan polos tanpa telur.

"Sultan matamu! Telur aja nggak sanggup beli kita!" sahut Fahri pedas. "Gue udah hitung, Aris. Ini mi instan 10 bungkus, total Rp30.000. Gas habis kira-kira Rp2.000. Air galon... ah sudahlah, anggap aja sedekah dari bapak lo."

"Pelit amat lo, Ri," celetuk Ujang sambil membagi-bagikan roti kerasnya. "Nih, celupin ke kuah kari. Biar kayak croissant di kafe-kafe Senopati."

Saat mereka mulai makan dengan lahap, keheningan sempat tercipta. Hanya suara seruputan mi dan denting garpu yang terdengar. Di tengah kesederhanaan itu, rasa lelah akibat macetnya Sudirman, omelan atasan, dan target yang tidak tercapai, perlahan-lahan luruh.

"Tadi gue ketemu bapak lo di depan, Ris," kata Bagas memecah kesunyian.

Aris tersedak. "Terus? Dia nanyain sewa kamar?"

"Enggak. Dia cuma nanya, 'Si Aris masih sering makan mi instan nggak?'. Terus gue bilang, 'Enggak Om, dia sekarang hobi makan steak... steak tempe'."

Semua orang tertawa, kecuali dr. Kevin yang kepalanya sudah terkantuk-kantuk jatuh ke pundak Mahesa.

"Gue kadang mikir," kata Andre sambil memetik gitarnya pelan, menciptakan melodi melankolis di tengah kebisingan kunyahan. "Kita ini semua orang hebat di luar sana. Bagas pengacara, Kevin dokter, Rico model. Tapi di depan panci mi instan ini, kita cuma sekumpulan orang kalah yang lagi bertahan hidup."

"Gue nggak merasa kalah, Ndre," sahut Mahesa sambil menyeka keringat. "Gue cuma lagi nunggu giliran menang aja. Jakarta itu kayak mesin judi. Lo harus terus masukin koin, terus tarik tuasnya. Suatu saat, jackpot-nya keluar."

"Masalahnya, koin gue habis terus buat bayar parkir sama admin bank, Bang," timpal Baim yang disambut gelak tawa lainnya.

Tiba-tiba, lampu ruang tengah berkedip-kedip, lalu... CLESS. Gelap total.

"TOKEENN!!!" teriak mereka serempak.

"Fahri! Lo bilang pulsa listrik masih aman sampai besok!" teriak Aris dalam kegelapan.

"Gue lupa hitung kalau Satya nyalain server barunya sore ini! Beban daya naik 40%!" balas Fahri membela diri.

Dalam kegelapan itu, hanya cahaya dari ponsel Tio yang menyala. Di layar ponselnya, terlihat notifikasi "Low Battery".

"Tenang, tenang," suara Satya terdengar tenang. "Gue punya power bank kapasitas 50.000 mAh. Tapi jangan buat lampu, buat Wi-Fi dulu. Prioritas!"

"Prioritas dengkulmu! Panas ini!" teriak Dimas.

Mereka semua menggerutu, berteriak, dan saling menyalahkan dalam kegelapan. Namun, tak ada satu pun yang beranjak dari ruang tengah. Mereka tetap duduk melingkar di sana, berbagi sisa kuah mi instan yang mulai dingin, sambil menertawakan kemalangan mereka sendiri.

Di luar, klakson kendaraan di jalanan Jakarta bersahut-sahutan, debu berterbangan, dan kehidupan terus berpacu. Tapi di dalam Wisma Bhinneka, waktu seolah berhenti. Mereka mungkin belum punya apartemen di Menteng atau mobil mewah, tapi malam itu, mereka punya sesuatu yang lebih mahal: teman sejawat yang sama-sama tahu rasanya berjuang dari nol.

"Besok siapa yang jadwalnya beli token?" tanya Bagas di tengah kegelapan.

Semua orang mendadak diam.

"Kevin... pura-pura tidur dia," bisik Rico. "Gue denger ya!" sahut dr. Kevin dari kegelapan, memicu tawa pecah yang menggema hingga ke lantai dua.

Itulah Jakarta. Kota yang merampas banyak hal darimu, tapi kadang memberikanmu keluarga di tempat yang paling tidak terduga.