Matahari Sabtu pagi di Tebet biasanya disambut dengan kemalasan kolektif, tapi tidak kali ini. Wisma Bhinneka mendadak berubah menjadi sarang lebah yang sangat sibuk. Penyebabnya satu: Ujang. Barista paling flamboyan di seantero Jakarta Selatan itu akhirnya memutuskan untuk "pensiun" dari dunia petualangan cinta dan melamar pacarnya, Sisil, seorang selebgram lokal yang jumlah followers-nya lebih banyak daripada jumlah sel darah merah dr. Kevin.
"Gue nggak mau yang biasa-biasa aja, Guys," ujar Ujang sambil berdiri di atas kursi ruang tengah, layaknya seorang jenderal memberikan instruksi. "Sisil itu terbiasa dengan estetik. Gue mau lamaran ini punya vibe 'Rustic Modern Industrial' tapi tetap ekonomis."
Bagas, yang baru saja ingin menikmati kopi paginya, menghela napas. "Ujang, 'Rustic Modern' dan 'Ekonomis' itu dua kata yang nggak bisa disatukan dalam satu kalimat hukum, apalagi kenyataan."
"Bisa, Gas! Kalau kita gotong royong!" seru Ujang optimis.
Maka, dimulailah operasi "Lamaran Rooftop Wisma Bhinneka". Aris selaku anak juragan kos memberikan izin penggunaan rooftop—yang biasanya cuma jadi tempat jemuran dan kandang merpati—dengan syarat dia tidak perlu ikut iuran uang makan selama seminggu.
Pembagian Divisi Kekacauan
Ujang tidak main-main dalam menunjuk "staf ahli" untuk hari besarnya:
- Divisi Artistik & Dekorasi: Gede (si desainer) dan Rico (si model). Tugas mereka adalah mengubah jemuran menjadi venue romantis.
- Divisi Hiburan: Andre (guru musik) dan Tio (vlogger). Tugasnya menciptakan suasana syahdu sekaligus mendokumentasikan setiap detik (terutama yang memalukan).
- Divisi Logistik & Konsumsi: Baim (kurir) dan Dimas (mahasiswa abadi). Tugasnya mencari bahan makanan termurah di pasar subuh.
- Divisi Keuangan & Audit: Fahri. Tugasnya memastikan Ujang tidak jatuh miskin sebelum resmi jadi suami.
- Divisi Protokol & Keamanan: Bagas dan Mahesa. Tugasnya menyambut keluarga Sisil dan memastikan tidak ada keributan.
- Divisi Medis (Cadangan): dr. Kevin. Tugasnya berjaga-jaga kalau Ujang pingsan karena gugup.
"Gue udah bikin konsepnya di Adobe Illustrator," kata Gede sambil menunjukkan layar tabletnya yang untungnya tidak rusak pasca banjir bab sebelumnya. "Kita pakai lampu tumblr punya Rico, terus meja-meja kayu bekas di gudang kita susun, kasih taplak putih punya Ibu Kos."
"Lampu tumblr gue jangan sampai pecah ya!" Rico memperingatkan sambil memakai masker wajah. "Itu properti gue buat endorse minggu depan."
Persiapan yang Ambisius
Pukul dua siang, rooftop mulai bertransformasi. Baim datang dengan motor "Juleha"-nya, membawa muatan yang tidak biasa: setumpuk dahan pohon kering yang dia ambil dari taman komplek (katanya itu 'rustic').
"Ini dahannya estetik kan, De?" tanya Baim sambil mengusap peluh.
Gede menatap dahan-dahan itu datar. "Im, ini mah ranting pohon mangga kena ulat. Tapi ya sudahlah, nanti gue semprot cat emas biar kelihatan mewah."
Di sudut lain, Andre sedang melatih suaranya. Dia akan menyanyikan lagu "Janji Suci" versi akustik. Namun, Tio terus menginterupsinya. "Bang Andre, pas bagian nada tinggi, abang geser ke kiri sedikit ya? Biar lighting matahari terbenamnya dapet di kamera gue."
"Tio, gue ini penyanyi, bukan properti video!" Andre protes, namun akhirnya menuruti instruksi si bungsu itu.
Sementara itu, di dapur, Fahri sedang berdebat sengit dengan Dimas. "Dim, ini struk pembelian ayam potong kenapa harganya naik dua ribu per kilo? Lo beli di mana?"
"Duh, Ri! Pasar lagi ramai, itu udah yang paling murah! Lagian ini buat Ujang, sekali seumur hidup!" balas Dimas sambil mencuci kangkung.
"Sekali seumur hidup tapi bukan berarti kita harus mengabaikan inflasi, Dimas!" Fahri mencatat dengan gemas di buku saku "Goldie"-nya.
Detik-Detik Menjelang Eksekusi
Pukul enam sore. Langit Jakarta berubah menjadi ungu keemasan—sebuah berkah langka setelah badai kemarin. Rooftop Wisma Bhinneka benar-benar terlihat berbeda. Lampu tumblr Rico melilit dahan mangga emas milik Baim, menciptakan efek cahaya yang lumayan indah jika dilihat dari jauh (dan dengan mata setengah terpejam).
Ujang muncul dengan setelan jas yang dipinjam dari Bagas. Jas itu agak kedodoran di bagian bahu, tapi berkat bantuan peniti yang dipasang Rico, Ujang terlihat seperti eksekutif muda sukses, bukan barista yang sering lupa naruh sendok.
"Gue gemetaran, Guys," bisik Ujang. Tangannya dingin.
"Minum ini," kata dr. Kevin sambil menyodorkan segelas air hangat campur madu. "Biar detak jantung lo nggak kayak musik techno. Lo nggak mau pingsan pas Sisil bilang 'Yes', kan?"
"Gimana kalau dia bilang 'No'?" tanya Ujang horor.
"Kalau dia bilang 'No', gue udah siapin skenario video sedih dengan lagu galau buat konten lo," sahut Tio tanpa simpati, yang langsung dihadiahi jitakan oleh Mahesa.
Kekacauan Dimulai
Sisil tiba pukul tujuh malam. Dia terlihat sangat cantik dengan gaun floral dan kamera ponsel yang selalu menyala di tangan kirinya. Dia datang bersama dua temannya yang juga sesama selebgram.
"Oh my God, Ujang! Ini cute banget! Vibe-nya dapet banget!" seru Sisil sambil langsung melakukan Live Instagram.
Ujang tersenyum kaku. Dia mengajak Sisil duduk di kursi "Singgasana" yang sebenarnya adalah kursi kantor Bagas yang ditutupi kain sprei putih. Andre mulai memetik gitarnya. Suaranya mengalun merdu, menyatu dengan angin malam Tebet.
Saat Ujang baru saja hendak berlutut dan mengeluarkan kotak cincin, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari tangga kayu menuju rooftop.
BRAK!
Seorang pria tinggi, berambut gondrong klimis, mengenakan kemeja sutra yang kancing atasnya terbuka, muncul dengan napas terengah-engah. Di tangannya ada sebuah buket bunga mawar merah raksasa yang besarnya hampir menutupi tubuhnya sendiri.
"SISIL! JANGAN TERIMA!" teriak pria itu.
Suasana beku. Lagu Andre berhenti di tengah jalan dengan nada sumbang.
"Vino?" Sisil menutup mulutnya kaget. "Kamu ngapain di sini?"
Itu adalah Vino, mantan pacar Sisil yang juga seorang model fitness dan punya kafe kompetitor tempat Ujang bekerja. Rico langsung berdiri tegak, merasa tersaingi secara visual. "Eh, Mas. Ini acara pribadi. Harap keluar," kata Rico dengan gaya modelnya yang angkuh.
"Gue nggak peduli! Sil, aku udah berubah. Aku udah beli mobil baru, aku nggak akan lupa bales WhatsApp kamu lagi!" Vino berlutut di depan Sisil, mengabaikan Ujang yang masih memegang kotak cincin di tangan kanannya.
Solidaritas Anak Kos
Mahesa sang wartawan kriminal langsung pasang badan. "Wah, ini namanya perbuatan tidak menyenangkan dan gangguan ketertiban umum. Gas, masuk pasal berapa ini?"
Bagas maju dengan wibawa pengacaranya. "Berdasarkan etika sosial dan hak asasi manusia untuk bertunangan tanpa gangguan, Anda bisa saya tuntut atas tindakan intimidasi psikis."
Namun, Vino tidak menyerah. Dia mencoba menarik tangan Sisil. Di sinilah kekacauan fisik terjadi. Aris, yang sedari tadi cuma menonton sambil makan kerupuk, tiba-tiba merasa otoritasnya sebagai "Landlord" terancam.
"Heh, Gondrong! Lo kalau mau bikin drama di TV aja, jangan di kosan gue! Gue belum bayar PBB, jangan bikin polisi dateng ke sini!" seru Aris sambil mengacungkan sapu lidi.
Baim dan Dimas ikut maju, membentuk barisan "pagar betis" di depan Ujang. "Bang, mending abang pulang sebelum paket abang saya retur permanen ke gudang," ancam Baim.
Vino melihat sekeliling. Dia dikepung oleh 12 pria dengan berbagai ekspresi: dari yang marah (Mahesa), yang siap menuntut (Bagas), sampai yang terlihat ngantuk tapi memegang stetoskop seperti senjata (Kevin).
"Ujang itu cuma barista! Masa depan kamu apa sama dia?!" teriak Vino putus asa.
Ujang, yang sedari tadi diam karena syok, tiba-tiba berdiri. Dia meletakkan jas pinjaman Bagas ke kursi. "Gue mungkin cuma barista, Vin. Tapi gue punya mereka. Gue punya rumah yang biarpun bocor kalau hujan, tapi isinya orang-orang yang bakal belain gue sampai mati. Lo punya apa selain bunga yang bentar lagi layu?"
Sisil menatap Ujang dengan mata berkaca-kaca. Dia berdiri, mengabaikan buket bunga mewah Vino, dan berjalan ke arah Ujang. "Vino, pergi. Aku lebih butuh orang yang ada buat aku, bukan orang yang cuma pamer apa yang dia punya."
Vino tertunduk. Dengan malu, dia berjalan mundur, tersandung dahan mangga emas milik Baim, dan hampir jatuh dari tangga.
Akhir yang Manis (dan Sedikit Amis)
Setelah Vino pergi, suasana kembali tenang, meskipun dekorasi sudah agak berantakan. Andre kembali memetik gitar, kali ini dengan tempo yang lebih cepat dan ceria.
Ujang berlutut kembali. "Sil, di depan saksi-saksi cowok aneh ini... kamu mau nggak jadi teman hidup gue? Susah senang bareng, dari kosan ini sampai nanti kita punya rumah sendiri?"
Sisil mengangguk mantap. "Iya, Ujang. Aku mau."
Sorak-sorai pecah di rooftop Wisma Bhinneka. Tio merekam momen itu dengan penuh semangat, sudah membayangkan judul videonya: "DETIK-DETIK LAMARAN BARISTA VS MANTAN TOXIC (BERAKHIR HARU!)".
Namun, momen romantis itu terganggu oleh aroma yang sangat menyengat dari arah bawah.
"WEY! AYAMNYA GOSONG!" teriak Fahri.
Semua orang langsung berlari ke bawah. Ternyata Dimas, yang tadi bertugas menjaga panggangan ayam di dapur lantai satu, lupa mematikan api karena terlalu asyik menonton keributan di atas.
"Aduh, ayam gue! Investasi gue!" keluh Fahri sambil melihat ayam yang sudah sehitam arang.
Akhirnya, malam lamaran itu ditutup bukan dengan makan malam mewah Rustic Modern, melainkan dengan—lagi-lagi—pesan mi instan dan martabak telur yang dibeli patungan. Mereka duduk di lantai ruang tengah, Sisil dan teman-temannya tampak tidak keberatan bergabung dalam lingkaran "orang-orang kalah" yang malam itu merasa menang.
"Gas," panggil Ujang di sela-sela makannya. "Makasih ya. Gue nggak tahu apa jadinya kalau tadi gue sendirian."
Bagas menepuk bahu Ujang. "Di Wisma Bhinneka, nggak ada yang namanya sendirian, Jang. Bahkan kalau lo mau nikah nanti, tenang aja... Mahesa bisa jadi seksi keamanan, Rico jadi pagar bagus, dan Kevin... ya, Kevin bisa jaga-jaga kalau ada tamu yang pingsan karena makan masakan Dimas."
Semua tertawa. Di luar, Jakarta tetaplah Jakarta—bising, macet, dan tidak peduli. Namun di dalam Wisma Bhinneka, ada cinta yang baru saja mekar di antara aroma mi instan dan asap ayam gosong.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar