Pagi di Wisma Bhinneka biasanya dimulai dengan simfoni yang tidak harmonis: suara klakson ojek online yang menjemput penumpang di depan pagar, bunyi mesin air yang mengerang kehausan, dan teriakan Ujang yang mengingatkan siapa pun bahwa kamar mandi lantai satu sudah terpakai selama empat puluh menit oleh Rico.
Rico, sang model kebanggaan kosan, keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggang dan wajah yang tertutup masker lumpur berwarna abu-abu kebiruan. Ia berjalan dengan gaya catwalk menuju dapur komunal—sebuah ruangan sempit yang didominasi oleh sebuah kulkas dua pintu berwarna perak yang stikernya sudah mengelupas di sana-sini. Kulkas itu adalah saksi bisu sejarah kemanusiaan di Wisma Bhinneka; tempat di mana harapan disimpan dalam bentuk sisa piza, dan kekecewaan terkumpul dalam bentuk sayuran yang membusuk karena lupa dimasak.
Rico membuka pintu kulkas dengan gerakan dramatis. Matanya menyisir rak tengah, tempat ia meletakkan harta karunnya semalam: sebotol Almond Milk impor dengan label organik berwarna hijau toska.
"Hah?"
Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Kosong. Tempat di mana botol itu seharusnya berada kini hanya menyisakan noda air yang mengering. Rico menarik napas dalam-dalam, membuat masker lumpurnya retak di bagian dahi.
"SIAPA YANG MINUM SUSU ALMOND GUE?!"
Teriakannya membelah keheningan pagi, mengalahkan suara gorengan tempe yang sedang dieksekusi Aris di kompor sebelah.
Investigasi Dimulai
Mahesa, sang wartawan kriminal yang sedang menyesap kopi hitam sambil membaca portal berita, langsung menegakkan punggung. Insting jurnalisnya bergejolak. Bagi orang lain, ini mungkin hanya soal susu yang hilang. Bagi Mahesa, ini adalah headline.
"Tenang, Ric. Jangan emosi dulu," kata Mahesa sambil mengeluarkan buku catatan kecil dari saku celana pendeknya. "Jelaskan kronologinya. Kapan terakhir kali subjek terlihat di TKP?"
Rico menunjuk rak kulkas dengan jari gemetar. "Tadi malam, jam sebelas lewat empat belas menit. Gue taruh di situ. Masih segel, Mahes! Harganya delapan puluh lima ribu! Itu susu buat shooting iklan skincare sore ini biar muka gue nggak kusam!"
Aris, si anak juragan kos, membalik tempenya dengan santai. "Mungkin menguap karena panas Jakarta, Ric. Atau mungkin diminum jin penunggu kulkas."
"Enggak ada jin yang punya selera high-end kayak gitu, Ris!" seru Rico frustrasi.
Satu per satu penghuni mulai berkumpul di dapur, tertarik oleh keributan tersebut. Bagas muncul dengan kemeja yang baru disetrika setengah, Fahri datang dengan kalkulator di tangan (seolah ingin menghitung kerugian materil Rico), dan Satya muncul sambil mengucek mata, masih mengenakan headset di lehernya.
"Gue nemu bukti," kata Mahesa dengan nada berat. Ia berlutut di depan kulkas. Di ubin putih yang agak kusam itu, terdapat jejak kaki basah yang samar, mengarah dari kulkas menuju lorong kamar lantai bawah.
"Jejak kaki basah," gumam Mahesa. "Pelakunya baru saja mandi, atau... baru saja keluar dari kamar mandi."
"Gue baru mandi!" seru Rico membela diri.
"Tapi jejak ini arahnya keluar dari kulkas menuju kamar nomor empat," Mahesa menunjuk pintu kayu berwarna cokelat tua di ujung lorong. "Kamar dr. Kevin."
Semua mata tertuju pada pintu itu. dr. Kevin adalah tersangka paling logis. Sebagai dokter muda yang sedang magang, dia sering pulang dalam keadaan "zombi"—sadar tapi otaknya sudah tidak di tempat.
Interogasi Sang Dokter
Mahesa mengetuk pintu kamar Kevin dengan ketukan ritmis ala polisi menggerebek bandar. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, lebih keras. Akhirnya, pintu terbuka sedikit. Kevin muncul dengan rambut acak-adakan dan stetoskop yang masih melingkar di lehernya—padahal dia sudah pulang sejak semalam.
"Vaksin... dosis ketiga... jangan lupa observasi..." gumam Kevin melantur.
"Vin, sadar!" Bagas mengguncang bahu temannya itu. "Lo minum susu almond Rico semalam?"
Kevin mengerjapkan mata berkali-kali. "Susu? Putih? Cair? Gue semalam haus banget... kayaknya gue minum sesuatu di kulkas. Rasanya kayak... kacang, tapi aneh."
Rico menjerit histeris. "TUHKAN! LO MINUM MODAL KERJA GUE!"
"Tunggu dulu," Mahesa menahan Rico. "Kevin, lo minumnya pakai gelas atau langsung dari botol?"
"Gelas... kayaknya," jawab Kevin lemah.
Mahesa masuk ke kamar Kevin tanpa izin, diikuti yang lain. Di atas meja nakas, di samping tumpukan buku anatomi, terdapat sebuah gelas plastik. Tapi isinya bukan sisa susu putih. Ada cairan berwarna merah keruh di dasar gelas itu.
Mahesa mencelupkan ujung kelingkingnya, lalu mencicipinya. "Ini bukan susu almond. Ini... sirup cocopandan campur kecap?"
"Hah? Gue semalam bikin eksperimen apa?" Kevin tampak bingung.
"Kalau Kevin bukan pelakunya, berarti ada pihak ketiga yang mencoba melakukan framing," analisis Mahesa serius. "Lihat jejak kaki ini lagi. Ukurannya sekitar empat puluh dua. Kevin ukurannya tiga puluh sembilan, kakinya kecil kayak cewek."
Fahri, si akuntan, tiba-tiba angkat bicara. "Bentar, gue punya data. Tadi malam jam satu pagi, gue keluar kamar buat kencing. Gue lihat seseorang di dapur. Dia pakai penutup kepala, kayak ninja."
"Ninja di Tebet?" celetuk Ujang yang baru muncul sambil membawa nampan berisi kopi. "Mungkin itu si Gede. Dia kan kalau begadang ngerjain desain sering pakai hoodie hitam biar fokus."
Konspirasi Desainer dan Mahasiswa Abadi
Pencarian berlanjut ke kamar Gede, sang desainer grafis. Gede ditemukan sedang tidur telungkup di atas tablet gambarnya. Di bawah mejanya, bergelimpangan kaleng minuman energi.
"Gede! Bangun! Lo maling susu Rico ya?" tuduh Rico tanpa basa-basi.
Gede mengangkat kepalanya, wajahnya penuh dengan bekas tekanan pinggiran tablet. "Susu apa? Gue dari semalam cuma minum air keran direbus. Invoice gue belum cair sebulan, mana mampu beli susu."
"Terus kenapa lo pakai hoodie hitam semalam?" tanya Mahesa.
"Gue kedinginan, AC kamar Satya tembus ke tembok gue!" balas Gede sewot. "Tapi semalam gue lihat Dimas bawa-bawa botol hijau ke arah balkon lantai dua."
Massa kemudian bergerak ke lantai dua, menuju "wilayah kekuasaan" Dimas, mahasiswa abadi yang sudah hafal setiap sudut kampus tapi lupa jalan pulang ke wisuda. Dimas sedang asyik main game di ponselnya sambil nyemil kerupuk.
"Dim, mana susunya?" tanya Bagas tegas.
Dimas menoleh santai. "Susu? Oh, yang botol hijau di kulkas? Gue pikir itu punya Aris, jatah warga kos. Gue pake buat bikin mi instan goreng tadi subuh. Rasanya jadi creamy gitu, kayak pasta-pasta mahal."
"APA?!" Rico nyaris pingsan. "Susu almond delapan puluh lima ribu lo pake buat masak mi instan?!"
"Lah, mana gue tahu itu susu mahal," bela Dimas. "Lagian Aris bilang kalau ada makanan di rak tengah yang nggak ada namanya, berarti itu 'sedekah kolektif'."
Semua mata kini beralih ke Aris, sang anak juragan. Aris yang sedang asyik mengunyah tempe gorengnya tiba-tiba membeku. "Eh... anu... itu kan peraturan tidak tertulis demi kesejahteraan bersama..."
Plot Twist di Rak Bawah
Di tengah keributan antara Rico yang menuntut ganti rugi dan Dimas yang mengaku tidak punya uang, Baim si kurir ekspedisi masuk ke dalam kosan membawa sebuah kardus besar.
"Permisi, paket atas nama Rico!" teriak Baim.
Rico cemberut. "Paket apa lagi? Gue nggak pesen apa-apa hari ini."
"Ini dari brand susu almond yang mau kerja sama sama lo, Ric. Mereka kirim sepuluh botol buat sampel," kata Baim sambil meletakkan kardus di meja.
Rico terdiam. Ia membuka kardus itu. Sepuluh botol susu almond yang identik dengan yang hilang berjejer rapi.
"Loh, kalau ini baru datang..." Rico menoleh ke kulkas. "Terus yang di kulkas tadi malam itu punya siapa?"
Tiba-tiba, pintu depan kosan terbuka. Seorang bapak-bapak dengan perut buncit dan kaos singlet—Haji Mansur, bapaknya Aris—masuk dengan wajah kesal.
"Ris! Mana botol obat oles Bapak?!" teriak Haji Mansur.
Hening seketika.
"Obat oles apa, Pak?" tanya Aris ragu.
"Itu, obat herbal buat rematik Bapak! Botolnya hijau, Bapak taruh di kulkas kosan semalam biar dingin pas dipakai. Isinya perasan jahe, lengkuas, sama minyak zaitun. Baunya emang kayak kacang-kacangan!"
Dimas mendadak pucat. Ia memegangi perutnya. "Tunggu... perasan jahe sama lengkuas?"
"Iya! Kenapa? Lo lihat?" tanya Haji Mansur.
Dimas lari sekencang kilat menuju kamar mandi, disusul suara muntah yang membahana ke seluruh penjuru Wisma Bhinneka. Ternyata, "susu almond" yang ia pakai untuk memasak mi instan adalah ramuan rematik milik juragan kos.
"Duh, pantesan mi instan gue tadi rasanya kayak balsem," teriak Dimas dari dalam kamar mandi.
Semua orang di dapur meledak dalam tawa, kecuali Rico yang masih bingung dan Haji Mansur yang marah-marah karena obat mahalnya habis.
Makan Siang dan Rekonsiliasi
Setelah badai "Skandal Susu" mereda, suasana kembali mencair. Rico, yang merasa bersalah karena sudah menuduh semua orang, akhirnya membuka kardus kiriman brand tersebut dan membagikan sepuluh botol susu almond mahal itu kepada teman-temannya.
"Nih, minum semua. Biar muka kalian nggak suram-suram amat," kata Rico sok angkuh, tapi sebenarnya tulus.
Andre si guru musik mulai memetik gitarnya di ruang tengah, menyanyikan lagu gubahan spontan tentang "Mi Instan Rasa Rematik". Tio merekam semuanya untuk konten TikTok pribadinya dengan judul 'POV: Hidup di Kosan Bareng 12 Orang Aneh'.
Fahri duduk di sudut, mencatat di buku pengeluarannya: Pemasukan: 1 botol susu gratis (Rp85.000). Penghematan: Makan siang terpenuhi.
Sementara itu, Bagas kembali ke laptopnya. Stres pekerjaan yang tadi pagi menghimpitnya seolah terasa lebih ringan. Ia menyadari satu hal: di Jakarta, masalah profesional bisa diselesaikan dengan hukum, tapi masalah personal hanya bisa diselesaikan dengan tawa bersama di dapur kosan.
"Gas," panggil Satya sambil tetap menatap layar monitor. "Gue barusan cek CCTV wifi kosan. Lo tahu nggak siapa yang sebenernya mindahin botol susu Rico ke rak bawah sampai nggak kelihatan?"
"Siapa?" tanya Bagas penasaran.
Satya memutar layar laptopnya. Terlihat rekaman hitam putih yang agak buram. Di sana, seekor kucing oren gemuk—kucing liar yang sering diberi makan oleh Ujang—melompat ke atas kulkas yang pintunya tidak tertutup rapat, lalu menyenggol botol itu hingga jatuh ke rak paling bawah, tersembunyi di balik tumpukan sawi layu.
"Jadi... semua drama tadi, interogasi Mahesa, muntahnya Dimas, itu semua karena ulah si Kucing Oren?" Bagas melongo.
"Begitulah Jakarta, Gas," sahut Mahesa yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang mereka. "Tersangka utama selalu yang paling tidak terduga. Ini bakal jadi berita utama di grup WhatsApp kosan."
Sore itu, Wisma Bhinneka kembali ke ritme normalnya. Panas, bising, dan penuh aroma masakan. Tiga belas orang pria dengan latar belakang yang jauh berbeda itu kembali ke dunianya masing-masing, namun dengan satu kesadaran baru: besok, mereka harus menuliskan nama di setiap makanan yang mereka taruh di kulkas.
"Aturan baru!" seru Aris sambil menempelkan kertas di pintu kulkas. "Barang siapa mengambil makanan tanpa izin, wajib bayar denda seharga token listrik seminggu!"
"SETUJU!" teriak dua belas orang lainnya serempak.
Dan untuk sesaat, di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang egois, Wisma Bhinneka menjadi tempat paling adil di dunia.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar