Langit di atas Tebet berubah warna menjadi abu-abu metalik sejak pukul dua siang. Udara yang biasanya panas menyengat berganti menjadi lembap yang menyesakkan paru-paru. Bagi penduduk Jakarta, ini adalah pertanda buruk. Bukan sekadar hujan, tapi sebuah "undangan" untuk terjebak dalam kemacetan abadi atau genangan air yang tidak diundang.

Di Wisma Bhinneka, Satya adalah orang pertama yang menyadari bahaya. Bukan karena dia melihat ke jendela, tapi karena grafik ping di monitornya mulai tidak stabil.

"Kabel fiber optik di bawah tanah pasti kerendem lagi kalau begini terus," gumamnya sambil menyesap kopi dingin yang sudah disemuti.

Tepat pukul empat sore, langit seolah tumpah. Bunyi hujan yang menghantam atap seng balkon lantai dua terdengar seperti ribuan peluru yang ditembakkan bersamaan. Di dalam kamar masing-masing, penghuni Wisma Bhinneka mulai bersiap dengan ritual "siaga satu" mereka.


Terjebak di Rimba Beton

Tiga puluh kilometer dari kosan, di sebuah gedung pencakar langit di kawasan Sudirman, Bagas sedang menahan napas. Di depannya, seorang klien kelas kakap sedang mengamuk karena draf kontrak akuisisi dianggap terlalu "lunak" di bagian pasal penalti.

"Bagas, saya bayar kantor kamu mahal bukan untuk dengar kata 'mungkin'!" teriak si klien sambil menggebrak meja jati.

Bagas, yang biasanya tenang, melirik ke arah jendela besar di belakang kliennya. Jalanan Sudirman sudah berubah menjadi sungai perak yang diam. Mobil-mobil tidak bergerak. Motor-motor berteduh di bawah kolong flyover, menciptakan sumbatan yang makin parah.

"Pak, dengan segala hormat," kata Bagas dengan suara baritonnya yang mantap—suara yang biasanya membuat lawan bicara di pengadilan ciut. "Pasal itu bukan untuk melemahkan posisi Bapak, tapi untuk memastikan transaksi ini tidak digugat di kemudian hari karena dianggap predatori. Sekarang, masalah kita bukan hanya kontrak ini, tapi bagaimana Bapak bisa pulang. Jalanan di depan sudah gridlock."

Bagas menghela napas. Dia tahu, malam ini dia tidak akan bisa pulang cepat. Pikirannya melayang ke Wisma Bhinneka. Dia teringat bahwa pagi tadi dia melihat atap di kamar Gede sudah mulai retak.

"Semoga anak-anak di kosan nggak kebanjiran," batinnya.


Operasi Penyelamatan Karya Seni

Di Wisma Bhinneka, kekhawatiran Bagas menjadi kenyataan.

"WEY! AIR! AIR! TOLONGGG!"

Teriakan Gede memecah suara hujan. Ujang, yang sedang asyik membuat konten video "Tips Menyeduh Kopi saat Hujan" di dapur, langsung meletakkan ponselnya. Mahesa yang sedang mengetik berita tentang kasus pencurian motor, langsung melompat dari kursinya.

Mereka berlari ke kamar Gede di lantai dua. Pemandangannya sangat memprihatinkan. Atap di sudut kamar Gede bocor parah. Air hujan mengucur deras tepat di atas meja kerja yang dipenuhi peralatan mahal: pen tablet, laptop spesifikasi tinggi, dan beberapa lembar sketsa manual yang dikerjakan Gede selama berminggu-minggu.

"Pindahkan laptopnya! Cepat!" teriak Mahesa mengomando.

Rico muncul dengan hanya memakai celana pendek, otot perutnya yang six-pack berkilau karena cipratan air. "Aduh, ini airnya kotor nggak ya? Nanti kulit gue iritasi," keluhnya, namun tangannya tetap cekatan membantu menggeser meja kayu Gede menjauh dari kucuran air.

Fahri datang membawa ember, tapi bukannya langsung menaruhnya di bawah bocoran, dia malah melihat merek embernya dulu. "Ini ember baru beli, jangan sampai pecah ya, De. Harganya naik sekarang karena inflasi."

"BODO AMAT, RI! SELAMATIN TABLET GUE DULU!" raung Gede yang hampir menangis melihat draf desain untuk klien Singapura-nya nyaris basah.

Satya keluar dari kamarnya dengan tenang, membawa sebuah plastik besar yang biasanya digunakan untuk membungkus server. "Nih, bungkus semuanya pakai ini. Plastik ini anti-statis dan kedap air."

Gede menerima plastik itu seolah menerima mukjizat. "Sat, lo emang malaikat tanpa sayap, tapi punya banyak kabel."

Setelah peralatan elektronik diamankan ke kamar Satya yang (anehnya) selalu kering dan dingin, masalah baru muncul. Atap yang bocor bukan cuma satu titik. Air mulai merembes dari sela-sela plafon di lorong.

"Ini kalau didiamin, satu lantai dua bisa jadi kolam renang," kata Aris yang baru naik dari lantai bawah sambil membawa sapu lidi dan ember cat bekas. "Gue telepon Bokap, tapi HP-nya nggak aktif. Pasti lagi asyik main gaple di pos ronda yang nggak bocor."


Heroisme Si Kurir

Sementara itu, di luar sana, Baim sedang berjuang antara hidup dan mati. Oke, itu mungkin berlebihan, tapi bagi seorang kurir ekspedisi, hujan badai adalah musuh utama. Baim terjebak di daerah Kemang. Air sudah mencapai setinggi knalpot motornya.

"Ayo, Juleha... jangan mogok sekarang," bisik Baim pada motor matik kesayangannya.

Baim baru saja menyelesaikan pengantaran terakhir saat dia melihat notifikasi di grup WhatsApp kosan: "INFO: KOSAN SIAGA SATU. ATAP GEDE BOCOR. PERUT KOSONG. TIDAK ADA MAKANAN. GEDE MAU PINGSAN."

Baim melihat ke sekeliling. Di depannya ada sebuah warung nasi padang yang posisinya agak tinggi dan masih buka. Dia teringat wajah teman-temannya yang kelaparan. Dia juga ingat kalau dr. Kevin pasti belum makan sejak pagi karena pasien di RSUD membludak akibat kecelakaan lalu lintas saat hujan.

Dengan sisa uang di dompetnya (yang sudah dihitung berkali-kali oleh Fahri sebelumnya sebagai uang kas makan malam), Baim memesan 13 bungkus nasi padang.

"Bang, bungkusnya dua lapis ya! Jangan sampai kena air hujan!" pesan Baim pada penjualnya.

Dia memasukkan 13 bungkus nasi itu ke dalam tas kurirnya yang besar dan kedap air. Baim kemudian menembus banjir, mencari jalan tikus yang dia hafal di luar kepala. Dia melewati gang-gang sempit, menaiki trotoar, bahkan hampir terserempet mobil mewah yang melaju ugal-ugalan.


Malam yang Hangat di Tengah Badai

Pukul delapan malam. Listrik di Wisma Bhinneka mendadak padam.

"Duh, mampus kita. Gue belum selesai render!" teriak Tio dari dalam kamarnya.

"Tenang, semuanya berkumpul di ruang tengah lantai bawah!" suara Bagas terdengar dari arah pintu depan.

Semua orang terkejut. Bagas masuk dengan kondisi basah kuyup. Rambutnya yang mirip Reza Rahadian itu kini lepek menempel di dahi. Dia pulang naik ojek pangkalan karena mobil jemputan kantor terjebak macet total.

"Gas! Lo kok bisa pulang?" tanya Andre yang sedang memetik gitar pelan dalam kegelapan.

"Gue jalan kaki dua kilometer cari pangkalan ojek yang mau nembus banjir," jawab Bagas sambil mengatur napas. "Gimana kondisi kosan? Kamar Gede?"

"Aman, Gas. Udah dievakuasi ke kamar Satya," lapor Mahesa sambil menyalakan senter dari ponselnya.

Tak lama kemudian, terdengar suara raungan motor di depan pagar. Baim datang! Dia masuk ke dalam dengan wajah penuh lumpur tapi matanya berbinar.

"MAKANAAAN DATAAANG!" teriak Baim.

Seketika, suasana yang tadinya suram karena mati lampu berubah menjadi meriah. Mereka duduk melingkar di ruang tengah lantai bawah, beralaskan tikar pandan milik Aris. Di tengah kegelapan yang hanya diterangi oleh beberapa lilin dan lampu darurat, aroma rendang dan gulai ayam menyebar, mengalahkan aroma lembap air hujan.

"Baim, lo adalah pahlawan nasional malam ini," kata dr. Kevin yang baru saja terbangun dari tidurnya di pojok ruangan. Dia langsung menyambar sebungkus nasi. "Gue hampir mau bedah perut gue sendiri karena lapar."

"Hush! Ngomongnya jangan sembarangan, Dok!" sahut Dimas sambil menyuap nasi padangnya dengan lahap. "Tapi beneran, Im. Ini nasi padang rasanya kayak makanan surga."

Fahri, meskipun sedang lapar, tetap menjalankan tugasnya. "Baim, totalnya berapa? Tadi gue kasih lo seratus ribu buat kas makan, tapi nasi padang 13 bungkus pasti lebih dari itu."

"Udah, Ri. Pakai uang tips gue hari ini aja sisanya," kata Baim santai. "Anggap aja ini syukuran karena motor gue nggak mogok."

Fahri terdiam sebentar, lalu menutup buku catatannya. "Oke, kali ini gue nggak akan catat sebagai utang. Tapi besok lo dapet jatah ayam paling gede di makan siang."

Mereka makan dalam kebersamaan yang hangat. Andre mulai memetik gitarnya lagi, kali ini memainkan lagu yang lebih ceria. Ujang mencoba menghibur Gede yang masih lemas karena stres memikirkan atap kamarnya.

"Tenang, De. Besok pagi gue bantu benerin atapnya. Gue kan mantan kuli bangunan sebelum jadi barista," canda Ujang.

"Bener ya? Kalau nggak, gue bakal ganti foto profil LinkedIn lo jadi foto lo lagi tidur mangap," ancam Gede, tapi sambil tersenyum.

Tio, si content creator, tidak mau ketinggalan. Dia menyalakan kamera ponselnya dengan lampu flash. "Guys, say 'Jakarta Keras tapi Kami Lebih Keras'!"

"JAKARTA KERAS TAPI KAMI LEBIH KERAS!" teriak mereka kompak.

Di luar, hujan masih mengguyur bumi Jakarta dengan hebatnya. Suara petir sesekali menggelegar, mengingatkan siapa pun bahwa kota ini bisa sangat kejam bagi mereka yang sendirian. Namun di dalam ruang tengah Wisma Bhinneka yang remang-remang, tiga belas pemuda dari berbagai suku itu merasa aman.

Bagas memperhatikan wajah teman-temannya satu per satu. Ada si dokter yang kelelahan, si wartawan yang selalu waspada, si model yang narsis, hingga si kurir yang tangguh. Dia menyadari bahwa meskipun mereka sering bertengkar soal jemuran, susu yang hilang, atau token listrik, di saat badai benar-benar datang, mereka adalah satu-satunya keluarga yang mereka miliki di perantauan.

"Gas, lo kok melamun? Makan itu rendangnya, keburu diambil Aris!" tegur Mahesa.

Bagas tersenyum, menyuap sesendok nasi padang ke mulutnya. "Enggak, Hes. Gue cuma mikir... besok kayaknya gue harus beli genteng baru."

"Pake uang kas kosan ya, Gas!" sahut Fahri cepat, yang langsung disambut sorakan "Huuuuuu!" dari seluruh penghuni.

Malam itu, Jakarta mungkin tidak tidur karena badai. Tapi Wisma Bhinneka terjaga karena tawa.