Griya tawang itu terasa begitu sunyi di pagi hari, sebuah kontras yang tajam dari kebisingan di dalam kepalaku. Sinar matahari menerobos masuk melalui dinding kaca setinggi langit-langit, menyinari debu-debu halus yang menari di atas kanvas baruku. Hari ini adalah hari terakhir sebelum perhelatan besar itu—pernikahan yang akan mengubah statusku dari "Alika yang Tersembunyi" menjadi "Nyonya Devan Adiguna".

Aku berdiri di depan cermin kamar mandi, membasuh wajahku dengan air dingin. Tatapanku jatuh pada gaun pengantin yang tergantung di sudut kamar, tertutup pelindung kain transparan. Gaun itu adalah sebuah anomali; sebuah janji keberanian yang diberikan oleh pria yang paling tidak terduga. Namun, semakin dekat waktu resepsi, semakin besar rasa sesak yang menghimpit dadaku.

Suara langkah kaki yang teratur terdengar di lorong. Devan. Ia selalu bangun tepat pukul lima pagi, memulai harinya dengan disiplin yang nyaris robotik. Aku keluar dari kamar dan menemukannya di ruang makan, sedang menyesap kopi hitam sambil membaca berkas di tabletnya.

"Kau tidak tidur nyenyak?" tanya Devan tanpa mendongak. Ia seolah memiliki indra keenam untuk mengetahui keberadaanku bahkan tanpa menoleh.

"Bagaimana kau bisa tahu?" aku menarik kursi di seberangnya, merasa canggung dengan kemeja kebesaran yang kupinjam dari lemari cadangannya semalam karena baju ganti yang dikirim dari rumah belum semuanya kubongkar.

"Matamu," ucapnya pendek, kini ia mendongak dan menatapku. "Ada kecemasan yang tidak bisa disembunyikan oleh air dingin sekalipun. Apa yang kau takutkan? Ibuku? Atau dunia yang akan menatapmu besok?"

"Keduanya," jawabku jujur. Aku meraih cangkir teh yang sudah disiapkan oleh asisten rumah tangganya. "Tapi lebih dari itu, aku takut jika semua ini hanya... panggung sandiwara yang akan runtuh saat lampu dimatikan. Kau melindungiku kemarin, Devan. Tapi apa yang terjadi setelah besok? Setelah semua orang tahu siapa aku?"

Devan meletakkan tabletnya di meja. Sorot matanya berubah serius. "Setelah besok, kau adalah Adiguna. Itu berarti tidak ada seorang pun yang boleh menyentuhmu tanpa berhadapan denganku. Tapi ingat, perlindungan itu datang dengan harga. Kau harus berdiri tegak. Jangan biarkan mereka melihatmu sebagai 'pengganti'. Jika kau merasa seperti pengganti, mereka akan memperlakukanmu seperti itu."

"Kau mengatakannya seolah-olah itu semudah membalikkan telapak tangan," gumamku. "Kau lahir di dunia ini, Devan. Kau tahu cara bertarung di sini. Aku? Aku hanyalah seseorang yang lebih suka menghilang di balik warna-warna cat."

"Maka jadikan pernikahan ini kanvasmu," sahut Devan. Kalimat itu membuatku terdiam. "Lukis citra yang ingin kau tunjukkan. Jangan biarkan mereka yang memegang kuasnya."

Sebelum aku sempat membalas, ponsel Devan bergetar di atas meja. Ia melihat layar, dan aku melihat rahangnya mengeras sejenak. Ia tidak mengangkatnya, melainkan membalikkan ponsel itu dengan kasar.

"Siapa?" tanyanya.

"Bukan masalahmu," jawabnya dingin, kembali ke mode kaku yang biasa.

Namun, firasatku mengatakan sebaliknya. Keheningan itu pecah ketika bel pintu griya tawang berbunyi. Bukan bunyi bel biasa, tapi tekanan berulang yang menunjukkan ketidaksabaran. Devan berdiri, wajahnya menunjukkan kekesalan yang jarang ia perlihatkan.

Saat pintu terbuka, sosok yang berdiri di sana membuat jantungku seolah berhenti berdetak. Ibu. Tapi ia tidak sendiri. Di sampingnya stands Ayah yang tampak kuyu, dan seorang pria asing bersetelan rapi yang membawa tas kerja kulit.

"Alika! Kau harus pulang sekarang!" Ibu menerobos masuk tanpa menunggu izin, suaranya melengking di ruang tamu yang minimalis itu.

Devan menghalangi langkah Ibu dengan tubuh tegapnya. "Nyonya Hardi, ini properti pribadi saya. Anda tidak bisa datang dan berteriak seperti ini."

"Properti pribadi?" Ibu tertawa sinis, matanya mencari-cari keberadaanku. "Alika adalah putriku! Dan dia belum sah menjadi milikmu sampai janji itu diucapkan di depan publik. Dia melarikan diri dari rumah setelah menghina keluarganya sendiri!"

Aku berjalan keluar dari area ruang makan, berdiri di belakang Devan. "Aku tidak melarikan diri, Bu. Aku pergi karena Ibu menamparku. Aku pergi karena Ibu menyalahkanku atas sesuatu yang bukan kesalahanku selama sepuluh tahun."

Wajah Ibu memucat sejenak, namun ia segera menguasai diri. "Itu hanya bentuk disiplin! Sekarang, lihat ini. Pengacara keluarga sudah menyiapkan draf tambahan untuk kontrakmu dengan Devan. Ada beberapa aset yang harus dipastikan kembali ke keluarga Hardi sebagai 'biaya' atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh perubahan pengantin ini."

Aku memandang Ayah, berharap ia akan mengatakan sesuatu, namun Ayah hanya menunduk, tidak berani menatap mataku. Rasa mual menjalar di perutku. Mereka benar-benar sedang menegosiasikan harga diriku di depan pria yang akan menjadi suamiku.

"Biaya?" Devan bersuara, nadanya begitu rendah hingga terdengar mengancam. "Anda pikir Alika adalah barang yang bisa Anda sewakan dan kemudian Anda minta uang jaminannya kembali?"

"Dia menggantikan Bella!" Ibu berteriak. "Bella adalah investasi kami! Alika hanyalah... dia seharusnya tidak ada di posisi ini jika bukan karena keberuntungan! Kami berhak mendapatkan kompensasi atas hilangnya peluang Bella di keluarga Adiguna!"

Aku merasa duniaku runtuh. Jadi itulah aku di mata Ibu. Sebuah "keberuntungan" yang salah alamat. Sebuah kompensasi.

"Cukup," suaraku keluar, kecil namun tajam. Aku melangkah maju, keluar dari balik perlindungan Devan. Aku menatap Ibu tepat di matanya—mata yang selalu kupuja saat aku kecil, namun kini terlihat begitu asing dan penuh ketamakan. "Ibu tidak akan mendapatkan satu sen pun lebih dari apa yang sudah disepakati dalam kontrak awal."

"Alika! Berani-beraninya kau—"

"Aku berani karena aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dirugikan, Bu," potongku. "Ibu sudah mengambil masa kecilku. Ibu mengambil kepercayaan diriku. Ibu bahkan mencoba mengambil satu-satunya hal yang membuatku merasa berharga: bekas lukaku. Ibu menyebutnya cacat, tapi Devan menyebutnya sejarah. Jika Ibu terus menekan, aku akan membatalkan semuanya. Aku akan pergi, dan biarkan perusahaan Ayah hancur hari ini juga. Apakah itu yang Ibu inginkan?"

Hening. Ibu terperangah. Ia tidak pernah menyangka Alika yang penurut bisa mengeluarkan taringnya. Di sampingku, aku bisa merasakan tatapan Devan yang intens padaku. Ada kilatan kekaguman yang samar di matanya.

"Kau... kau tidak akan berani," bisik Ibu, suaranya bergetar.

"Coba saja," jawabku. Aku berbalik ke arah Devan. "Devan, bisakah kau menyuruh mereka keluar? Aku ingin bersiap-siap untuk gladi resik sore ini."

Devan mengangguk pada pengawalnya yang berjaga di dekat pintu. "Anda dengar calon istri saya? Silakan keluar. Dan Pak Hardi, saya sarankan Anda mulai mengelola perusahaan dengan benar alih-alih mengandalkan manipulasi istri Anda. Investasi saya bisa ditarik kapan saja jika saya merasa keluarga mitra saya terlalu... berisik."

Ayah menarik lengan Ibu, menyeretnya keluar sebelum situasi semakin memburuk. Saat pintu tertutup, aku merasa seluruh tenagaku menguap. Aku hampir ambruk jika Devan tidak segera menangkap lenganku.

"Kau melakukannya dengan baik," ucapnya. Tangannya masih memegang lenganku, tepat di atas bekas luka itu.

"Aku merasa jahat," bisikku, air mata mulai mengalir. "Bagaimanapun, dia Ibuku."

"Terkadang, kau harus menjadi jahat untuk melindungi apa yang benar-benar berharga dalam dirimu," Devan menuntunku duduk di sofa. Ia tidak melepaskan tangannya. "Keluargamu adalah beban, Alika. Aku sudah tahu itu sejak awal. Itulah sebabnya aku lebih suka berurusan dengan Bella—karena dia sama transaksionalnya dengan mereka. Tapi kau... kau membuat segalanya menjadi rumit."

"Maafkan aku karena menjadi rumit," aku menyeka air mataku dengan punggung tangan.

"Jangan minta maaf. Kerumitan ini jauh lebih menarik daripada kepalsuan yang ditawarkan kakakmu." Devan terdiam sejenak, lalu ia merogoh saku kemejanya. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil. "Ini seharusnya diberikan besok. Tapi kurasa kau membutuhkannya hari ini."

Ia membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah cincin dengan berlian biru yang sangat langka, dikelilingi oleh permata kecil yang membentuk pola seperti percikan air.

"Ini bukan bagian dari kontrak," ucap Devan. "Ini milik mendiang nenekku. Beliau adalah satu-satunya orang di keluarga Adiguna yang percaya bahwa kecantikan sejati berasal dari apa yang kita pertahankan di tengah badai. Beliau memberikan ini pada wanita yang dianggapnya punya 'jiwa'. Aku ingin kau memakainya."

Aku menatap cincin itu, lalu menatap Devan. "Kenapa kau memberikannya padaku? Kau bilang ini hanya bisnis."

Devan mengalihkan pandangannya ke jendela, seolah enggan mengakui sesuatu. "Bisnis membutuhkan kepercayaan. Dan setelah apa yang kau lakukan tadi... aku mulai percaya bahwa kau bukan hanya sekadar pengganti. Kau adalah variabel yang bisa mengubah hasil akhir dari permainan ini."

Ia mengambil tangan kananku dan menyematkan cincin itu di jari manisku. Pas sekali. Berlian biru itu berkilau, memantulkan cahaya matahari pagi. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa seperti barang dagangan. Aku merasa seperti seorang pejuang yang baru saja diberi lencana kehormatan.

Namun, ketenangan itu kembali terusik saat aku melihat notifikasi di tablet Devan yang tertinggal di meja. Sebuah email masuk dengan subjek: “I’m coming back for my wedding, Devan. Paris was a mistake.”

Pengirimnya: Sevilla Hardi.

Jantungku serasa jatuh ke lantai. Bella. Dia akan kembali. Di saat aku baru saja mulai menemukan pijakanku, di saat Devan baru saja mulai melihatku, sang primadona memutuskan untuk pulang dan mengklaim kembali tahtanya.

Aku menatap Devan, ia rupanya juga melihat notifikasi itu. Wajahnya kembali menjadi topeng batu yang tak terbaca.

"Dia akan kembali, kan?" tanyaku, suaraku nyaris hilang.

Devan mengambil tabletnya, mematikannya tanpa membaca email itu lebih lanjut. "Pernikahan akan tetap berlangsung besok, Alika. Aku tidak merubah rencana hanya karena seseorang berubah pikiran di menit terakhir."

"Tapi dia kakakku. Dia yang kau inginkan sejak awal."

Devan berdiri, menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Apa yang kuinginkan sejak awal tidak lagi relevan. Yang relevan adalah siapa yang berdiri di sampingku saat badai datang. Dan besok, itu adalah kau."

Ia berjalan pergi menuju ruang kerjanya, meninggalkanku sendirian di ruang tamu yang luas itu. Aku menatap cincin di jariku. Berlian biru itu tampak begitu cantik, namun aku tahu, ia adalah beban yang baru.

Besok bukan hanya tentang menghadapi Nyonya Adiguna atau media. Besok adalah tentang menghadapi Bella. Kakakku yang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Kakakku yang meninggalkanku dalam api, dan kini datang untuk mengambil air yang baru saja mulai membasahi dahagaku.

Aku berjalan menuju kamar, mengambil kuas, dan mulai melukis dengan kalap. Aku mencampurkan warna emas, biru, dan merah. Aku melukiskan dua sosok wanita yang berdiri berhadapan di tengah kobaran api. Yang satu mengenakan mahkota yang retak, dan yang lainnya memegang kuas yang berlumuran darah perak.

Konflik ini bukan lagi tentang perusahaan Ayah atau nama baik Adiguna. Ini adalah tentang siapa yang berhak atas hidupnya sendiri. Aku tidak akan membiarkan Bella masuk dan merusak apa yang sudah kubangun dengan luka-lukaku.

Sore harinya, gladi resik berlangsung dengan penuh ketegangan. Lokasi pernikahan di sebuah ballroom hotel berbintang itu sudah mulai didekorasi dengan bunga-bunga lili putih dan mawar merah tua—pilihan Devan yang kontras. Nyonya Adiguna hadir, ia hanya diam memerhatikan gerak-gerikku, namun aku bisa merasakan ia sedang menunggu momentum untuk menjatuhkanku.

"Berjalanlah dengan lebih percaya diri," bisik Devan di telingaku saat kami berlatih berjalan menuju altar. "Jangan melihat ke bawah. Lihat ke depan, ke arahku."

Aku menuruti kata-katanya. Saat aku menatap matanya, aku seolah menemukan jangkar di tengah samudera yang bergejolak. Namun di sudut ruangan, aku melihat sesosok wanita bertopi lebar dan berkacamata hitam sedang memerhatikan kami dari jauh. Ia segera menghilang saat aku mencoba memfokuskan pandanganku.

Bella sudah di sini. Aku bisa merasakannya. Aroma parfumnya yang kuat seolah tertinggal di udara.

Malam itu, sebelum tidur, aku menerima sebuah pesan singkat dari nomor baru.

“Nikmati malam terakhirmu di tempat tidurku, Alika. Besok, aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Seorang pengganti tetaplah pengganti. Jangan pernah lupa itu.”

Aku meremas ponselku. Rasa takut itu ada, namun amarahku jauh lebih besar. Aku menatap bekas lukaku di bawah lampu tidur. Luka ini mengingatkanku bahwa aku pernah selamat dari api yang dia buat. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkannya membakarku lagi.

Aku menutup mata, mencoba mencari kedamaian yang rapuh.