Lampu kristal yang menggantung di langit-langit ruang tamu keluarga besar kami tampak bersinar lebih terang dari biasanya, namun bagiku, cahayanya terasa mencekik. Aku duduk di sudut sofa beludru, menggenggam cangkir teh yang sudah mendingin. Di tengah ruangan, Ayah dan Ibu sedang sibuk menyambut tamu-tamu terhormat, sementara aku—Alika—hanya menjadi latar belakang yang buram.
Seharusnya malam ini adalah malam kejayaan Bella. Kakak perempuanku itu, sang primadona yang wajahnya menghiasi papan reklame di pusat kota, seharusnya sedang duduk di sini, mengenakan kebaya sutra pesanan desainer ternama, bersiap untuk menerima pinangan dari Devan Adiguna. Devan adalah definisi sempurna dari laki-laki idaman: tampan, berkuasa, dan berasal dari keluarga yang pengaruhnya menjalar hingga ke akar-akar ekonomi negara ini.
Namun, kursi di samping Ayah kosong. Bella tidak ada. Dan aku tahu persis ke mana ia pergi.
"Alika, ke sini sebentar." Suara Ayah terdengar berat, ada nada panik yang disembunyikan di balik ketegasan wajahnya yang mulai berkerut.
Aku berdiri, merapikan kemeja lengan panjangku yang berwarna krem. Aku selalu memakai lengan panjang, bahkan di cuaca panas sekalipun, untuk menutupi bekas luka bakar di lengan kiriku—sebuah kenang-kenangan pahit dari masa kecil yang selalu mengingatkanku bahwa aku tidak akan pernah seelok Bella.
Aku berjalan mendekat. Di sana, duduk Devan Adiguna. Lelaki itu mengenakan setelan jas gelap yang tampak sangat pas di tubuh tegapnya. Wajahnya datar, seolah-olah terbuat dari pahatan batu kelereng yang dingin. Matanya yang tajam menatapku sekilas, lalu kembali pada Ayah. Tidak ada kehangatan di sana, hanya tuntutan akan sebuah jawaban.
"Di mana Bella?" Suara Devan rendah, namun getarannya memenuhi ruangan.
Ibu nampak gemetar, jemarinya meremas sapu tangan. "Bella... Bella sedang tidak enak badan, Devan. Dia tiba-tiba drop karena kelelahan jadwal pemotretan."
Aku hampir mendengus mendengar kebohongan itu. Aku tahu Bella pergi ke bandara dua jam yang lalu. Dia mengirimiku pesan singkat: "Alika, aku tidak bisa menyerahkan hidupku untuk menjadi istri pajangan pengusaha kaku itu. Aku punya kontrak di Paris. Maafkan aku, tolong urus semuanya."
Semudah itu. Bella selalu pergi meninggalkan kekacauan, dan aku selalu menjadi orang yang memegang sapu untuk membersihkannya.
"Jangan berbohong padaku, Pak Hardi," ucap Devan dingin, matanya kini tertuju pada Ayah. "Informan saya mengatakan dia terlihat di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta satu jam yang lalu. Dia melarikan diri."
Suasana mendadak senyap. Anggota keluarga besar yang hadir mulai berbisik-bisik. Reputasi keluarga kami sedang dipertaruhkan di ujung tanduk. Jika pertunangan ini batal karena pengantin wanitanya melarikan diri, bisnis Ayah yang sedang goyah akan hancur seketika. Hubungan kerja sama dengan Adiguna Group adalah satu-satunya pelampung penyelamat kami.
Ayah menatapku. Tatapan yang sangat aku kenali. Tatapan yang meminta pengorbanan.
"Devan," Ayah berdehem, suaranya bergetar. "Kami meminta maaf atas ketidaksopanan Bella. Namun, komitmen antara keluarga kita tidak boleh putus. Jika Bella tidak ada... kami masih memiliki Alika."
Duniaku serasa berhenti berputar. Aku menoleh ke arah Ayah dengan mata terbelalak. "Ayah, apa maksud Ayah?" bisikku lirih, nyaris tak terdengar.
Ibu segera menggenggam tanganku, kuku-kukunya yang panjang sedikit menekan kulitku. "Alika, demi keluarga. Tolonglah. Kau tahu bagaimana kondisi perusahaan Ayah. Kau anak yang baik, kan? Kau selalu mengerti."
Lagi-lagi kata-kata itu. 'Anak yang baik'. Di telingaku, itu terdengar seperti 'anak yang bisa dimanfaatkan'. Selama ini aku selalu hidup di bawah bayang-bayang Bella. Jika Bella adalah matahari, aku hanyalah debu yang hanya terlihat jika ada cahaya yang menyorotnya. Bella mendapatkan pendidikan terbaik, baju terbaik, dan kasih sayang yang meluap-luap. Sedangkan aku? Aku adalah Alika yang pendiam, si pelukis amatir yang hanya berani menuangkan perasaannya di atas kanvas di gudang belakang.
Devan kini menatapku sepenuhnya. Matanya menelusuri penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aku merasa seperti barang dagangan yang sedang dinilai harganya. Aku merasa telanjang di bawah tatapannya yang mengintimidasi. Aku yakin, dia sedang membandingkanku dengan Bella. Bella yang tinggi semampai, dengan kulit porselen tanpa cela dan senyum yang memikat jutaan orang. Sedangkan aku hanya Alika yang pucat, dengan mata yang selalu terlihat lelah dan bekas luka tersembunyi.
"Alika?" Devan menyebut namaku untuk pertama kalinya. Suaranya tidak memiliki rasa, hambar seperti air tawar. "Kau bersedia menggantikan kakakmu?"
Aku ingin berteriak "Tidak!". Aku ingin lari ke kamarku, mengunci pintu, dan kembali pada lukisanku yang belum selesai. Aku tidak mencintai laki-laki ini. Aku bahkan takut padanya. Namun, saat aku melihat mata Ayah yang berkaca-kaca karena putus asa, dan Ibu yang menatapku dengan penuh permohonan, suaraku tertahan di tenggorokan.
Aku teringat betapa Ayah bekerja keras untuk menyekolahkanku, meski perhatiannya selalu lebih banyak untuk Bella. Aku teringat bagaimana Ibu merawatku saat aku terkena luka bakar itu, meskipun setelah itu dia selalu memintaku menutupinya agar tidak mempermalukan keluarga.
"Aku..." suaraku tercekat. "Jika itu memang keinginan Ayah dan Ibu..."
Devan berdiri dari duduknya. Dia jauh lebih tinggi dariku saat kami berdiri berhadapan. Aroma parfumnya yang maskulin dan elegan menyeruak ke indra penciumanku. "Baiklah. Pernikahan akan tetap dilaksanakan bulan depan. Bukan pertunangan lagi, tapi langsung akad nikah. Saya tidak punya waktu untuk drama pelarian kedua kalinya."
Ia kemudian menatap Ayah. "Pak Hardi, pastikan putri Anda yang satu ini tidak menghilang seperti kakaknya. Saya tidak suka barang yang cacat dalam sebuah kesepakatan."
Kata-kata 'barang yang cacat' itu menghujam jantungku. Apakah dia tahu tentang lukaku? Ataukah dia menganggap keberadaanku sebagai pengganti adalah sebuah cacat dalam rencana hidupnya yang sempurna?
Setelah Devan dan rombongannya pergi, rumah yang tadinya tegang mendadak menjadi sibuk dengan cara yang berbeda. Ayah dan Ibu memelukku, mengucap terima kasih berkali-kali seolah aku baru saja memenangkan lotre untuk mereka. Namun, aku merasa hampa.
Malam itu, aku duduk di balkon kamarku. Dari sini, aku bisa melihat taman belakang yang gelap. Aku mengambil kuas dan cat air, mencoba melukiskan apa yang kurasakan. Namun, tanganku gemetar.
Aku adalah pemain pengganti. Dalam naskah kehidupan ini, peran utama selalu milik Bella. Aku hanyalah pemeran pengganti yang masuk ke panggung ketika sang diva jatuh sakit atau melarikan diri. Devan tidak menginginkanku. Dia menginginkan simbol status yang bernama istri dari keluarga Hardi. Baginya, Bella atau Alika mungkin tidak ada bedanya, selama tujuannya tercapai.
Ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
“Besok jam 10 pagi, supir saya akan menjemputmu. Kita perlu bicara soal kontrak pernikahan. Jangan terlambat. – Devan Adiguna.”
Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga, menetes di atas kertas sketsaku, memudarkan warna biru yang baru saja kugoreskan. Besok, hidupku bukan lagi milikku sendiri. Aku akan masuk ke dalam sangkar emas milik seorang laki-laki yang melihatku tak lebih dari sekadar tambalan untuk lubang yang ditinggalkan kakakku.
Aku menatap cermin di sudut kamar. Wajah yang ada di sana tampak begitu asing. "Siapa kau, Alika?" bisikku pada bayangan itu. "Apakah kau benar-benar bisa bertahan menjadi bayang-bayang di rumah laki-laki sedingin itu?"
Tidak ada jawaban. Hanya angin malam yang berembus pelan, seolah meratapi nasibku yang baru saja terjual demi kehormatan keluarga. Aku menyentuh lengan kiriku, merasakan gumpalan bekas luka di balik kain kemejaku. Bella mendapatkan dunia, dan aku mendapatkan sisa-sisanya.
Namun, di balik rasa takut itu, ada secercah amarah yang mulai tumbuh. Jika aku memang harus masuk ke dalam kehidupan Devan, aku tidak akan membiarkan diriku dihancurkan sepenuhnya. Jika aku adalah istri pengganti, maka aku akan menjadi satu-satunya peran yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh Devan—entah itu sebagai cinta, atau sebagai penyesalan terbesarnya.
Malam itu, di bawah langit Jakarta yang tanpa bintang, aku memulai babak baru dalam hidupku. Babak yang tidak pernah kurencanakan, namun harus kujalani dengan segenap luka yang kupunya. Pernikahan ini bukan tentang cinta. Ini tentang penebusan, tentang harga diri, dan tentang bagaimana seorang Alika mencoba mencari cahayanya sendiri di tengah kegelapan yang diciptakan oleh saudaranya sendiri.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar