Malam setelah makan malam yang penuh konfrontasi itu meninggalkan jejak yang aneh di dadaku. Untuk pertama kalinya, kamar tidurku yang biasanya terasa seperti penjara bawah tanah kini berubah menjadi ruang meditasi yang tenang. Kata-kata Devan di restoran—bahwa luka ini adalah bagian dari sejarahnya juga—terus bergema, memantul di dinding-dinding hatiku yang selama ini tertutup rapat.
Namun, ketenangan itu hanyalah fatamorgana.
Pagi harinya, pintu kamarku digebrak dengan kasar. Ibu masuk dengan wajah merah padam, matanya menyala penuh amarah yang tertahan. Di tangannya, ia menggenggam beberapa lembar cetakan foto dari situs berita daring yang mulai mengendus kabar pernikahan mendadak keluarga Adiguna.
"Apa yang kau pikirkan, Alika?!" Ibu melempar foto-foto itu ke atas tempat tidurku. "Ibu mendapat telepon dari Nyonya Adiguna pagi-pagi buta. Dia sangat tersinggung! Dia bilang kau sengaja mempermalukannya dengan memamerkan... memamerkan kecacatanmu itu di depan umum!"
Aku bangkit perlahan dari tempat tidur, menarik napas panjang untuk mengumpulkan kekuatan yang baru saja kupelajari semalam. "Aku tidak memamerkannya, Bu. Aku hanya berhenti berpura-pura bahwa itu tidak ada."
"Berhenti berpura-pura?" Ibu tertawa sinis, suaranya melengking menyakitkan. "Kau pikir hidup ini tentang kejujuran? Hidup ini tentang citra, Alika! Ayahmu hampir kehilangan segalanya, dan kau hampir merusak satu-satunya kesempatan kita hanya karena harga diri yang salah tempat! Kau bukan Bella. Bella tahu kapan harus memakai topeng dan kapan harus melepasnya. Kau hanya seorang amatir yang egois!"
Aku menatap Ibu, dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa ingin menangis. Aku merasa kasihan padanya. Kasihan karena baginya, aku hanyalah sebuah aset yang harus dipoles sedemikian rupa agar laku di pasar kekuasaan.
"Jika Ibu begitu merindukan topeng Bella, kenapa Ibu tidak menyuruhnya pulang saja?" tanyaku datar.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipiku. Panasnya tidak sebanding dengan rasa panas di lengan kiriku, namun efeknya jauh lebih menghancurkan. Ibu terengah-engah, matanya membelalak, tampak sedikit menyesali perbuatannya namun gengsinya terlalu besar untuk meminta maaf.
"Jangan pernah menyebut nama kakakmu dengan nada seperti itu. Dia pergi untuk masa depannya. Dan kau... kau di sini untuk menebus kesalahanmu karena telah membiarkannya bermain api sepuluh tahun lalu!"
Aku terpaku. Kalimat terakhir Ibu menghujam jantungku lebih dalam dari peluru manapun. Jadi, selama ini mereka menyalahkanku atas kebakaran itu? Padahal Bella yang menyalakan koreknya, padahal aku yang masuk ke gudang yang terbakar untuk menariknya keluar. Selama sepuluh tahun, mereka diam-diam memupuk narasi bahwa akulah penyebab cacatnya hidupku sendiri dan beban bagi karier Bella.
Tanpa sepatah kata pun, aku mengambil tas selempangku dan berjalan melewati Ibu. Aku tidak bisa berada di rumah ini satu detik pun lagi.
"Alika! Mau ke mana kau? Alika!" teriakan Ibu tidak kuhiraukan.
Aku memacu mobil kecilku menuju satu-satunya tempat yang bisa memberiku udara: sebuah galeri kecil di pinggiran kota milik Pak Darma, mentor melukisku. Aku butuh warna. Aku butuh kanvas yang tidak bisa menghakimiku.
Sesampainya di sana, aku langsung menuju sudut belakang tempat kanvas-kanvas kosong biasanya tersedia. Namun, langkahku terhenti ketika melihat sebuah mobil hitam yang sangat kukenal terparkir di depan galeri.
Devan.
Pria itu berdiri di depan salah satu lukisan karyaku yang dipajang di sana—sebuah lukisan abstrak tentang laut yang bergolak di bawah langit yang tenang. Ia tidak mengenakan jas hari ini, hanya kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, membuatnya terlihat sedikit lebih manusiawi, namun tetap mengintimidasi.
"Bagaimana kau tahu aku di sini?" tanyaku, mencoba menetralkan suaraku yang masih bergetar pasca insiden dengan Ibu.
Devan berbalik. Matanya langsung tertuju pada pipiku yang memerah dan sedikit bengkak. Ia menyipitkan mata, dan aku bisa melihat rahangnya mengeras. "Kontrak kita mencakup pengawasan keamanan, Alika. Supirmu melapor padaku saat kau pergi dari rumah dengan keadaan tidak stabil."
Ia berjalan mendekat, memperpendek jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma sandalwood yang tajam. "Siapa yang melakukannya?"
"Bukan urusanmu," jawabku, memalingkan muka.
"Semalam aku bilang kau adalah bagian dari sejarahku. Itu berarti apapun yang melukaimu, menyinggung keputusanku," suaranya rendah, penuh otoritas. "Apakah ibumu yang melakukannya?"
Aku diam, yang baginya adalah sebuah jawaban 'ya'.
Devan mendengus pelan, lalu mengeluarkan ponselnya. "Aku akan memajukan jadwal kepindahanmu. Kau tidak akan kembali ke rumah itu hari ini. Supirku akan mengambil barang-barangmu."
"Apa? Tidak! Devan, kita bahkan belum menikah!"
"Secara hukum negara, kita sudah menandatangani berkas sipil kemarin sore setelah kau pulang dari kantor. Akad dan resepsi hanya formalitas untuk publik. Kau sudah menjadi Nyonya Adiguna sejak tinta itu kering, Alika. Dan aku tidak mengizinkan milikku dirusak oleh siapapun, termasuk keluarganya sendiri."
Kata-katanya terdengar protektif, namun sekaligus posesif. Aku tidak tahu harus merasa tersanjung atau takut. Baginya, aku tetaplah "barang" miliknya yang harus dijaga kualitasnya.
"Aku butuh waktu untuk berpikir, Devan. Hidupku berubah terlalu cepat," bisikku, menyandarkan tubuh pada dinding galeri yang dingin.
Devan terdiam sejenak, lalu ia melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia mengangkat tangannya, jemarinya yang panjang dan hangat menyentuh pipiku yang terkena tamparan dengan sangat lembut. Sebuah kontras yang luar biasa dari kekasaran Ibu tadi.
"Dunia ini tidak memberimu waktu untuk berpikir, Alika. Ia hanya memberimu pilihan: dimakan atau memakan. Kau sudah terlalu lama menjadi pihak yang dimakan. Ikutlah denganku, bukan sebagai pengganti Bella, tapi sebagai seseorang yang akan membantuku meruntuhkan ekspektasi orang-orang tua kolot itu."
Aku menatap matanya. Ada api ambisi di sana, namun ada juga kesepian yang dalam yang hanya bisa dikenali oleh sesama jiwa yang kesepian. "Kenapa kau begitu membenci ekspektasi keluarga?"
Devan menarik tangannya, seolah tersadar ia telah menunjukkan sedikit celah. "Karena ekspektasi adalah penjara yang paling rapi. Mereka ingin aku menikahi model terkenal agar saham naik. Mereka ingin aku menjadi robot penghasil uang. Kau... dengan luka di lenganmu dan keberanianmu menghapus riasan semalam, adalah gangguan yang menarik bagi sistem mereka. Dan aku suka gangguan."
Ia berbalik menuju pintu galeri. "Barang-barangmu akan sampai di apartemenku dalam dua jam. Aku akan menunggumu di mobil."
Aku berdiri terpaku di tengah galeri. Di depanku ada lukisanku tentang laut yang bergolak. Aku menyadari bahwa aku sedang berada di tengah badai itu sekarang. Jika aku tetap di rumah, Ibu akan terus mengikis jiwaku hingga tidak ada yang tersisa. Jika aku pergi bersama Devan, aku masuk ke wilayah yang tidak dikenal, namun setidaknya aku punya sekutu yang kuat.
Aku berjalan keluar, meninggalkan keheningan galeri. Saat aku masuk ke mobil Devan, ia tidak mengatakan apa-apa, hanya memberi isyarat pada supir untuk jalan.
Kami sampai di sebuah griya tawang (penthouse) di jantung Jakarta. Tempat itu sangat luas, dengan dinding kaca yang memperlihatkan cakrawala kota tanpa batas. Namun, rumah itu terasa hambar. Tidak ada foto, tidak ada sentuhan personal, hanya furnitur mahal yang diletakkan secara presisi.
"Ini kamarmu," Devan menunjukkan sebuah ruangan luas yang menghadap ke arah barat. Di sudut ruangan, sudah ada sebuah kanvas kosong dan peralatan melukis baru yang masih terbungkus plastik. "Aku menyuruh asistenku membelinya tadi pagi."
Aku menyentuh permukaan kanvas yang masih kasar itu. "Kenapa?"
"Karena aku ingin kau tetap menjadi 'gangguan' itu. Jangan berubah menjadi sosialita membosankan hanya karena kau tinggal di sini. Aku butuh pengingat bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa dibeli dengan kontrak."
Ia kemudian berjalan menuju pintu. "Malam ini ada pertemuan dengan perancang busana pengantin. Kali ini, aku yang akan menentukan modelnya. Kau tidak perlu memakai apapun yang menutupi lukamu jika kau tidak mau."
Setelah Devan pergi, aku duduk di lantai kamar yang dingin. Barang-barangku mulai berdatangan, dibawa oleh orang-orang berseragam. Aku menemukan kotak kecil berisi perlengkapan melukis lamaku yang penuh noda cat. Di antara barang-barang itu, terselip sebuah foto kecil—foto aku dan Bella saat masih kecil, sebelum api itu mengubah segalanya.
Dalam foto itu, Bella merangkulku. Kami berdua tersenyum. Dulu, kami adalah tim. Dulu, tidak ada perbedaan antara si primadona dan si bayangan. Namun waktu, ambisi, dan tekanan orang tua telah mengubah kami menjadi dua kutub yang saling menghancurkan.
Aku mengambil pisau palet dan mulai menggoreskan cat minyak ke kanvas baru itu tanpa sketsa. Aku tidak menggambar wajah, aku menggambar perasaan. Merah untuk amarah Ibu, hitam untuk kedinginan Devan, dan emas untuk harapan kecil yang mulai tumbuh.
Dua jam kemudian, pintu kamarku diketuk. Itu adalah Sandra, perancang busana yang sama dari kemarin, namun kali ini wajahnya tampak lebih segan. Di belakangnya, dua asisten membawa sebuah kotak besar yang dilapisi kain beludru.
"Nyonya Alika," sapa Sandra, suaranya kini terdengar tulus. "Pak Devan memberikan instruksi khusus untuk gaun pernikahan Anda. Beliau meminta sesuatu yang 'berani dan jujur'."
Ia membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah gaun pengantin yang luar biasa. Bukan model gaun putri raja yang mengembang seperti yang biasanya disukai Bella. Ini adalah gaun model sleek berbahan sutra satin berwarna putih gading dengan potongan asimetris. Yang paling mengejutkan adalah bagian lengannya. Lengan kanannya panjang dan elegan, sementara lengan kirinya... sengaja dibuat tanpa lengan dengan detail bordir perak yang membingkai area sekitar bekas lukaku, seolah-olah luka itu adalah bagian dari desainnya.
"Pak Devan bilang," Sandra melanjutkan, "bahwa sejarah tidak boleh disembunyikan, tapi harus dirayakan."
Aku menyentuh bordir perak itu. Air mata yang sejak pagi kutahan akhirnya jatuh. Bukan karena sedih, tapi karena merasa dilihat. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, ada seseorang yang tidak memintaku untuk "memperbaiki" diri, melainkan memintaku untuk tampil apa adanya.
"Apakah ini akan memicu skandal?" tanyaku pelan.
"Mungkin," jawab Sandra dengan senyum tipis. "Tapi Pak Devan sangat menyukai skandal yang terencana dengan baik."
Malam itu, saat makan malam berdua di meja makan yang panjang, suasana terasa berbeda. Tidak ada kontrak di antara kami, hanya denting sendok dan garpu.
"Terima kasih untuk gaunnya," ucapku memecah kesunyian.
Devan mendongak, menatapku dengan sorot mata yang sedikit lebih hangat. "Itu hanya gaun, Alika."
"Bagi kau mungkin hanya gaun. Bagiku, itu adalah pernyataan perang terhadap ekspektasi ibumu."
Devan meletakkan alat makannya. "Bagus. Karena perang yang sebenarnya akan dimulai lusa, saat resepsi pernikahan. Seluruh media akan ada di sana. Dan aku ingin kau berjalan di sampingku dengan kepala tegak. Bisakah kau melakukannya?"
Aku menatap tanganku sendiri—tangan yang penuh noda cat, tangan yang memiliki luka permanen. Lalu aku menatap Devan, pria yang mungkin memulai semua ini sebagai transaksi, namun kini memberiku senjata untuk melawan duniaku sendiri.
"Aku akan melakukannya," jawabku mantap. "Bukan untukmu, tapi untuk diriku sendiri."
Devan mengangguk pelan, sebuah pengakuan yang lebih berharga daripada kata-kata cinta manapun saat ini. "Itu jawaban yang aku harapkan."
Namun, jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu ada satu variabel yang belum muncul. Bella. Aku tahu kakakku tidak akan tinggal diam melihat "si bayangan" mengambil alih panggung utamanya, lengkap dengan pria yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Ibu... aku tahu tamparan tadi pagi hanyalah permulaan dari usahanya untuk menarikku kembali ke bawah kendalinya.
Malam itu, aku tidur dengan perasaan yang aneh. Aku berada di wilayah musuh, menikah dengan pria yang kaku, namun untuk pertama kalinya, aku merasa bebas. Aku adalah Alika, sang istri pengganti yang baru saja menyadari bahwa ia punya kekuatan untuk mengganti takdirnya sendiri.
Pernikahan lusa bukan hanya tentang janji suci, tapi tentang pembuktian. Dan aku akan memastikan bahwa dunia melihat warna asliku, meski warna itu penuh dengan bekas luka. Sebab, seperti lukisanku, keindahan seringkali muncul dari goresan yang paling menyakitkan.
Besok adalah hari terakhirku sebagai seorang "pengganti". Lusa, aku akan menjadi Nyonya Adiguna yang sesungguhnya—dengan segala konsekuensi dan badai yang menyertainya. Aku siap. Aku harus siap.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar