Tiga hari setelah penandatanganan kontrak itu, rumah keluargaku berubah menjadi bengkel transformasi yang hiruk-pikuk. Sejak fajar menyingsing, ruang tamu telah disulap menjadi studio kecantikan dadakan. Deretan gaun mewah bergantung di rak besi, sepatu hak tinggi dengan kristal yang menyilaukan mata berjejer di atas meja, dan aroma parfum mahal bercampur dengan bau menyengat dari produk penata rambut.
Ibu tampak sangat antusias, ia mondar-mandir memastikan semua orang bekerja dengan cepat. "Ingat, Alika harus terlihat sempurna. Kulitnya harus bersinar, rambutnya jangan sampai ada yang mencuat. Devan Adiguna akan menjemputnya jam tujuh malam untuk makan malam keluarga besar," instruksi Ibu pada tim perancang yang dikirim oleh Devan.
Aku duduk diam di depan cermin besar, dikelilingi oleh tiga orang yang sibuk dengan wajah dan rambutku. Seorang wanita bernama Sandra, yang sepertinya adalah kepala perancang busana, menatapku dari balik kacamata frame tebalnya. Ia memegang daguku, memutar wajahku ke kiri dan ke kanan dengan gerakan yang tidak personal, seolah aku adalah manekin kayu.
"Wajahnya sangat artistik, tapi auranya terlalu redup," gumam Sandra. "Kita butuh makeup yang berani untuk menutupi sifat pendiamnya. Kita harus membuatnya terlihat seperti wanita yang setara dengan Devan Adiguna."
Aku hanya menatap pantulan diriku di cermin. Di bawah sapuan kuas dan bedak mahal, aku merasa Alika yang asli perlahan menghilang. Mereka mencoba melukis wajah baru di atasku—wajah yang diinginkan dunia, wajah yang bisa bersaing dengan bayangan Bella.
"Tolong, pilihkan gaun dengan lengan panjang," ucapku lirih saat Sandra mulai memilah-milah gaun.
Ibu segera mendekat, wajahnya berubah tegang. "Alika, jangan konyol. Gaun malam yang dikirim Devan rata-rata bermodel off-shoulder atau sleeveless. Itu tren musim ini. Kau akan terlihat kuno jika memakai lengan panjang di acara seperti itu."
"Tapi Ibu tahu kenapa aku memakainya," balasku, suaraku sedikit meninggi. Mataku melirik ke arah lengan kiriku yang masih tersembunyi di balik piyama katun.
"Gunakan concealer tebal atau apapun!" potong Ibu, suaranya mengandung nada putus asa yang menyakitkan. "Alika, ini malam pertamamu muncul sebagai tunangan Devan. Jangan biarkan satu cacat kecil merusak segalanya. Fokuslah pada gambaran besarnya."
Sandra, yang rupanya memiliki telinga yang tajam, mendekat ke arahku. "Ada apa dengan lenganmu, Sayang?"
Tanpa permisi, ia menarik lengan bajuku. Aku terkesiap, mencoba menarik tangan, namun terlambat. Bekas luka bakar yang kemerahan dan bertekstur itu terekspos di bawah lampu studio yang terang. Sandra terdiam sejenak. Para asistennya saling berpandangan. Keheningan itu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulitku.
"Ini..." Sandra menyentuh pinggiran luka itu dengan ujung jarinya yang dingin. "Bisa ditutupi dengan teknik airbrush dan kosmetik medis khusus. Tapi butuh waktu."
"Lakukan apapun," perintah Ibu sebelum aku sempat bersuara. "Pastikan tidak ada yang melihatnya."
Selama empat jam berikutnya, aku mengalami proses yang menyiksa. Tubuhku diolesi berbagai macam cairan, lenganku disemprot dengan lapisan kosmetik yang tebal hingga luka itu benar-benar rata dengan warna kulitku yang lain. Rasanya kaku, kering, dan palsu. Aku merasa seperti sedang memakai topeng di seluruh tubuhku.
Saat matahari mulai terbenam, Sandra memintaku berdiri untuk mengenakan gaun terakhir. Sebuah gaun berwarna emas pucat dari bahan sutra charmeuse yang memeluk tubuhku dengan pas. Gaun itu tanpa lengan, memperlihatkan pundakku yang kecil dan lengan kiriku yang kini tampak mulus sempurna—sebuah kebohongan yang indah.
"Kau terlihat luar biasa," bisik Ibu dengan mata berkaca-kaca. Tapi aku tahu, ia tidak melihat Alika. Ia melihat kesuksesan rencananya. Ia melihat keselamatan finansial keluarga kami.
Pukul tujuh malam tepat, suara mesin mobil mewah menderu di depan rumah. Devan datang.
Aku menuruni tangga dengan hati-hati, berpegangan pada sisa-sisa keberanian yang kupunya. Devan berdiri di ruang tamu, mengenakan tuksedo hitam yang membuatnya terlihat semakin tak terjangkau. Saat ia melihatku, langkahnya terhenti. Matanya menelusuri penampilanku, berhenti cukup lama di lenganku yang terbuka.
Ia berjalan mendekat, aromanya yang khas menyapa indra penciumanku. "Sandra melakukan tugasnya dengan baik," ucapnya pendek. Pujian itu tidak terdengar seperti pujian, melainkan seperti penilaian terhadap hasil kerja karyawannya.
"Terima kasih," jawabku singkat, mencoba menahan getaran di suaraku.
"Ayo berangkat. Ibuku tidak suka menunggu," katanya tanpa menawarkan lengan untuk kugandeng. Ia berbalik dan berjalan menuju mobil. Aku mengikuti dari belakang, merasa seperti bayangan yang mengekor pada tuannya.
Di dalam mobil, suasana sangat hening. Hanya ada suara deru ban di atas aspal. Devan sibuk dengan tablet di tangannya, meninjau beberapa laporan bisnis seolah-olah aku tidak ada di sampingnya.
"Apakah kau akan terus mengabaikanku sepanjang malam nanti?" tanyaku akhirnya, memecah keheningan yang menyesakkan.
Devan tidak mengalihkan pandangannya dari layar. "Aku sedang bekerja, Alika. Malam ini kau hanya perlu tersenyum, mengangguk pada ucapan Ibuku, dan tidak mengatakan hal-hal yang tidak perlu. Tugasmu sangat sederhana."
"Bagimu mungkin sederhana. Tapi bagiku, ini adalah sandiwara yang melelahkan," sahutku, menoleh ke arah jendela yang menampilkan lampu-lampu kota yang buram.
Devan mematikan tabletnya, lalu menoleh padaku. Cahaya lampu jalan yang masuk ke mobil memberikan efek dramatis pada wajahnya yang tegas. "Kau pikir aku menyukai sandiwara ini? Aku lebih suka berada di kantorku daripada harus meladeni pertanyaan keluarga besar tentang kenapa calon istriku tiba-tiba berganti. Kita berdua terjebak dalam hal ini, Alika. Perbedaannya, aku memilih untuk bersikap profesional sementara kau memilih untuk mengeluh."
"Aku tidak mengeluh. Aku hanya merasa... kehilangan diriku sendiri," bisikku. Aku menyentuh lengan kiriku. Lapisan kosmetik tebal itu terasa berat. "Kau menyuruh mereka menutupi lukaku. Kau ingin aku menjadi versi sempurna yang tidak ada."
Devan terdiam sejenak. Matanya tertuju pada tangan yang menyentuh lengan itu. "Aku tidak menyuruh mereka menutupi lukamu. Aku hanya menyuruh mereka memastikan kau terlihat pantas untuk acara malam ini. Jika kau merasa luka itu adalah bagian dari dirimu, kenapa kau tidak menunjukkannya saja tadi?"
Pertanyaannya memukulku tepat di ulu hati. Kenapa aku tidak menunjukkannya? Karena aku takut. Aku takut ditolak, takut dipermalukan, dan takut menghancurkan harapan orang tuaku. Aku menyadari bahwa pengkhianat terbesarku bukanlah Devan atau Bella, melainkan rasa rendah diriku sendiri.
Mobil berhenti di depan sebuah restoran mewah yang telah dipesan secara privat. Di pintu masuk, segerombolan fotografer mencoba mengambil gambar, namun dicegah oleh pengawal Devan. Inilah dunia yang akan kujalani—dunia di mana setiap gerak-gerikku akan dinilai oleh mata-mata yang tak terlihat.
Kami memasuki ruangan VVIP. Di sana, sudah duduk seorang wanita paruh baya yang tampak sangat anggun namun memiliki sorot mata yang tajam seperti elang. Nyonya Adiguna, ibu Devan.
"Jadi, inilah penggantinya," ucap Nyonya Adiguna saat kami mendekat. Ia tidak berdiri untuk menyambutku. Ia hanya menatapku dari atas ke bawah dengan pandangan yang membuatku ingin menghilang.
Devan menarikkan kursi untukku, sebuah gerakan formalitas yang terasa kaku. "Ini Alika, Ma. Putri kedua keluarga Hardi."
"Aku tahu siapa dia," sahut Nyonya Adiguna dingin. "Dia yang selalu bersembunyi di balik punggung Bella, kan? Gadis yang lebih suka mencoret-coret kertas daripada bersosialisasi."
Aku merasakan darahku berdesir. "Saya melukis, Tante. Bukan sekadar mencoret-coret," koreksiku dengan suara setenang mungkin.
Nyonya Adiguna mengangkat alisnya, tampaknya terkejut dengan keberanianku untuk menjawab. "Melukis, ya? Baguslah. Setidaknya kau punya hobi yang tenang. Tapi di keluarga Adiguna, kita tidak butuh seniman. Kita butuh pendamping yang bisa menjaga wibawa. Devan, apa kau yakin dia bisa menangani pers? Bella punya pengalaman bertahun-tahun di depan kamera. Adik kecilnya ini terlihat seperti ingin pingsan hanya karena aku menatapnya."
Devan menyesap air putihnya dengan tenang. "Dia akan belajar, Ma. Alika punya kecerdasan yang berbeda dari Bella. Dan dalam situasi kita sekarang, stabilitas lebih penting daripada popularitas."
Makan malam berlangsung dengan penuh tekanan. Nyonya Adiguna terus melemparkan pertanyaan-pertanyaan tajam tentang pendidikanku, pandangan politikku, hingga seleraku dalam berpakaian. Setiap jawabanku dipatahkan atau dibandingkan dengan "apa yang biasanya Bella lakukan".
Di tengah percakapan, aku merasa lenganku mulai gatal. Reaksi alergi terhadap bahan kimia kosmetik tebal yang menyumbat pori-poriku mulai terasa. Aku mencoba menahannya, namun rasa gatal itu semakin menyiksa, berubah menjadi rasa panas yang membakar.
"Kau baik-baik saja?" bisik Devan di sampingku, rupanya ia menyadari kegelisahanku.
"Aku perlu ke kamar mandi," pamitku pada Nyonya Adiguna tanpa menunggu jawaban.
Aku setengah berlari menuju toilet. Di depan wastafel yang mewah, aku segera membasahi lenganku dengan air. Aku mengambil sabun dan mulai menggosok lapisan concealer itu dengan kalap. Aku tidak peduli jika aku merusak makeup wajahku atau membasahi gaun mahalku. Aku hanya ingin kulitku bernapas. Aku ingin melihat diriku yang asli.
Sedikit demi sedikit, warna kemerahan dari bekas luka itu mulai muncul kembali. Aku menatapnya di cermin. Luka itu tampak begitu jujur dibandingkan dengan semua kemewahan yang kupakai malam ini. Air mata mulai mengalir di pipiku, merusak riasan mataku yang sempurna.
"Alika?"
Aku tersentak dan berbalik. Devan berdiri di ambang pintu toilet wanita yang untungnya sedang kosong. Ia menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan. Matanya jatuh pada lenganku yang kini basah dan berantakan, dengan bekas luka yang terlihat jelas.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya, suaranya tidak lagi sedingin tadi.
"Aku tidak bisa, Devan," isakku, menyandarkan tubuhku ke wastafel. "Aku tidak bisa menjadi Bella. Aku tidak bisa menjadi istri yang sempurna untukmu atau menantumu yang luar biasa. Aku hanya Alika dengan luka ini. Jika kau menginginkan kesempurnaan, kau seharusnya mengejar kakakku sampai ke ujung dunia!"
Devan berjalan mendekat. Ia tidak berhenti sampai ia berdiri tepat di hadapanku. Ia mengambil tisu dari kotak di samping wastafel, lalu perlahan menyeka air mata di pipiku. Gerakannya sangat canggung, seolah ia tidak terbiasa menyentuh seseorang dengan kelembutan.
"Aku tidak pernah memintamu menjadi Bella," ucapnya rendah. "Ibuku yang menginginkan itu. Dan aku membiarkannya karena kupikir itu yang kau inginkan juga—untuk menutupi kekuranganmu."
"Ini bukan kekurangan," potongku, meski suaraku bergetar. "Ini adalah bukti bahwa aku pernah menyelamatkan nyawa seseorang. Tapi di dunia kalian, ini dianggap sampah."
Devan terdiam lama, menatap bekas luka di lenganku. "Adiguna Group tidak dibangun di atas kesempurnaan, Alika. Ia dibangun di atas luka-luka persaingan bisnis yang kejam. Ayahku memiliki banyak luka yang tidak terlihat, begitu juga aku."
Ia meraih tanganku, jari-jarinya yang hangat menyentuh bekas luka bakar itu tanpa rasa jijik. "Jika kau tidak nyaman dengan riasan ini, hapus semuanya. Kita akan kembali ke meja makan dan menunjukkan pada Ibuku bahwa putra-nya telah memilih wanita yang punya nyali untuk menjadi dirinya sendiri."
Aku menatap matanya, mencari kebohongan di sana, namun yang kutemukan hanyalah ketegasan yang jujur. "Kau serius? Ibumu akan murka."
"Biarkan saja. Dia perlu tahu bahwa pilihanku kali ini bukan sekadar transaksi, tapi sebuah keputusan yang tidak bisa ia dikte," Devan mengambil sapu tangan dari sakunya dan memberikannya padaku. "Bersihkan wajahmu. Aku akan menunggumu di luar."
Saat Devan keluar, aku berdiri terpaku. Untuk pertama kalinya, aku melihat celah di balik dinding es pria itu. Ada sesuatu di sana—bukan cinta, belum—tapi sebuah rasa hormat yang baru tumbuh.
Aku membersihkan sisa-sisa kosmetik di lenganku, membiarkan luka itu terlihat apa adanya. Aku merapikan rambutku, menghapus sisa maskara yang luntur, dan keluar dari toilet dengan kepala tegak.
Saat kami kembali ke meja makan, Nyonya Adiguna langsung tertuju pada lenganku yang terbuka. Matanya membelalak, ia meletakkan garpunya dengan denting yang keras. "Devan! Apa-apaan ini? Kenapa kau membiarkan dia kembali dengan penampilan... seperti itu?"
Devan duduk dengan tenang, meraih tanganku di atas meja dan menggenggamnya erat di depan ibunya. Sebuah tindakan yang membuat jantungku hampir melompat keluar.
"Ini Alika, Ma. Dia bukan pajangan. Luka itu adalah bagian dari sejarahnya, dan mulai sekarang, itu adalah bagian dari sejarahku juga. Jika Mama tidak bisa menghargai wanita yang akan menjadi menantu Mama, maka mungkin malam ini kita cukupkan sampai di sini."
Nyonya Adiguna terbungkam. Ia menatap putranya seolah melihat orang asing. Selama ini, Devan selalu menurut pada standar keluarga. Namun malam ini, demi seorang 'pengganti', ia melanggar aturan tak tertulis itu.
Makan malam itu berakhir dengan ketegangan yang berbeda. Tidak ada lagi pertanyaan menghina. Nyonya Adiguna hanya diam, tampak sedang memproses perlawanan putranya.
Di perjalanan pulang, Devan melepaskan genggaman tangannya. Suasana kembali kaku, namun kali ini terasa lebih ringan bagiku.
"Terima kasih untuk tadi," bisikku.
"Jangan salah paham," sahut Devan tanpa menoleh, matanya kembali ke layar tablet. "Aku melakukannya karena aku benci jika orang lain mendikte keputusanku, termasuk Ibuku sendiri. Kita masih dalam kontrak, Alika. Ingat itu."
Aku tersenyum tipis. "Aku tahu. Tapi setidaknya, malam ini aku tidak perlu merasa seperti orang lain."
Devan tidak menjawab, namun aku sempat melihat sudut bibirnya sedikit terangkat sebelum ia kembali ke wajah datarnya. Di bawah lampu jalan yang silih berganti, aku menyadari bahwa pernikahan ini mungkin akan menjadi perang, namun setidaknya aku sudah memenangkan pertempuran pertamaku: pertempuran untuk diakui sebagai diriku sendiri.
Di dalam kamar malam itu, aku tidak melukis kesedihan. Aku mengambil kanvas baru dan menggoreskan warna perak yang tajam di atas dasar biru tua. Warna perak itu seperti pedang, membelah kegelapan. Aku bukan lagi bayang-bayang yang ketakutan. Aku adalah Alika, dan aku baru saja menemukan sekutu yang paling tak terduga dalam diri suamiku sendiri.
Namun, di kejauhan, aku tahu Bella masih ada di sana, dan Ibumu tidak akan tinggal diam. Konflik yang sebenarnya baru saja akan dimulai saat pernikahan kami benar-benar terlaksana minggu depan. Dan aku harus siap, dengan atau tanpa riasan yang menutupi lukaku.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar