Pagi itu, Jakarta diselimuti mendung tipis, seolah langit turut berempati pada beban yang menghimpit pundakku. Sesuai instruksi dalam pesan singkat semalam, sebuah sedan hitam mewah sudah terparkir di depan gerbang rumah tepat pukul sepuluh pagi. Ayah dan Ibu melepas keberangkatanku dengan senyum yang dipaksakan, seolah mereka sedang mengantar tumbal menuju altar persembahan demi kelangsungan dinasti kecil kami yang nyaris runtuh.
Aku duduk di kursi belakang, meremas jemariku sendiri. Bekas luka di lengan kiriku terasa berdenyut, meski itu hanya sensasi psikologis. Aku sengaja mengenakan blus sutra berwarna biru dongker dengan lengan balon yang lebar, memastikan tak ada satu inci pun kulit lenganku yang terekspos. Aku merasa seperti penyelundup yang membawa barang terlarang di tubuhku sendiri.
Mobil berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit dengan fasad kaca yang memantulkan cahaya perak. Kantor pusat Adiguna Group. Tempat di mana nasib ribuan orang ditentukan, dan kini, tempat di mana nasibku akan disegel dalam sebuah dokumen legal.
Sekretaris Devan, seorang wanita paruh baya dengan sanggul rapi dan wajah tanpa ekspresi, menuntunku menuju lantai paling atas. Pintu ganda berbahan kayu jati terbuka, memperlihatkan ruangan luas yang didominasi warna monokrom. Devan Adiguna duduk di balik meja kerja yang sangat besar, membelakangi pintu sambil menatap pemandangan kota dari balik dinding kaca.
"Duduklah, Alika," suaranya terdengar tanpa menoleh. Dingin dan berwibawa.
Aku duduk di kursi kulit di hadapannya. Aroma kopi pahit dan wangi kayu cendana memenuhi udara. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan sebelum Devan memutar kursinya. Matanya yang tajam langsung mengunci mataku, membuatku merasa kecil dan tak berdaya.
Di atas meja, terdapat sebuah map kulit berwarna hitam. Devan mendorongnya perlahan ke arahku.
"Itu adalah kontrak pranikah," ujarnya datar. "Bacalah dengan teliti. Aku bukan orang yang suka membuang waktu untuk negosiasi ulang di kemudian hari."
Aku membuka map itu dengan tangan gemetar. Butir demi butir pasal tertulis di sana dengan bahasa hukum yang kaku. Pernikahan ini akan berlangsung selama waktu yang tidak ditentukan, namun ada satu poin yang membuat jantungku mencelos: Pihak kedua (Alika) wajib menjalankan peran sebagai istri sah di depan publik dan keluarga, menjaga nama baik Adiguna Group, dan tidak diperbolehkan memiliki hubungan romantis dengan pihak lain selama ikatan ini berlangsung.
Namun, tidak ada satu kata pun tentang hak-hakku sebagai istri secara emosional. Tidak ada janji tentang perlindungan batin. Baginya, ini murni transaksi bisnis.
"Kau menggantikan Bella," lanjut Devan, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Secara teknis, kau adalah kompensasi atas kerugian yang ditimbulkan oleh kakakmu. Aku sudah menginvestasikan banyak hal dalam aliansi ini. Pernikahan kita bulan depan akan menjadi acara terbesar tahun ini. Aku tidak peduli siapa yang berdiri di sampingku di pelaminan nanti, selama marga Hardi tetap terikat denganku."
Kalimatnya terasa seperti tamparan. "Aku bukan barang kompensasi, Mas Devan," suaraku keluar lebih berani dari yang kukira, meski ada getaran di ujungnya.
Devan menaikkan satu alisnya, tampak sedikit terkejut dengan keberanianku. "Lalu kau ingin disebut apa? Pahlawan keluarga? Gadis yang rela berkorban demi perusahaan ayahnya?" Ia terkekeh sinis. "Jangan terlalu dramatis, Alika. Kita berdua tahu posisi kita masing-masing. Kau butuh uang dan perlindungan namaku untuk menyelamatkan Ayahmu, dan aku butuh stabilitas citra perusahaan."
Aku menunduk, menatap jemariku yang kini memucat. "Apakah kau begitu membenci Bella hingga kau bersedia menikahiku hanya untuk membalas dendam?"
"Membenci?" Devan berdiri dan berjalan perlahan menuju dinding kaca. "Untuk membenci seseorang, kau harus memiliki perasaan padanya. Bella hanyalah pilihan yang paling logis saat itu karena popularitasnya. Namun sekarang, kau adalah pilihan yang tersisa. Bagiku, emosi adalah variabel yang mengganggu pekerjaan. Aku harap kau bisa memahami itu."
Ia berbalik, menatapku dengan sorot mata yang seolah bisa menembus kulitku. "Satu hal lagi. Aku tahu kau seorang pelukis. Di rumahku nanti, kau boleh melukis sesukamu. Tapi ingat satu hal: jangan pernah membawa kekacauan emosionalmu ke ruang pribadiku. Aku tidak suka gangguan."
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadaku. "Jika aku menandatangani ini, apakah kau berjanji akan membantu perusahaan Ayah?"
"Utang-utang ayahmu akan segera dikonversi menjadi saham atas namaku hari ini juga setelah kau membubuhkan tanda tangan. Keluargamu akan aman."
Aku mengambil pulpen yang terletak di atas meja. Beratnya terasa seperti berton-ton. Dengan satu goresan tinta, aku baru saja menjual masa mudaku, impianku tentang cinta sejati, dan kebebasanku. Aku menandatanganinya. Alika Hardi, sang istri pengganti.
"Bagus," ucap Devan pendek saat aku menyerahkan kembali map itu. "Mulai besok, tim perancang busana dan penata rias akan datang ke rumahmu. Mereka harus bekerja ekstra keras untuk 'menyesuaikan' penampilanmu agar setara dengan standar yang diharapkan publik dari seorang istri Devan Adiguna."
Lagi-lagi, ia menyerang kepercayaan diriku. "Maksudmu, aku tidak cukup baik seperti kakakku?"
Devan berjalan mendekat, berhenti tepat di depanku. Ia membungkuk sedikit sehingga wajahnya sejajar denganku. Untuk sesaat, aku bisa melihat pantulan diriku di matanya—sosok gadis yang tampak ketakutan namun memiliki binar api di matanya.
"Kau berbeda dari Bella, Alika. Bella adalah pajangan yang berkilau. Kau... kau lebih seperti teka-teki yang suram. Aku tidak suka teka-teki, tapi aku harus menyelesaikannya karena sudah terlanjur membeli kotaknya."
Ia kemudian meraih tangan kiriku yang tertutup lengan baju. Aku tersentak, mencoba menariknya kembali, namun genggamannya kuat.
"Kenapa kau selalu memakai baju tertutup ini? Bahkan di ruangan dengan pendingin udara yang dingin ini, kau tampak seperti sedang bersembunyi," tanyanya dengan nada yang sedikit lebih rendah, hampir seperti bisikan.
"Itu bukan urusanmu," jawabku cepat, jantungku berdegup kencang.
"Sekarang kau adalah milikku, Alika. Apapun yang kau sembunyikan di bawah kain ini, pada akhirnya akan menjadi urusanku."
Ia melepaskan tanganku begitu saja, seolah-olah tanganku adalah benda mati yang tak lagi menarik minatnya. "Kau boleh pergi. Supir akan mengantarmu pulang. Siapkan dirimu untuk pertemuan keluarga besar minggu depan. Jangan membuatku malu."
Aku berdiri dengan kaki lemas. Aku keluar dari ruangan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Di lorong yang panjang dan sunyi, aku menyentuh lengan kiriku. Ada rasa panas yang merambat dari bekas luka itu ke seluruh tubuhku.
Sepanjang perjalanan pulang, aku menatap keluar jendela. Jakarta tampak seperti labirin raksasa yang tidak memiliki pintu keluar. Aku teringat pada lukisanku yang belum selesai di rumah—sebuah gambar burung dalam sangkar emas yang pintunya terbuka, namun burung itu tidak terbang keluar karena sayapnya telah patah.
Kini, akulah burung itu.
Sesampainya di rumah, Ibu menyambutku dengan antusiasme yang menyakitkan. "Bagaimana, Alika? Devan baik padamu, kan? Dia memberikan kontrak yang bagus? Ayah baru saja mendapat telepon bahwa dana talangan sudah cair!"
Ibu memelukku erat, namun aku merasa seperti dipeluk oleh kawat berduri. Mereka tidak bertanya bagaimana perasaanku. Mereka tidak bertanya apakah aku sanggup hidup dengan laki-laki yang menganggapku sebagai "barang cacat" atau "teka-teki suram".
Aku melepaskan pelukan Ibu dengan lembut. "Aku lelah, Bu. Aku ingin ke kamar."
Di dalam kamar, aku langsung menuju kanvas besarku. Aku mengambil palet dan mencampurkan warna hitam, abu-abu, dan sedikit percikan warna merah darah. Aku mulai menggoreskan kuas dengan kasar. Aku melukiskan wajah seorang pria dengan mata yang sedingin es, namun di balik mata itu, aku menggambar sebuah bayangan kecil yang meringkuk ketakutan.
Aku menyadari satu hal pahit hari ini. Devan bukan hanya sekadar laki-laki kaku; dia adalah pria yang telah mematikan sisi kemanusiaannya demi kekuasaan. Dan aku, dengan segala kerapuhanku, harus hidup berdampingan dengannya.
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku memikirkan kata-kata Devan tentang 'standar penampilan'. Aku berdiri di depan cermin besar, membuka kancing blusku satu per satu hingga lengan kiriku terekspos. Bekas luka bakar itu—berwarna kemerahan dan bertekstur kasar, memanjang dari siku hingga pergelangan tangan—tampak begitu kontras dengan kulitku yang pucat.
Luka ini didapat saat aku menyelamatkan Bella dari kebakaran di gudang belakang sepuluh tahun lalu. Saat itu, semua orang memuji keberanianku. Namun setelah lukanya mengering dan meninggalkan cacat, mereka mulai memintaku menutupinya. Mereka ingin melupakan kejadian itu, karena melihat lukaku berarti mengingat kecerobohan Bella yang bermain korek api.
"Kau menyelamatkannya, Alika. Tapi siapa yang akan menyelamatkanmu?" bisikku pada bayangan di cermin.
Telepon genggamku berdenting lagi. Kali ini bukan dari Devan, tapi dari Bella. Sebuah foto masuk lewat aplikasi pesan. Foto Bella yang sedang tersenyum lebar di depan Menara Eiffel, memegang segelas sampanye dengan seorang pria asing di sampingnya.
“Alika, aku dengar kau sudah menandatangani kontraknya. Baguslah. Setidaknya kau berguna untuk Ayah. Nikmati hidup mewahmu, Adikku sayang. Devan mungkin kaku, tapi hartanya tidak akan habis tujuh turunan. Anggap saja ini bayaran karena kau selalu menjadi adik yang membosankan.”
Aku meremas ponselku hingga buku-buku jariku memutih. Rasa sakit di dadaku kini berganti menjadi api kecil yang mulai membakar rasa rendah diriku. Bella tidak hanya meninggalkanku dalam kekacauan, dia mengejek pengorbananku.
Aku tidak akan menjadi bayang-bayang lagi. Jika Devan menginginkan istri yang sempurna, aku akan memberikannya peran itu, namun dengan caraku sendiri. Jika dunia menganggapku sebagai istri pengganti, maka aku akan memastikan bahwa penggantinya jauh lebih berharga daripada aslinya.
Aku kembali ke kanvasku. Kali ini, aku menambahkan warna emas yang berani di tengah kegelapan yang kulukis tadi. Warna emas itu kecil, namun ia bersinar paling terang.
"Permainan dimulai, Mas Devan," gumamku lirih.
Pintu kamarku diketuk. Ayah masuk dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih muda. "Alika, Ayah ingin bicara."
Ayah duduk di pinggir tempat tidurku. "Ayah tahu ini berat untukmu. Tapi Devan adalah pria yang bertanggung jawab. Dia mungkin terlihat dingin, tapi dia bisa menjamin masa depanmu."
"Masa depan seperti apa, Yah? Masa depan di mana aku hanya menjadi perisai untuk kesalahan Kak Bella?"
Ayah terdiam, menunduk lesu. "Ayah minta maaf. Ayah tidak punya pilihan lain."
"Kita selalu punya pilihan, Yah. Ayah hanya memilih pilihan yang paling mudah bagi Ayah, tapi paling sulit bagiku."
Ayah keluar dari kamar tanpa bisa membela diri. Kesunyian kembali melingkupiku. Aku tahu, mulai malam ini, aku benar-benar sendirian. Di rumah ini, di rumah Devan nanti, aku hanyalah alat. Namun alat pun bisa menjadi senjata jika berada di tangan yang tepat.
Aku akan masuk ke rumah Adiguna bukan sebagai Alika yang malang, tapi sebagai Alika yang akan menuntut setiap inci harga diri yang telah mereka ambil dariku. Jika Devan menganggapku teka-teki, maka aku akan menjadi teka-teki yang paling sulit ia pecahkan sepanjang hidupnya.
Besok, penata rias akan datang. Mereka akan mencoba mengubahku menjadi 'Bella kedua'. Tapi aku sudah memutuskan. Tidak akan ada Bella kedua. Hanya akan ada satu Alika, dengan segala luka dan kekuatannya yang tersembunyi.
Konflik antara aku dan Devan baru saja dimulai di atas meja kerja itu, dan aku tidak berniat untuk kalah dalam peperangan yang bahkan belum resmi dimulai. Pernikahan ini mungkin tanpa cinta, tapi aku akan memastikan pernikahan ini memiliki harga yang sangat mahal bagi siapapun yang meremehkanku.
Aku menutup mataku, membayangkan hari pernikahan itu. Hari di mana aku akan berjalan di koridor gereja, bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai wanita yang siap mengambil alih tahta yang ditinggalkan kakaknya dengan kepala tegak.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa takut. Aku merasa... siap.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar