Lantai marmer lobi gedung perkantoran di kawasan Sudirman itu berkilau tertimpa cahaya lampu kristal yang megah. Aira berdiri mematung di depan pintu kaca otomatis, jemarinya meremas tali tas kulitnya yang mulai mengelupas di beberapa sudut. Ini adalah langkah pertamanya kembali ke peradaban setelah tiga tahun mengubur diri dalam domestikasi yang beracun bersama Fahmi.
Ia menunduk, melihat pantulan dirinya di pintu kaca. Gamis berwarna hijau lumut dengan pashmina panjang yang menutup dada itu terasa asing, namun sekaligus memberikan rasa aman yang ganjil. Seolah-olah kain itu adalah perisai yang melindunginya dari tatapan menghakimi dunia—terutama tatapan Fahmi yang selalu menganggapnya sebagai pajangan yang gagal.
"Aira?"
Sebuah suara bariton yang tenang memecah lamunannya. Aira mendongak. Di sana, berdiri Adrian. Pria itu tampak tidak banyak berubah sejak terakhir kali Aira mengundurkan diri untuk menikah. Setelan jas abu-abu gelapnya tampak sempurna tanpa kerutan sedikit pun, mencerminkan kepribadiannya yang disiplin dan tertata. Namun, ada sesuatu yang berbeda di matanya saat menatap Aira—sebuah kilatan keterkejutan yang dengan cepat disembunyikan di balik ketenangan profesional.
"Pak Adrian," sapa Aira dengan suara yang masih sedikit bergetar. Ia menundukkan kepala, tidak berani menatap langsung mata pria yang dulu sempat menjadi mentornya itu.
"Mari, bicara di ruangan saya. Di sini terlalu ramai," ajak Adrian. Ia tidak berjalan terlalu dekat, menjaga jarak sopan yang membuat Aira merasa dihormati sebagai seorang wanita, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari Fahmi.
Di dalam lift yang bergerak senyap menuju lantai dua puluh, keheningan terasa mencekam. Aira merasa perutnya kembali bergejolak. Rasa mual itu muncul lagi, lebih kuat dari sebelumnya. Ia mati-matian menelan ludah, berusaha menekan rasa ingin muntah yang mendesak di pangkal tenggorokannya. Jangan sekarang, kumohon jangan sekarang, batinnya berdoa.
"Kamu tampak pucat, Aira. Apa kamu masih dalam masa pemulihan?" tanya Adrian tanpa menoleh, matanya terpaku pada angka digital yang terus merambat naik.
"Hanya... kurang tidur, Pak. Persidangan pertama kemarin cukup melelahkan," dusta Aira. Ia belum siap membagikan duka kehilangan bayinya, apalagi tentang malam terkutuk yang mungkin sedang bersemi di rahimnya.
Pintu lift berdenting terbuka. Mereka melangkah menuju ruang kerja Adrian yang luas dengan pemandangan cakrawala Jakarta yang abu-abu karena polusi. Adrian duduk di balik meja eksekutifnya, sementara Aira duduk di kursi di hadapannya, merasa sangat kecil.
"Saya sudah membaca berkas lamaranmu yang baru. Kamu memiliki kualifikasi yang luar biasa, Aira. Kamu adalah salah satu kreatif terbaik yang pernah saya miliki sebelum kamu memutuskan... berhenti," Adrian menjeda kalimatnya, seolah berhati-hati agar tidak menyinggung luka lama. "Namun, saya harus jujur. Posisi sekretaris direksi di Marrified Visuals bukan hanya soal mengatur jadwal. Ini soal menjaga rahasia perusahaan dan menghadapi tekanan tinggi. Apakah kamu siap, dengan status hukummu yang sekarang?"
Aira menarik napas dalam. "Pak Adrian, saya tidak punya pilihan selain siap. Saya butuh kemandirian ini untuk memenangkan hak saya di pengadilan. Saya tidak ingin lagi bergantung pada siapa pun yang menganggap saya tidak berharga."
Adrian terdiam cukup lama. Ia mengamati Aira, mencari keraguan di wajah wanita itu, namun yang ia temukan hanyalah keteguhan yang rapuh namun indah. "Baiklah. Saya akan memberikan masa percobaan tiga bulan. Mengenai penampilanmu yang sekarang..." Adrian memberi isyarat pada hijab Aira. "Saya menghargainya. Di perusahaan ini, kami menjunjung tinggi nilai-nilai yang kamu bawa sekarang. Mulailah hari ini."
Pekerjaan hari pertama ternyata jauh lebih berat dari yang dibayangkan Aira. Ia harus menyortir ratusan email, mengatur jadwal pemotretan untuk proyek rebranding sebuah hotel mewah, dan menghadapi tatapan sinis dari beberapa staf lama yang masih mengingatnya sebagai "si cantik yang berhenti kerja demi jadi istri orang kaya".
Namun, tantangan sebenarnya muncul di jam makan siang.
"Aira, ikut saya ke ruang meeting kecil. Ada berkas yang perlu kita tinjau," panggil Adrian.
Di dalam ruangan itu, ternyata sudah ada dua orang lain. Seorang pria dengan gaya flamboyan yang tampak tidak sabar, dan seorang wanita dengan riasan tebal yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Ini Evan, kakak saya, dan istrinya, Vika," Adrian memperkenalkan mereka dengan nada suara yang sedikit lebih kaku.
Vika mendongak dari ponselnya. Matanya memindai Aira dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan. "Oh, jadi ini sekretaris baru yang kamu banggakan itu, Adrian? Aku pikir kamu bakal cari yang lebih... segar. Dia kelihatan seperti habis bangun dari kubur."
"Vika, jaga bicaramu," tegur Adrian tajam.
"Kenapa? Aku cuma jujur. Dan kenapa dia pakai kerudung panjang begitu? Apa kantor ini sekarang jadi pesantren?" Vika tertawa renyah, suara yang terdengar seperti gesekan amplas di telinga Aira. "Adrian, ingat ya, uang yang kamu pakai buat bayar gaji karyawan itu juga ada saham milik Evan. Jangan sampai performa perusahaan turun cuma karena kamu mempekerjakan orang yang lagi depresi karena cerai."
Aira merasa darahnya mendidih, namun ia mengepalkan tangan di bawah meja. Ia tidak boleh goyah. Ia tidak boleh memberi mereka alasan untuk mendepaknya.
"Saya di sini untuk bekerja, Bu Vika. Hasil kerja saya yang akan bicara, bukan pakaian saya," ucap Aira dengan suara tenang namun tegas.
Evan, yang sedari tadi diam, hanya mengangkat bahu. "Terserah kamu saja, Adrian. Yang penting jatah dividen kami bulan depan jangan sampai terlambat. Vika baru saja memesan tas edisi terbatas dari Paris, dan dia tidak suka menunggu."
Setelah pasangan itu keluar dari ruangan dengan aroma parfum yang menyengat, suasana kembali hening. Adrian menghela napas panjang, tampak lelah.
"Maafkan mereka, Aira. Vika memang... sulit. Dia dan Evan merasa memiliki hak penuh atas setiap sen yang dihasilkan perusahaan ini, meskipun mereka jarang memberikan kontribusi nyata."
"Tidak apa-apa, Pak. Saya sudah terbiasa menghadapi orang-orang yang merasa lebih tinggi dari orang lain," jawab Aira pelan.
Namun, saat ia hendak berdiri untuk kembali ke mejanya, rasa mual itu kembali menghantam dengan kekuatan yang tak terbendung. Pandangannya menggelap. Dunia seolah berputar 360 derajat. Aira berusaha menggapai pinggiran meja, namun tangannya meleset.
"Aira!"
Lengan kokoh Adrian menangkap tubuhnya sebelum ia menyentuh lantai. Aira bisa merasakan detak jantung Adrian yang cepat di dekat bahunya. Kehangatan itu menjalar, namun Aira merasa sangat malu.
"Saya... saya minta maaf. Saya cuma pusing sedikit," bisik Aira, mencoba melepaskan diri dari dekapan Adrian.
"Tidak, kamu pucat sekali. Saya akan panggilkan dokter kantor."
"Jangan, Pak! Tolong... jangan," Aira memohon dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu, jika dokter kantor memeriksanya, rahasia itu mungkin akan terbongkar. Dan ia belum siap menghadapi kenyataan bahwa ia membawa benih Fahmi di saat ia sedang mencoba menghapus jejak pria itu.
Adrian menatapnya dengan intens, ada kecurigaan yang mulai tumbuh, namun ia juga melihat ketakutan yang mendalam di mata Aira. "Baiklah. Saya akan mengantarmu pulang. Ini perintah, bukan tawaran."
Di dalam mobil mewah Adrian, Aira hanya bisa menatap ke luar jendela. Hujan mulai turun membasahi Jakarta, menciptakan aliran air yang meliuk-liuk di kaca mobil—seperti air mata yang tak kunjung berhenti di hatinya.
"Aira," suara Adrian memecah kesunyian. "Kenapa kamu begitu takut periksa ke dokter? Apakah ada sesuatu yang tidak kamu ceritakan pada saya?"
Aira meremas ujung gamisnya. Haruskah ia jujur? Adrian adalah pria yang baik, tapi ia adalah atasannya. Bagaimana jika Adrian menganggap kehamilannya sebagai beban profesional? Atau lebih buruk lagi, bagaimana jika berita ini sampai ke telinga Fahmi melalui jaringan bisnis mereka?
"Saya hanya butuh waktu, Pak. Semuanya terjadi begitu cepat. Kehilangan bayi saya... perceraian ini... saya hanya butuh waktu untuk menata semuanya."
Adrian tidak mendesak lagi. Ia menghentikan mobilnya di depan lobi apartemen sederhana tempat Aira tinggal. Sebelum Aira turun, Adrian menyerahkan sebuah amplop kecil.
"Ini uang muka gajimu. Gunakan untuk membeli makanan yang bergizi. Saya tidak mau sekretaris saya pingsan lagi besok pagi."
Aira menerima amplop itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Pak Adrian. Anda... Anda terlalu baik."
"Bukan baik, Aira. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang pria terhadap wanita yang berjuang di jalan Tuhan," ucap Adrian dengan nada yang dalam, membuat jantung Aira berdegup tidak menentu.
Aira turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam apartemennya. Sesampainya di kamar, ia langsung menuju kamar mandi. Ia mengeluarkan sebuah alat uji kehamilan yang ia beli secara sembunyi-sembunyi di apotek tadi pagi.
Dengan tangan yang sangat gemetar, ia menunggu. Satu menit terasa seperti satu abad.
Lalu, ia melihatnya. Dua garis merah yang tegas.
Aira jatuh terduduk di lantai kamar mandi yang dingin. Ia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha meredam isak tangis yang meledak. Ia hamil. Di saat ia baru saja memulai langkah untuk merdeka, rantai masa lalu itu kembali mengikatnya dengan cara yang paling tidak terduga.
"Kenapa, Tuhan? Kenapa sekarang?" bisiknya di sela tangis.
Di luar, guntur menggelegar menyambar langit Jakarta. Di dalam rahimnya, sebuah kehidupan baru—mungkin seorang anak laki-laki yang sangat diinginkan Fahmi—sedang mulai tumbuh. Aira tahu, ini bukan sekadar kehamilan biasa. Ini adalah mahar luka yang harus ia jaga dengan nyawanya, sebelum Fahmi menyadarinya dan datang untuk merebut satu-satunya hal yang ia miliki.
Dan di kejauhan, di rumah mewahnya, Fahmi sedang menatap foto USG lama bayi mereka yang telah tiada dengan tatapan gelap. "Kamu tidak bisa lari dariku, Aira. Kamu punya sesuatu yang menjadi milikku, dan aku akan mengambilnya kembali, bagaimanapun caranya."
Konflik telah dimulai. Aira bukan lagi sekadar wanita yang patah hati; ia adalah seorang ibu yang sedang membangun benteng untuk perang yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar