Pagi di kantor Marrified Visuals biasanya diawali dengan aroma biji kopi yang baru digiling dan suara ketukan pantofel di atas lantai marmer. Namun bagi Aira, pagi ini terasa seperti medan perang yang diselimuti kabut. Setiap kali ia melangkah melewati lobi, ia merasa seolah mata Fahmi masih mengintai dari balik pilar-pilar beton gedung, meski pria itu sudah diusir kemarin.

Aira duduk di mejanya, tepat di luar pintu kaca ruangan Adrian. Ia mencoba memfokuskan pandangan pada layar monitor yang menampilkan jadwal pemotretan, namun tangannya secara tidak sadar bergerak mengusap perutnya yang masih rata. Di dalam sana, ada rahasia yang berdenyut—sebuah kehidupan yang secara biologis adalah milik masa lalunya, namun secara emosional adalah masa depannya.

"Aira, masuk sebentar."

Suara Adrian dari interkom membuyarkan lamunannya. Aira merapikan letak pashminanya, memastikan tidak ada helaian rambut yang keluar, lalu melangkah masuk.

Di dalam, Adrian tidak sendirian. Evan berdiri di dekat jendela, sementara Vika duduk di sofa kulit dengan kaki menyilang, memainkan kuku-kukunya yang dicat merah menyala. Atmosfer di ruangan itu terasa berat, seperti udara sesaat sebelum badai petir melanda.

"Duduklah, Aira," kata Adrian. Wajahnya tampak lebih lelah dari biasanya. Ada garis-garis ketegangan di dahinya yang tidak bisa disembunyikan oleh ketenangannya yang biasa.

"Ada apa, Pak?" tanya Aira, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar.

Vika mendengus, suara yang terdengar seperti sengatan lebah. "Adrian, kamu terlalu lunak. Biar aku saja yang bicara langsung. Begini, Aira... kami dengar kemarin ada 'tamu' yang membuat keributan di lobi. Seorang pria bernama Fahmi. Dia mengaku sebagai suamimu dan mengklaim kamu sedang mengandung anaknya. Benar begitu?"

Aira merasa darahnya membeku. Ia melirik Adrian, mencari perlindungan, namun Adrian hanya menatap meja dengan tangan tertangkup. Pria itu tampaknya sedang dikepung oleh argumen keluarganya sendiri sebelum Aira masuk.

"Itu urusan pribadi saya, Bu Vika. Tidak ada hubungannya dengan kinerja saya di sini," jawab Aira dengan suara yang dipaksakan tenang.

"Oh, tentu saja ada hubungannya!" Vika berdiri, melangkah mendekati Aira dengan aroma parfum yang menyesak. "Perusahaan ini sedang dalam proses negosiasi merger dengan investor dari Malaysia. Mereka sangat konservatif, sangat peduli pada citra perusahaan. Kalau mereka tahu sekretaris direktur utama terlibat skandal perebutan anak dengan pengusaha konstruksi yang punya reputasi buruk seperti Fahmi, kesepakatan itu bisa batal!"

Evan menimpali dari sudut ruangan, suaranya berat dan penuh tuntutan. "Adrian sudah mempertaruhkan banyak hal untukmu, Aira. Tapi keluarga kami tidak bisa membiarkan risiko ini tetap ada. Kami punya reputasi yang harus dijaga."

"Cukup, Evan. Vika," potong Adrian tajam. Ia berdiri, auranya yang dominan seketika memenuhi ruangan. "Aira adalah karyawan saya. Masalah pribadinya tidak akan mengganggu profesionalisme di kantor ini. Saya yang menjaminnya."

"Menjamin dengan apa, Adrian? Dengan kursimu sebagai direktur?" Vika tersenyum licik. "Kalau pria itu datang lagi dan membawa polisi atau pengacara, kamu mau apa? Melindungi wanita yang bahkan belum resmi cerai ini?"

Aira merasa dadanya sesak. Ia merasa seperti bidak catur yang sedang diperebutkan di atas papan yang penuh api. "Saya tidak akan membiarkan itu terjadi. Saya akan memastikan Fahmi tidak kembali lagi ke gedung ini."

"Bagus," kata Vika, matanya berkilat penuh kemenangan yang terselubung. "Tapi sebagai langkah preventif, aku ingin kamu menyerahkan laporan kesehatanmu minggu depan. Kami perlu memastikan sekretaris di sini dalam kondisi fit—termasuk tidak sedang menyembunyikan kondisi medis yang bisa jadi beban asuransi perusahaan."

Itu adalah skakmat. Vika tahu. Ia sedang memburu bukti kehamilan Aira melalui prosedur administratif.


Setelah Evan dan Vika keluar, ruangan itu mendadak terasa hampa. Adrian menghela napas panjang, lalu berjalan mendekati Aira. Ia berhenti sekitar satu meter darinya, menghormati ruang pribadi Aira yang kini terasa sangat rapuh.

"Maafkan mereka, Aira. Saya tidak bisa membungkam mulut mereka sepenuhnya karena mereka memiliki kursi di dewan komisaris," ucap Adrian pelan.

"Pak Adrian... apakah saya benar-benar menjadi beban?" suara Aira pecah. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mulai menggenang. "Mungkin... mungkin benar kata mereka. Saya seharusnya pergi saja sebelum keadaan makin kacau bagi Anda."

Adrian menggeleng tegas. "Tidak. Kamu tetap di sini. Jika kamu pergi sekarang, Fahmi akan menang. Vika akan menang. Dan saya... saya akan kehilangan satu-satunya orang di kantor ini yang bekerja dengan hati."

Adrian menarik sebuah laci dan mengeluarkan sebuah kartu nama dokter spesialis kandungan. "Ini dokter keluarga saya. Dokter Hanum. Dia sangat terpercaya dan sangat menjaga privasi. Pergilah ke sana sore ini. Saya sudah mengatur janji temu. Gunakan nama samaran jika perlu. Kita harus tahu pasti kondisi janinmu agar bisa mengambil langkah hukum yang tepat."

Aira menerima kartu itu. Sentuhan ujung jari Adrian saat memberikan kartu itu terasa seperti aliran listrik yang memberikan kekuatan baru. "Kenapa Anda melakukan ini semua untuk saya?"

Adrian menatap mata Aira dalam-dalam. "Karena saya tahu bagaimana rasanya kehilangan, Aira. Dan saya tidak ingin melihatmu kehilangan untuk kedua kalinya."


Sore itu, Jakarta diguyur hujan deras yang membuat jalanan macet total. Aira turun dari taksi di depan sebuah klinik eksklusif di daerah Menteng. Dengan hati yang berdebar, ia masuk dan menyebutkan janji temunya.

Dokter Hanum adalah wanita paruh baya yang tenang dan memiliki senyum yang menyejukkan. Di dalam ruang pemeriksaan yang remang-remang, Aira berbaring di atas bed. Cairan gel dingin diusapkan ke perutnya.

"Kita lihat ya..." Dokter Hanum menggerakkan transduser di atas perut Aira.

Layar monitor hitam-putih di samping bed mulai menampilkan gambar-gambar yang bagi orang awam hanya berupa bayangan kabur. Namun, di tengah bayangan itu, ada sebuah titik kecil yang berdenyut.

Deg. Deg. Deg.

Suara detak jantung itu memenuhi ruangan, bersahutan dengan suara hujan di luar. Aira terpaku. Itu adalah suara kehidupan. Suara yang dulu pernah ia dengar namun kemudian hilang dalam senyap di meja operasi.

"Kandungannya sangat kuat, Aira," kata Dokter Hanum lembut. "Usianya sekitar delapan minggu. Janinnya tumbuh dengan baik, meski ibunya tampaknya sedang sangat stres. Kamu harus makan lebih banyak protein."

Aira menutup mulutnya dengan tangan, isak tangisnya pecah. "Dia... dia benar-benar ada di sana, Dok?"

"Ya. Dia ada di sana. Dan dia sedang berjuang untuk hidup. Kamu juga harus berjuang untuknya."

Setelah pemeriksaan selesai, Dokter Hanum memberikan selembar foto USG. Aira menatap titik kecil itu dengan perasaan yang campur aduk antara cinta yang membuncah dan ketakutan yang mencekam. Ini adalah bukti nyata dari malam yang ingin ia lupakan, namun juga harapan yang ingin ia peluk selamanya.

Saat ia keluar dari ruang pemeriksaan, ia dikejutkan oleh sosok yang duduk di ruang tunggu yang sepi. Adrian.

Pria itu berdiri saat melihat Aira. Ia tidak bertanya apa-apa, hanya menatap wajah Aira yang sembap.

"Bagaimana?" tanya Adrian pendek.

Aira tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menunjukkan foto kecil itu. Adrian menerimanya, menatap gambar tersebut cukup lama. Untuk pertama kalinya, Aira melihat mata Adrian melunak, sebuah ekspresi kasih sayang yang tulus yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Dia akan aman bersama kita," bisik Adrian. Kata 'kita' itu menggantung di udara, memberikan rasa hangat yang asing di hati Aira.

Namun, saat mereka berjalan menuju pintu keluar, sebuah kilatan cahaya lampu kilat kamera mengejutkan mereka dari arah tempat parkir. Sebuah mobil hitam melaju kencang meninggalkan area klinik setelah mengambil foto mereka berdua.

Aira membeku. "Siapa itu, Pak?"

Adrian mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. "Vika. Atau orang suruhannya."

"Mereka mendapatkan fotonya, Pak. Jika foto kita keluar dari klinik ini tersebar, karir Anda..."

"Jangan pikirkan karir saya, Aira," potong Adrian tegas. Ia membukakan pintu mobil untuk Aira. "Pikirkan tentang bayi itu. Mulai detik ini, perang ini bukan lagi soal perceraianmu. Ini soal melindungi nyawa yang belum lahir ini dari orang-orang yang hanya melihatnya sebagai alat kekuasaan."


Malam itu, di rumah besarnya, Vika menatap layar ponselnya. Foto Adrian dan Aira yang keluar dari klinik kandungan tampak sangat jelas. Senyum iblis terukir di wajahnya.

"Satu foto, ribuan kehancuran," gumam Vika. Ia menekan sebuah nomor di ponselnya. "Halo, Tuan Fahmi? Saya punya sesuatu yang mungkin ingin Anda lihat. Sesuatu yang akan membuat Anda memiliki alasan kuat untuk menyeret mantan istri Anda kembali ke pelukan Anda... atau ke penjara."

Di sisi lain telepon, Fahmi meremas gelas wiski di tangannya hingga retak. "Kirimkan sekarang."

Konflik telah bergeser. Musuh Aira kini bukan lagi hanya suaminya yang terobsesi, tapi juga konspirasi harta yang melibatkan keluarga Adrian. Aira memeluk foto USG-nya di dalam kamar apartemen yang gelap, menyadari bahwa setiap detak jantung bayinya sekarang adalah hitung mundur menuju badai yang lebih besar. Ia harus belajar untuk tidak hanya menjadi penyintas, tapi menjadi pejuang. Karena mahar luka ini, takkan ia biarkan direbut oleh siapapun.