Dua garis merah itu seolah menatap balik ke arah Aira, menghakimi setiap jengkal keberanian yang baru saja ia bangun. Di dalam kamar mandi apartemen yang sempit, uap air dari keran yang bocor menciptakan suasana pengap yang mencekik. Aira menyandarkan punggungnya pada pintu kayu yang mulai lapuk, merasakan dinginnya permukaan itu meresap hingga ke tulang.

Bagaimana mungkin kehidupan bisa tumbuh dari sebuah kehancuran? Janin ini adalah paradoks; ia adalah harapan, namun di saat yang sama, ia adalah rantai besi yang menghubungkannya kembali pada Fahmi—pria yang baru saja ia tinggalkan di puing-puing rasa trauma.

"Tidak sekarang... kumohon, tidak sekarang," bisiknya parau. Isakannya tertahan di tenggorokan, berubah menjadi sedu-sedan yang menyesakkan dada.

Aira teringat wajah Fahmi saat mereka kehilangan bayi perempuan mereka. Dingin. Tanpa empati. Pria itu hanya menginginkan pewaris, sebuah trofi biologis untuk egonya. Jika Fahmi tahu Aira mengandung lagi, dan jika kali ini—sesuai obsesi gila pria itu—anak ini adalah laki-laki, maka Fahmi tidak akan pernah melepaskannya. Fahmi akan memburunya ke ujung dunia, bukan karena cinta, tapi karena hak milik.

Dengan tangan gemetar, Aira membungkus alat uji kehamilan itu dengan berlapis-lapis tisu, lalu menyembunyikannya di dasar tempat sampah, tertimbun oleh sisa-sisa duka yang ingin ia lupakan. Ia harus kuat. Untuk saat ini, rahasia ini adalah nyawanya.


Keesokan paginya, kantor Marrified Visuals sudah sibuk dengan hiruk-pikuk persiapan kampanye besar. Aira datang lebih awal, berusaha menutupi rona pucat di wajahnya dengan sedikit polesan kosmetik. Namun, rasa mual itu seperti alarm yang tak bisa dimatikan. Aroma kopi dari pantry yang biasanya ia sukai, kini terasa seperti bau belerang yang memicu gejolak di perutnya.

"Pagi, Aira. Kamu sudah mengisi jadwal untuk kunjungan ke lokasi syuting sore ini?"

Suara Adrian mengejutkannya. Pria itu berdiri di depan mejanya, memegang map dokumen. Hari ini Adrian mengenakan kemeja biru navy yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan perak yang melingkar elegan.

"Sudah, Pak. Jam empat sore di studio kawasan Jakarta Selatan," jawab Aira, berusaha menjaga nada suaranya tetap profesional meskipun kepalanya terasa ringan.

Adrian terdiam sejenak, matanya memicing menatap Aira. "Kamu yakin sudah sehat? Kalau kamu masih merasa pusing seperti kemarin, saya bisa meminta orang lain untuk mendampingi saya."

"Saya baik-baik saja, Pak. Hanya sedikit kurang darah. Saya sudah meminum vitamin," dusta Aira lagi. Ia tahu ia sedang menumpuk kebohongan, namun kebenaran adalah kemewahan yang belum sanggup ia bayar.

Adrian mengangguk pelan, meski gurat ragu masih tertinggal di wajahnya. "Bagus kalau begitu. Siapkan berkas kontrak untuk vendor kamera. Saya tunggu di ruangan saya sepuluh menit lagi."

Baru saja Aira hendak meraih map di mejanya, sebuah bayangan tinggi menutupi cahaya lampu di atasnya. Bukan Adrian, melainkan sosok yang membuat bulu kuduk Aira berdiri.

Fahmi.

Pria itu berdiri di lobi kaca yang membatasi area kerja staf, dipisahkan oleh resepsionis. Ia mengenakan kacamata hitam, namun Aira bisa merasakan tatapan tajam pria itu menembus kaca. Fahmi tidak berteriak, ia hanya berdiri di sana, menunjukkan kehadirannya seolah berkata: Aku tahu di mana kamu bersembunyi.

Jantung Aira berdegup kencang hingga terasa sakit di dada. Ia segera membuang muka, mencoba fokus pada layar komputer, namun jemarinya gemetar hebat hingga ia salah mengetik kata sandi berkali-kali.

"Aira, ada tamu untukmu di depan," panggil resepsionis melalui interkom internal.

Aira memejamkan mata. Ia ingin lari, tapi ini adalah tempat kerjanya yang baru. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan Adrian. Dengan langkah yang dipaksakan teguh, ia berjalan menuju area lobi.

"Mau apa kamu ke sini?" desis Aira saat jarak mereka hanya terpaut satu meter.

Fahmi melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan mata yang merah dan penuh amarah yang tertahan. "Kamu pikir apartemen murah itu bisa melindungimu? Aku suamimu, Aira. Secara hukum, kamu masih milikku sampai hakim mengetok palu."

"Gugatan sudah masuk, Fahmi. Jangan buat keributan di sini," ancam Aira pelan.

Fahmi terkekeh, suara tawa yang membuat Aira merasa kotor. "Keributan? Aku hanya ingin menjemput istriku yang sedang 'bermain' kerja-kerjaan. Dan dengar, Aira... aku tahu malam itu berhasil. Aku merasakannya. Kalau kamu benar-benar hamil, dan kamu mencoba menyembunyikan anakku, aku bersumpah akan mengambilnya dengan cara yang paling menyakitkan bagimu."

Aira merasa dunianya seolah runtuh. Bagaimana Fahmi bisa begitu yakin? Apakah itu hanya gertakan atau insting predatornya yang bicara?

"Jangan konyol. Tidak ada kehamilan. Aku stres karena perlakuanmu, dan itu menghancurkan segalanya," ucap Aira, berusaha menjaga wajahnya tetap datar sekeras batu.

Tepat saat itu, pintu ruang direksi terbuka. Adrian melangkah keluar, wajahnya mengeras saat melihat interaksi di lobi. Ia berjalan mendekat dengan aura otoritas yang dominan.

"Ada masalah di sini?" tanya Adrian dingin, posisinya berdiri sedikit di depan Aira, secara fisik menciptakan penghalang antara Aira dan Fahmi.

Fahmi menatap Adrian dari ujung kepala hingga ujung kaki, sebuah senyum meremehkan muncul. "Oh, jadi ini bos baru yang melindungimu, Aira? Pak Adrian yang terhormat... apakah Anda tahu kalau sekretaris Anda ini masih sah menjadi istri saya? Dan apakah Anda tahu kalau dia mungkin sedang membawa pewaris saya?"

Adrian tidak bergeming. Tatapannya tetap setajam silet. "Tuan Fahmi, ini adalah area privat perusahaan. Apa pun urusan rumah tangga Anda, silakan selesaikan di pengadilan. Jika Anda tidak segera meninggalkan tempat ini, tim keamanan saya akan menyeret Anda keluar dengan cara yang tidak terhormat. Dan mengenai 'istri', di mata hukum saya, dia adalah karyawan saya yang memiliki hak perlindungan penuh selama berada di gedung ini."

Fahmi mendengus, namun ia tahu ia tidak bisa melawan tim keamanan gedung ini sendirian. Ia menunjuk Aira dengan jari telunjuknya. "Ini belum selesai. Nikmati waktumu, Aira. Tapi ingat, apa yang menjadi milikku, akan tetap menjadi milikku."

Setelah Fahmi pergi, keheningan yang menyiksa menyelimuti lobi. Aira merasa lututnya lemas. Ia nyaris terjatuh jika Adrian tidak segera memegang sikunya.

"Masuk ke ruangan saya sekarang," perintah Adrian, suaranya tidak lagi dingin, tapi penuh dengan nada mendesak yang tak bisa dibantah.


Di dalam ruangan, Adrian menutup pintu rapat-rapat. Ia tidak duduk di kursinya, melainkan berdiri di depan jendela besar, membelakangi Aira.

"Apa yang dia katakan itu benar, Aira?"

Aira menunduk, air mata yang sejak tadi ia tahan kini menetes membasahi kerudungnya. "Dia... dia hanya ingin mengintimidasi saya, Pak."

Adrian berbalik, wajahnya menunjukkan perpaduan antara kemarahan dan kekhawatiran. "Bukan soal intimidasi. Soal tuduhannya bahwa kamu... hamil."

Hening yang panjang menyelimuti ruangan. Detik jam di dinding terdengar seperti dentuman drum di telinga Aira. Keberaniannya sedang diuji. Jika ia mengaku, ia melibatkan Adrian ke dalam kekacauan hidupnya. Jika ia berbohong, ia mengkhianati kepercayaan satu-satunya orang yang memberinya kesempatan kedua.

"Saya... saya tidak tahu, Pak," bisik Aira akhirnya. Itu adalah setengah kebenaran yang paling aman.

Adrian mendekat, suaranya melunak. "Aira, saya menawarkan pekerjaan ini bukan karena kasihan. Saya tahu bakatmu. Tapi saya juga tidak bisa membiarkanmu menghadapi monster seperti dia sendirian. Jika benar kamu sedang mengandung, kamu harus tahu bahwa itu bukan hanya urusan medis, tapi urusan keselamatanmu."

Adrian menghela napas, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih serius. "Keluarga saya, terutama Evan dan Vika, sedang mencari celah untuk menjatuhkan kredibilitas saya di depan dewan komisaris. Jika mereka tahu sekretaris saya terlibat drama hukum dan kehamilan yang rumit dengan pengusaha konstruksi seperti Fahmi, mereka akan menggunakan itu untuk menyerang saya. Tapi..."

Adrian menjeda, matanya menatap langsung ke dalam mata Aira yang basah. "Tapi saya tidak akan membiarkan itu terjadi. Saya akan melindungimu, dengan satu syarat: kejujuran mutlak."

Aira merasa terpojok, namun juga merasa ada tangan yang terulur di tengah jurang. "Pak Adrian... saya baru saja melakukan tes pagi ini. Hasilnya positif. Tapi saya mohon, jangan biarkan Fahmi tahu. Dia akan merebut bayi ini. Dia hanya menginginkan anak laki-laki, dia tidak peduli pada saya."

Adrian tertegun. Ia tidak menyangka dugaannya benar secepat ini. Namun, alih-alih menjauh, ia justru mengepalkan tangannya di atas meja. "Dia tidak akan menyentuhmu. Mulai besok, kamu akan bekerja dari ruangan ini, tepat di bawah pengawasan saya. Dan mengenai Vika... jangan pernah bicara sepatah kata pun padanya tentang hal ini."


Sore harinya, saat mereka menuju lokasi syuting, Aira merasa sedikit lebih tenang karena perlindungan Adrian. Namun, ia tidak tahu bahwa bahaya tidak hanya datang dari depan, tapi juga dari samping.

Di mobil lain, Vika sedang berbicara di telepon dengan seseorang. Wajahnya yang penuh riasan tampak licik saat ia mengamati mobil Adrian yang melaju di depannya dari kejauhan.

"Ya, aku melihatnya sendiri. Adrian menjemputnya dan mereka terlihat sangat dekat. Dan tadi ada pria asing yang datang mengamuk di kantor. Aku punya feeling ada sesuatu yang besar yang disembunyikan sekretaris baru itu," ucap Vika ke dalam ponselnya.

"Cari tahu siapa pria itu. Cari tahu latar belakang Aira sampai ke akar-akarnya. Aku tidak mau Adrian punya alasan untuk memperkuat posisinya di perusahaan dengan membawa 'wanita suci' yang ternyata punya skandal besar. Kalau perlu, hubungi pengacara keluarga kita. Kita akan buat drama ini menjadi akhir bagi posisi Adrian di Marrified Visuals."

Vika menutup teleponnya dengan senyum puas. Baginya, Aira hanyalah bidak catur yang bisa ia korbankan untuk mendapatkan kekuasaan penuh atas harta keluarga.

Sementara itu, di dalam mobil Adrian, Aira kembali merasakan mual. Kali ini, ia tidak menahannya. Ia meminta Adrian menepi. Saat ia muntah di pinggir jalan yang sepi, Adrian berdiri di sampingnya, memegang payung untuk melindunginya dari gerimis, sambil mengusap punggungnya dengan gerakan yang sangat canggung namun penuh perhatian.

"Terima kasih, Pak Adrian," ucap Aira setelah merasa lebih baik.

"Jangan berterima kasih pada saya, Aira. Berterima kasihlah pada Tuhan yang memberimu kekuatan untuk bertahan," jawab Adrian pelan.

Di bawah rintik hujan Jakarta, sebuah ikatan tanpa nama mulai terbentuk. Bukan lagi sekadar bos dan sekretaris, tapi dua jiwa yang sama-sama sedang dikepung oleh musuh dari dalam dan luar. Aira tahu, badai yang dibawa Fahmi baru saja dimulai. Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa tidak lagi berjalan sendirian di bawah bayang-bayang luka.