Bau karbol yang tajam menusuk indra penciuman Aira, bahkan sebelum ia benar-benar membuka mata. Kelopak matanya terasa seberat timah, lengket oleh sisa air mata yang mengering. Hal terakhir yang ia ingat adalah rasa sakit yang memelintir perut bawahnya, teriakan panik di koridor rumah sakit, dan dinginnya besi brankar yang membawanya masuk ke ruang operasi.

"Pasien sudah sadar, Dok," sebuah suara feminin berbisik di dekat telinganya.

Aira mengerang kecil. Dunianya masih berputar, putih dan kabur. Namun, kesadarannya tersentak hebat saat telapak tangannya secara insting meraba perut. Kosong. Perut yang biasanya menonjol itu kini terasa rata dan hampa. Sebuah kehampaan yang seketika mengirimkan gelombang dingin ke sekujur sarafnya.

"Bayiku..." suaranya serak, nyaris tak terdengar. "Di mana... bayi perempuanku?"

Pintu ruangan terbuka dengan dentuman pelan. Sosok tinggi tegap melangkah masuk. Itu Fahmi. Suaminya. Pria yang selama sembilan bulan terakhir lebih sering menghitung hari persalinan dengan kalkulator warisan daripada dengan debar jantung ayah yang penuh kasih.

Fahmi mendekat. Tidak ada guratan kesedihan di wajahnya. Sebaliknya, pria itu menarik kursi di samping ranjang dengan gerakan santai, seolah-olah mereka hanya sedang membicarakan menu makan malam, bukan kehilangan nyawa.

"Dia sudah pergi, Aira," ucap Fahmi datar. Ada senyum tipis—sebuah seringai yang mengerikan—yang tersungging di sudut bibirnya. "Tuhan sepertinya setuju denganku. Bayi perempuan hanya akan menjadi beban. Dia mati karena jantungnya lemah, ketubanmu pecah dini, dan plasentanya melilit. Dia memang tidak ditakdirkan untuk ada di dunia ini."

Aira merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. Air mata yang sempat tertahan kini tumpah membasahi bantal. "Dia anakmu, Fahmi... Bagaimana bisa kamu bicara sesantai itu tentang kematian anak kandungmu sendiri?"

Fahmi berdiri, merapikan kemeja mahalnya yang tak sedikit pun lecek. "Aku justru lega, Aira. Sangat lega. Kamu tahu sendiri, di keluargaku, anak perempuan tidak bisa meneruskan bisnis konstruksi ayahku. Kalau dia hidup, aku harus menghabiskan uang untuk biaya sekolah dan mahar pernikahannya nanti, hanya untuk melihatnya menjadi milik keluarga orang lain. Sia-sia."

Ia membungkuk, mendekatkan wajahnya ke telinga Aira yang masih pucat pasi. Napasnya yang berbau kopi terasa panas di kulit Aira. "Tapi kabar baiknya, karena dia sudah tidak ada, kita tidak perlu repot-repot mengurus perceraian sekarang. Aku masih butuh kamu. Kita bisa mulai lagi malam ini juga kalau kamu sudah sembuh. Kita buat anak laki-laki. Kamu masih punya rahim yang bagus, kan?"

Aira memalingkan wajah, merasa mual yang hebat melilit ulu hatinya. Setiap kata yang keluar dari mulut Fahmi terasa seperti sembilu yang menyayat martabatnya sebagai seorang ibu.

"Keluar..." desis Aira.

"Apa?"

"Keluar dari sini, Fahmi! Aku tidak ingin melihat wajahmu!" teriakan Aira pecah, meskipun tubuhnya masih gemetar karena pengaruh anestesi.

Fahmi hanya terkekeh, suara tawa yang kering dan tanpa empati. Ia melangkah keluar ruangan tanpa menoleh lagi, meninggalkan Aira dalam kesunyian rumah sakit yang mencekam.


Tiga hari kemudian, suasana rumah mereka di kawasan elite Jakarta terasa seperti kuburan. Aira baru saja kembali, namun ia tidak menuju ke kamar bayi yang sudah ia hias dengan warna merah muda. Ia langsung menuju kamar utama, mulai memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam koper besar.

Keputusannya sudah bulat. Kehilangan bayinya adalah titik nadir, namun reaksi Fahmi adalah vonis mati bagi pernikahan mereka.

"Mau ke mana kamu?" suara Fahmi menggelegar dari ambang pintu.

Aira tidak berhenti melipat pakaiannya. "Aku pergi. Aku akan mengurus surat cerai kita. Kamu bisa cari wanita lain yang bisa memberimu anak laki-laki seperti yang kamu obsesikan itu."

Fahmi melangkah cepat, mencengkeram pergelangan tangan Aira hingga koper di tangan wanita itu terjatuh. "Kamu pikir bisa pergi begitu saja setelah menghabiskan ratusan juta uangku untuk biaya rumah sakit? Kamu berhutang satu anak laki-laki padaku, Aira!"

"Aku bukan mesin cetak, Fahmi! Aku istrimu!"

"Istri yang gagal!" Fahmi mendorong Aira ke atas ranjang. Matanya merah, dipenuhi oleh ego yang terluka dan nafsu yang gelap. "Hari ini adalah masa suburmu kalau dihitung dari siklus terakhir. Aku tidak akan membiarkan investasiku hilang begitu saja."

Aira mencoba melawan, namun tubuhnya yang baru saja pulih dari operasi tak mampu membendung kekuatan pria yang sedang kerasukan obsesi itu. Malam itu, di bawah temaram lampu kamar yang menjadi saksi bisu, Fahmi memaksakan kehendaknya. Sebuah tindakan yang ia sebut sebagai "upaya terakhir", namun bagi Aira, itu adalah penghinaan terakhir terhadap sisa-sisa cinta yang pernah ada.


Pagi harinya, saat matahari mulai menyelinap di sela gorden, Aira terbangun dengan perasaan yang lebih hancur daripada saat ia kehilangan bayinya. Ia melihat Fahmi masih tertidur pulas dengan wajah tanpa dosa.

Tanpa suara, Aira bangkit. Setiap inci tubuhnya terasa sakit, namun tekadnya lebih kuat. Ia mengambil tas kecilnya, meninggalkan kunci rumah di atas meja rias, dan berjalan keluar dari rumah mewah yang selama ini menjadi penjara berlapis emas baginya.

Ia berjalan menyusuri trotoar Jakarta yang mulai ramai. Suara klakson dan hiruk-pikuk kota seolah menertawakan kehancurannya. Aira berhenti di depan sebuah toko buku tua yang sedang memutar musik instrumental yang tenang. Di kaca toko itu, ia melihat pantulan dirinya sendiri. Wajah yang kuyu, mata yang sembap, dan rambut yang berantakan.

Tiba-tiba, matanya terpaku pada sebuah poster di dinding toko: "Hidayah tidak menunggumu siap, tapi menunggumu menjemputnya."

Aira menyentuh kerah blusnya yang agak terbuka. Ia merasa telanjang di tengah keramaian. Rasa malu yang luar biasa merayapi hatinya—bukan karena apa yang telah dilakukan Fahmi, melainkan karena ia menyadari betapa jauh ia telah melangkah dari Tuhan selama ini demi menyenangkan seorang pria yang bahkan tidak menghargai nyawa anaknya sendiri.

Ia merogoh ponselnya, mencari satu nama yang selama bertahun-tahun ia abaikan: Adrian. Mantan atasannya di perusahaan Marrified Visuals, pria yang dulu pernah memberinya nasihat tentang harga diri seorang wanita muslimah.

"Halo, Pak Adrian?" suara Aira bergetar saat sambungan telepon terangkat.

"Aira? Ini kamu?" suara di seberang sana terdengar berat namun tenang, seperti oase di tengah gurun.

"Pak... apakah... apakah lowongan sekretaris itu masih ada? Saya butuh pekerjaan. Saya butuh hidup baru."

Hening sejenak di seberang sana. Aira bisa mendengar deru napas Adrian yang teratur.

"Datanglah ke kantor besok pagi, Aira. Tapi kamu tahu syarat di perusahaan saya, bukan? Kita bekerja dengan prinsip profesionalisme dan... kehormatan."

Aira memejamkan mata. "Saya mengerti, Pak. Saya akan datang dengan cara yang berbeda."


Satu minggu berlalu. Aira berdiri di depan cermin sebuah apartemen kecil yang ia sewa dengan sisa tabungan pribadinya. Di kepalanya kini tersemat selembar kain pashmina berwarna cokelat susu, menutupi leher dan dadanya dengan rapi. Ia menarik napas panjang, menatap pantulan dirinya yang tampak lebih bercahaya meskipun masih menyimpan duka.

Di Pengadilan Agama Jakarta Selatan, ia telah mendaftarkan gugatannya. Fahmi mengamuk, mengirimkan ratusan pesan ancaman, namun Aira tidak peduli. Ia merasa seperti burung yang baru saja lepas dari sangkar beracun.

Namun, di tengah langkahnya menuju kantor Adrian, sebuah rasa mual yang mendadak menghantam perutnya. Aira berpegangan pada tiang lampu jalan, keringat dingin membasahi dahinya. Ia berpikir itu hanya maag karena ia belum sarapan.

Ia tidak tahu, bahwa di dalam rahim yang sempat ia anggap hampa itu, sebuah kehidupan baru sedang mulai berdenyut. Sebuah benih dari malam terkutuk yang dipaksakan Fahmi, kini sedang bersiap untuk mengubah jalan hidupnya sekali lagi.

Aira mengusap perutnya yang masih rata, tanpa sadar memberikan perlindungan yang selama ini tidak pernah didapatkan oleh bayi perempuannya yang telah tiada. Ia melangkah masuk ke gedung bertingkat itu, siap menghadapi Adrian, siap menghadapi dunianya, tanpa menyadari bahwa ujian yang lebih besar—tentang rahasia di balik janin ini—baru saja dimulai