Suara tetesan air hujan yang menghantam atap mobil Adrian terdengar seperti rentetan peluru yang menghujam pertahanan mental Aira. Di dalam kabin yang kedap suara itu, keheningan terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Aira yang masih memburu. Tangannya yang dingin mendekap erat lembaran foto USG di balik tasnya, seolah benda itu adalah jantungnya yang terlepas dari tubuh.

Adrian mengemudikan mobil dengan cengkeraman tangan yang begitu kuat pada kemudi, hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras, membentuk garis tegas yang menandakan badai sedang berkecamuk di dalam kepalanya. Kilatan lampu kilat dari area parkir klinik tadi bukan sekadar gangguan privasi; itu adalah deklarasi perang terbuka.

"Pak Adrian..." suara Aira nyaris tenggelam oleh suara wiper mobil. "Apa yang akan kita lakukan jika foto itu sampai ke tangan dewan komisaris? Atau ke tangan... Fahmi?"

Adrian tidak langsung menjawab. Ia menepikan mobil di bahu jalan yang agak gelap, jauh dari keramaian lalu lintas Sudirman yang merayap. Ia mematikan mesin, membiarkan kabin hanya diterangi oleh pendar lampu jalan yang temaram.

"Vika tidak akan langsung meledakkannya," ucap Adrian tanpa menoleh. Suaranya rendah, bergetar oleh amarah yang ditekan. "Dia tipe orang yang suka bermain dengan mangsanya. Dia akan menunggu momen di mana saya paling tidak berdaya—mungkin saat rapat pleno minggu depan—untuk melempar bom itu. Dia ingin kursi saya, Aira. Dia ingin Evan memegang kendali penuh atas Marrified Visuals agar dia bisa terus membiayai gaya hidupnya yang tak masuk akal."

Aira memalingkan wajah ke jendela yang berembun. "Saya adalah titik lemah Anda, bukan? Seharusnya saya tidak pernah datang mencari Anda. Saya hanya membawa kutukan masa lalu saya ke dalam hidup Anda yang tenang."

Adrian berbalik dengan gerakan cepat. Matanya yang tajam mengunci pandangan Aira. "Berhenti mengatakan hal itu. Kamu bukan kutukan. Kamu adalah ujian sekaligus amanah. Jika saya membiarkanmu hancur hanya untuk menyelamatkan kursi direktur saya, maka semua prinsip agama dan moral yang saya agungkan selama ini hanyalah omong kosong belaka."

Adrian menghela napas, suaranya melunak sedikit. "Masalahnya sekarang adalah Fahmi. Jika Vika menghubunginya—dan saya yakin dia akan melakukannya—Fahmi punya dasar hukum untuk menggugatmu. Dia bisa menuduhmu melakukan perzinaan atau menyembunyikan pewarisnya. Kita harus selangkah lebih maju."

"Bagaimana caranya?"

"Kita harus mempercepat proses perceraianmu dan mencari perlindungan hukum tambahan. Saya akan menghubungi pengacara pribadi saya malam ini. Dan untuk sementara waktu..." Adrian ragu sejenak. "Kamu tidak bisa tinggal di apartemen itu lagi. Fahmi sudah tahu lokasinya. Vika pun pasti sudah mengirim orang untuk mengintaimu di sana."

Aira merasa dunianya semakin sempit. "Lalu saya harus ke mana? Saya tidak punya siapa-siapa lagi di kota ini."

"Ada rumah singgah milik yayasan ibu saya di pinggiran Jakarta. Tempat itu aman, dijaga ketat, dan tertutup dari publik. Kamu bisa tinggal di sana sampai situasi mereda. Besok pagi, saya akan menjemputmu."


Malam itu, Aira tidak bisa memejamkan mata. Ia duduk di lantai apartemennya, mengemas kembali pakaiannya ke dalam koper yang sama yang ia bawa saat melarikan diri dari rumah Fahmi. Setiap benda yang ia masukkan terasa seperti beban sejarah yang berat.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas kasur. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

“Foto yang cantik, Aira. Ternyata 'hijrahmu' hanya kedok untuk mendekati pria kaya lainnya, ya? Apa bayimu tahu kalau ibunya adalah seorang pengkhianat? Jangan khawatir, aku akan segera menjemput anakku. Dia tidak pantas berada di rahim wanita sepertimu.”

Pesan itu disertai lampiran foto: Aira yang sedang bersandar di bahu Adrian saat keluar dari klinik sore tadi. Sudut pengambilannya membuat mereka tampak sangat intim, seolah Adrian sedang memeluknya dengan penuh kasih sayang.

Aira menjatuhkan ponselnya seolah benda itu adalah bara api. Tubuhnya gemetar hebat. Fahmi sudah tahu. Vika sudah bergerak lebih cepat dari perkiraan Adrian. Rasa mual yang hebat kembali menyerang, namun kali ini bercampur dengan rasa takut yang melumpuhkan. Ia berlari ke kamar mandi, memuntahkan cairan asam yang terasa membakar kerongkongannya.

Di bawah pancuran air dingin, Aira menangis tanpa suara. Ia merasa kotor, merasa dikejar oleh bayang-bayang yang tak pernah memberinya ampun. Namun, di tengah isakannya, ia teringat suara detak jantung di ruang USG tadi sore.

Deg. Deg. Deg.

Suara itu seolah berbisik di dalam benaknya: Jangan menyerah. Aku ada di sini.

Aira menghapus air matanya dengan kasar. Ia berdiri, menatap cermin yang retak di sudut kamar mandi. Wajah di cermin itu bukan lagi wajah wanita lemah yang pasrah dipukuli kata-kata kasar oleh suaminya. Ada sorot mata yang berbeda—sorot mata seorang ibu yang sedang terdesak, namun siap menerjang apa pun demi anaknya.


Keesokan paginya, sebelum fajar menyingsing, Adrian sudah berada di depan apartemen Aira. Ia tidak menggunakan mobil mewahnya, melainkan sebuah mobil operasional kantor yang biasa-biasa saja untuk menghindari perhatian.

Perjalanan menuju pinggiran Jakarta dilakukan dalam keheningan yang penuh waspada. Adrian terus memperhatikan spion tengah, memastikan tidak ada kendaraan yang membuntuti.

"Pesan itu... Fahmi mengirimkannya semalam," ucap Aira memecah keheningan, menyerahkan ponselnya pada Adrian.

Adrian membaca pesan itu dengan rahang yang semakin mengeras. "Ini bukan hanya gertakan. Vika sudah memberikan senjata pada Fahmi. Mereka ingin menghancurkan reputasimu di pengadilan agar hak asuh atau hak perlindungan apa pun atas anak ini jatuh ke tangan Fahmi."

"Apakah dia bisa melakukan itu? Dia yang menceraikan saya! Dia yang menyuruh saya pergi!" suara Aira meninggi karena panik.

"Di mata hukum, jika dia bisa membuktikan kamu menjalin hubungan dengan pria lain sebelum masa iddah atau proses cerai selesai, dia bisa memutarbalikkan fakta. Dia akan membangun narasi bahwa kamu adalah istri yang tidak setia dan membahayakan moral anak yang kamu kandung." Adrian menepuk kemudi dengan gusar. "Licik sekali."

Mobil akhirnya memasuki sebuah kompleks asri dengan pepohonan rindang dan pagar tinggi yang tertutup rapat. Seorang wanita paruh baya berhijab lebar menyambut mereka di depan sebuah rumah bergaya kolonial yang terawat.

"Ini Bu Aminah, pengelola rumah singgah ini. Beliau adalah sahabat almarhumah ibu saya," Adrian memperkenalkan.

Bu Aminah memeluk Aira dengan kehangatan yang tulus, sebuah pelukan yang sudah lama tidak Aira rasakan. "Selamat datang, Nak. Di sini kamu aman. Tidak ada yang boleh masuk tanpa izin saya, bahkan polisi sekalipun."

Adrian membawa koper Aira ke dalam kamar yang bersih dan tenang. Sebelum pamit, ia berdiri di ambang pintu, menatap Aira yang tampak begitu rapuh di tengah ruangan yang besar.

"Saya harus kembali ke kantor. Rapat dengan dewan komisaris dimajukan siang ini. Vika pasti sudah menyiapkan panggungnya," ucap Adrian.

"Hati-hati, Pak Adrian. Jangan biarkan mereka mengambil posisi Anda karena saya."

Adrian tersenyum tipis—senyum pertama yang tulus sejak konflik ini bermula. "Mereka bisa mengambil kursi saya, Aira. Tapi mereka tidak bisa mengambil kehormatan saya. Istirahatlah. Fokus pada kesehatanmu dan bayi itu."


Di kantor Marrified Visuals, suasana terasa mencekam. Adrian melangkah masuk ke ruang rapat besar. Di sana, Evan dan Vika sudah duduk dengan wajah penuh kemenangan. Di atas meja panjang itu, terdapat sebuah tablet yang menampilkan foto-foto Adrian dan Aira di klinik kandungan.

"Jadi, Adrian... bagaimana kamu menjelaskan ini pada dewan?" Vika memulai dengan nada manis yang berbisa. "Seorang Direktur Utama, membawa sekretarisnya yang masih berstatus istri orang ke klinik spesialis kandungan. Apakah ini bagian dari branding 'perusahaan keluarga yang islami' yang selama ini kamu jual?"

Evan berdehem, mencoba terdengar bijak namun penuh ancaman. "Investor dari Malaysia sudah melihat foto ini, Adrian. Mereka mempertanyakan integritasmu. Mereka tidak ingin menanamkan modal di perusahaan yang pemimpinnya terlibat dalam skandal moral yang memalukan."

Adrian duduk dengan tenang, menaruh ponselnya di meja. Ia tidak tampak terintimidasi sedikit pun.

"Foto itu memang benar. Saya membawa Aira ke dokter," ucap Adrian lantang.

Vika tertawa kecil. "Pengakuan yang berani. Jadi, kamu mengakui bahwa janin itu adalah anakmu? Bahwa kamu berselingkuh dengan istrimu sendiri—maksudku, istri Fahmi?"

Adrian menatap Vika dengan tatapan yang membuat wanita itu terdiam. "Janin itu adalah anak Fahmi. Hasil dari kekerasan dan paksaan yang dilakukan pria itu pada Aira di malam sebelum mereka berpisah. Saya membawanya ke dokter karena dia adalah karyawan saya yang sedang dalam bahaya medis dan ancaman nyawa dari suaminya yang abusif."

"Siapa yang akan percaya pada cerita 'pahlawan' itu, Adrian?" cemooh Vika. "Dunia hanya akan melihat pria kaya dan wanita simpanannya di klinik bayi."

"Orang-orang akan percaya pada bukti," Adrian menekan sebuah tombol di ponselnya. Suara rekaman percakapan mulai terdengar di ruang rapat.

“...Foto yang cantik, Aira. Ternyata 'hijrahmu' hanya kedok untuk mendekati pria kaya lainnya, ya? ... aku akan segera menjemput anakku. Dia tidak pantas berada di rahim wanita sepertimu.”

Adrian menatap Evan. "Itu suara Fahmi. Pesan yang dikirimkan kepada Aira semalam. Dan saya punya rekaman CCTV lobi kantor saat Fahmi mengancam Aira beberapa hari lalu. Jika kalian ingin membawa ini ke ranah publik atau investor, silakan. Tapi saya akan pastikan dunia tahu bahwa keluarga ini, melalui Vika, bekerja sama dengan seorang pelaku kekerasan domestik untuk menjatuhkan saudaranya sendiri. Mari kita lihat siapa yang akan kehilangan reputasi lebih besar."

Ruangan itu mendadak sunyi. Wajah Vika memucat, sementara Evan tampak gelisah di kursinya. Mereka tidak menyangka Adrian akan bergerak sefrontal ini dengan membawa bukti ancaman Fahmi.

"Ini belum berakhir, Adrian," desis Vika, meskipun suaranya kini bergetar.

"Memang belum," jawab Adrian dingin. "Karena saya juga baru saja mendaftarkan laporan kepolisian atas nama Aira mengenai ancaman dan kekerasan yang dilakukan Fahmi. Dan siapa pun yang membantu Fahmi, akan dianggap sebagai kaki tangan."

Adrian berdiri, merapikan jasnya, dan keluar dari ruangan tanpa menunggu jawaban. Namun, saat ia sampai di ruangannya, tangannya gemetar. Ia tahu ini baru serangan balik pertama. Ia telah mempertaruhkan segalanya—pekerjaannya, nama baiknya, dan hubungan keluarganya—demi seorang wanita dan bayi yang bahkan bukan miliknya.

Di tempat persembunyiannya, Aira duduk di tepi ranjang, mengusap perutnya sambil menatap pemandangan taman dari balik jendela. Ia merasa seperti sedang berada di dalam sebuah perahu kecil di tengah samudera yang sedang mengamuk. Namun, untuk pertama kalinya, ia melihat mercusuar di kejauhan. Mercusuar itu bernama Adrian.

Ia mengambil secarik kertas dan pulpen yang tersedia di meja. Ia mulai menulis sebuah surat—bukan untuk Adrian, bukan untuk Fahmi, tapi untuk bayi yang ada di rahimnya.

"Untukmu, yang berdenyut dalam luka. Kita akan bertahan. Ibu berjanji, mahar luka ini akan menjadi mahar kebahagiaanmu suatu hari nanti..."

Tanpa ia sadari, di luar gerbang rumah singgah, sebuah mobil hitam dengan kaca gelap baru saja lewat perlahan, lalu berhenti di sudut jalan. Seseorang di dalamnya sedang mengamati rumah itu melalui teropong. Fahmi tidak akan melepaskan mangsanya semudah itu, dan bantuan Vika ternyata jauh lebih dalam dari sekadar foto.

Konflik telah meningkat ke level yang lebih berbahaya: perburuan fisik. Aira harus bersiap untuk babak di mana dinding perlindungan Adrian mungkin tidak akan cukup kuat menahan obsesi seorang pria yang merasa kehilangan 'hak milik'-nya.