Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah gorden sutra tidak membawa kehangatan. Liora terbangun di atas tempat tidur yang luas dan dingin. Ia sudah berganti pakaian menjadi gaun rumah yang sederhana, sementara gaun pengantinnya tergantung di sudut ruangan seperti hantu dari masa lalu. Ia mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Arjuna sudah bangun.

Liora turun ke dapur. Ia memutuskan untuk tidak bersembunyi di dalam kamar. Jika ia ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada malam kecelakaan Maya, ia harus tetap berada di pusat pusaran air. Ia mulai menyiapkan sarapan—roti panggang, telur setengah matang, dan kopi hitam tanpa gula, persis seperti yang Arjuna sukai.

Ketika Arjuna turun, ia sudah mengenakan kemeja kerja yang rapi. Namun, Liora melihat sesuatu yang berbeda. Ada lingkaran hitam di bawah mata Arjuna, dan saat ia meraih gelas air putih, jari-jarinya bergetar halus selama sepersekian detik sebelum ia mengepalkan tangannya. Pria ini tidak sekuat yang ia tunjukkan semalam. Ada konflik batin yang sedang menggerogotinya.

"Duduklah, Mas. Aku sudah menyiapkan sarapan," kata Liora setenang mungkin.

Arjuna menatap meja makan sejenak, lalu menatap Liora dengan penuh selidik. "Kau pikir dengan menyiapkan sarapan, kau bisa menghapus apa yang terjadi di kamar itu semalam?"

"Aku menyiapkan sarapan karena aku istrimu, secara hukum dan secara agama. Dan karena aku butuh kita berdua tetap sehat untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi selanjutnya," jawab Liora sambil menuangkan kopi.

Arjuna duduk di hadapannya. Ia menyesap kopinya, namun matanya tidak pernah lepas dari wajah Liora. "Apa tujuanmu sebenarnya, Liora? Apa kau sedang merencanakan sesuatu dengan Adrian?"

Nama itu membuat tangan Liora terhenti. Adrian, sepupu Arjuna, pria yang selalu memberikan senyum manis namun memiliki mata yang licik. "Kenapa kau membawa nama Adrian ke meja makan kita?"

"Jangan berpura-pura bodoh. Aku tahu kau sering bicara dengannya sebelum pernikahan ini. Apakah dia yang menyuruhmu menyingkirkan Maya agar dia bisa mengambil alih proyek pelabuhan?"

Liora meletakkan pisau rotinya dengan denting yang cukup keras. "Tuduhanmu semakin tidak masuk akal, Mas. Maya adalah sahabatku. Aku mencintainya lebih dari siapapun di keluarga ini, bahkan mungkin lebih darimu saat ini."

Arjuna terdiam. Rahangnya mengeras. Untuk sesaat, Liora melihat kilatan keraguan di mata suaminya. Ada momen di mana Arjuna seolah ingin bertanya sesuatu yang lebih manusiawi, namun ia segera menekan emosi itu kembali. Ia bangkit berdiri, sarapannya hampir tidak disentuh.

"Aku akan pergi ke kantor. Jangan keluar dari rumah ini tanpa izin dariku. Aku sudah memerintahkan penjaga di depan untuk melaporkan setiap langkahmu," kata Arjuna dingin.

Saat Arjuna melangkah menuju pintu, ia sempat berhenti sebentar di samping Liora. Ia tidak menyentuhnya, namun Liora bisa merasakan radiasi kemarahan sekaligus keputusasaan dari pria itu. Arjuna menarik napas panjang, seolah sedang menahan beban yang sangat berat di pundaknya, lalu pergi tanpa sepatah kata pun.

Liora menatap pintu yang tertutup. Ia melihat sisa kopi Arjuna yang masih mengepul. Ia menyadari bahwa kebencian Arjuna adalah perisai. Arjuna sangat mencintai adiknya, dan karena ia tidak bisa menyelamatkan Maya, ia membutuhkan seseorang untuk disalahkan agar ia tidak menyalahkan dirinya sendiri. Aku akan mengamatimu, Arjuna, batin Liora. Aku akan menemukan retakan di perisaimu, dan di sanalah aku akan menanamkan kebenaran.