Sinar matahari sore menyusup melalui jendela-jendela besar di ruang depan kediaman Chandra, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jeruji di atas lantai marmer. Liora berdiri di teras, berusaha menghirup udara segar yang tidak terkontaminasi oleh aroma dupa cendana Ibu Chandra. Namun, ketenangannya terganggu oleh deru mesin mobil yang halus dan elegan.
Adrian turun dari mobilnya dengan gerakan yang sangat terukur. Ia tidak mengenakan setelan bisnis formal seperti Arjuna; ia memilih kemeja linen biru pucat yang memberikan kesan santai namun berkelas. Senyumnya terkembang saat melihat Liora, sebuah senyum yang tampak tulus tetapi tidak pernah benar-benar mencapai matanya.
"Kau tampak seperti burung dalam sangkar emas, Liora," sapa Adrian, suaranya halus seperti sutra. "Atau mungkin, lebih tepatnya, hantu di rumahmu sendiri."
Liora tidak membalas senyuman itu. "Apa yang membawamu ke sini, Adrian? Bukankah kau seharusnya berada di kantor pelabuhan?"
Adrian melangkah mendekat, berdiri cukup dekat hingga Liora bisa mencium aroma parfumnya yang mahal dan tajam. "Kantor bisa menunggu. Tapi melihat sepupu iparku yang cantik tampak begitu menderita... itu adalah prioritas yang berbeda." Ia menyandarkan tubuhnya pada pilar teras, menatap Liora dengan intensitas yang membuat bulu kuduk Liora berdiri. "Aku tahu apa yang sedang dilakukan Arjuna padamu. Dia pria yang keras, Liora. Terkadang dia lupa bahwa kebenaran seringkali memiliki lebih dari satu wajah."
"Apa maksudmu?" tanya Liora, matanya menyipit.
"Maya," bisik Adrian. "Dia bukan hanya adik bagi Arjuna, tapi juga batu penghalang bagi banyak orang. Sebelum kecelakaan itu, Maya sangat gelisah. Dia menemukan sesuatu yang berkaitan dengan aliran dana proyek pelabuhan. Dia ingin bicara padaku, tapi dia tidak pernah sampai." Adrian mengulurkan tangan, hampir menyentuh helai rambut Liora sebelum Liora menghindar. "Jangan terlalu percaya pada amarah Arjuna. Dia membencimu karena itu cara termudah baginya untuk tetap waras. Tapi jika kau butuh seseorang yang bisa melihat di balik kabut itu... aku ada di sini."
Kalimat itu terdengar seperti tawaran bantuan, namun di telinga Liora, itu terdengar seperti klaim kepemilikan. Seolah Adrian sedang berkata: Aku tahu rahasiamu, dan aku bisa menghancurkanmu atau menyelamatkanmu.
Di lantai atas, dari balik jendela ruang kerjanya yang gelap, Arjuna berdiri mengamati mereka. Tangannya mengepal di balik saku celananya. Ada rasa panas yang menjalar di dadanya melihat kedekatan itu, namun itu bukan sekadar cemburu. Ada rasa lelah yang mendalam. Ia ingin percaya bahwa Liora bersalah, ia butuh Liora bersalah agar dunianya tetap memiliki logika. Namun, melihat punggung Liora yang tegak menghadapi Adrian, ia merasakan getaran keraguan yang asing. Mengapa Liora tidak pernah meminta bantuan Adrian jika mereka memang bersekongkol?
"Ingat, Liora," Adrian berkata sebelum berbalik pergi. "Di rumah ini, orang yang paling keras berteriak biasanya adalah orang yang paling takut. Dan orang yang paling diam... biasanya adalah orang yang paling berbahaya."
Adrian masuk ke mobilnya dan berlalu, meninggalkan Liora dalam keheningan yang lebih mencekik dari sebelumnya. Liora menyadari bahwa ia baru saja diajak bermain dalam papan catur yang jauh lebih besar. Adrian bisa menjadi kunci yang membuka kebenaran tentang Maya, atau dia adalah ancaman yang lebih mematikan daripada kebencian Arjuna yang terang-terangan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar