Siang itu, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan kediaman Chandra. Ibu Chandra, mertua Liora, datang tanpa pemberitahuan. Wanita itu melangkah masuk dengan keanggunan seorang ratu yang baru saja memenangkan wilayah jajahan. Aroma dupa cendana yang kuat selalu mengikutinya, sebuah wangi yang bagi Liora terasa mencekik.
Ibu Chandra duduk di ruang tengah, menolak untuk melepaskan sarung tangan sutranya. Ia menatap Liora dari atas ke bawah seolah melihat noda di marmer putihnya.
"Kau terlihat pucat, Liora. Apakah Arjuna tidak memperlakukanmu dengan baik semalam?" suara Ibu Chandra terdengar merdu, namun setiap katanya memiliki ujung yang tajam.
"Kami sedang beradaptasi, Bu," jawab Liora sopan.
"Beradaptasi?" Ibu Chandra tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan kristal. "Keluarga Chandra tidak beradaptasi dengan masalah, kami menyingkirkannya. Kau tahu, namamu di luar sana sudah mulai menjadi bahan gunjingan. Orang-orang bertanya-tanya mengapa putri dari keluarga biasa bisa masuk ke rumah ini di tengah tragedi yang menimpa Maya."
Liora duduk di hadapan mertuanya. "Saya di sini karena Arjuna yang menginginkannya, Bu."
"Arjuna menginginkanmu di sini agar ia bisa mengawasimu, jangan salah paham," Ibu Chandra memajukan tubuhnya. "Reputasi keluarga ini adalah segalanya bagi saya. Suami saya membangun bisnis ini dengan darah dan air mata. Saya tidak akan membiarkan seorang gadis yatim piatu yang mencurigakan seperti kau menghancurkan harga diri Chandra. Jika Maya tidak bangun dalam waktu dekat, kau harus bersiap untuk menanggung semua konsekuensinya."
Liora melihat Arjuna berdiri di lantai atas, bersandar pada pagar balkon, menyaksikan percakapan itu. Pria itu diam, ekspresinya tidak terbaca. Ia melihat ibunya menindas istrinya, namun ia tidak turun untuk membela. Ada dilema di wajahnya; antara bakti pada ibunya yang manipulatif dan rasa haus akan keadilan bagi adiknya.
"Apa maksud Ibu dengan konsekuensi?" tanya Liora, matanya menatap langsung ke mata Ibu Chandra.
"Kau akan menghilang secara sosial. Tidak akan ada yang mencarimu, tidak akan ada yang membelamu. Bahkan Arjuna pun tidak akan bisa menyelamatkanmu jika saya memutuskan bahwa kau sudah tidak berguna lagi untuk menjaga martabat keluarga ini," Ibu Chandra berdiri, merapikan gaunnya yang mahal. "Ingat ini, Liora: di rumah ini, kau bukan manusia. Kau adalah variabel yang bisa kami hapus kapan saja."
Setelah Ibu Chandra pergi, keheningan di rumah itu terasa lebih berat. Liora mendongak, menatap Arjuna yang masih berdiri di sana. Mereka saling bertatapan selama beberapa detik sebelum Arjuna berbalik dan masuk ke kamarnya, menutup pintu dengan dentuman keras.
Liora berdiri sendirian di tengah ruang tengah yang luas itu. Ia menyadari bahwa musuhnya bukan hanya kemarahan Arjuna yang buta, tapi sebuah sistem kekuasaan yang dibangun di atas reputasi dan manipulasi. Ibu Chandra bukan sekadar ibu yang berduka; dia adalah arsitek dari segala ketakutan di rumah ini. Liora mengepalkan tangannya. Ia bukan lagi sekadar korban yang bertahan hidup. Ia adalah penyusup di dalam benteng yang sangat kokoh, dan ia harus mulai menyusun strateginya sendiri sebelum sistem itu menelannya bulat-bulat.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar