Malam itu, kamar pengantin di kediaman besar keluarga Chandra terasa lebih menyerupai ruang interogasi daripada pelaminan. Liora berdiri di depan cermin besar berbingkai emas, menatap pantulan dirinya yang tampak asing. Gaun putih berbahan brokat halus yang membalut tubuhnya kini terasa berat, seolah setiap jengkal kainnya terbuat dari timah yang menariknya jatuh ke dasar samudra. Harum melati yang tersemat di rambutnya, yang beberapa jam lalu ia anggap sebagai aroma kebahagiaan, kini berubah menjadi bau apak kematian bagi harapannya sendiri.

Arjuna masuk ke kamar tanpa suara, namun kehadirannya memenuhi ruangan dengan tekanan atmosfer yang mencekik. Ia tidak menghampiri Liora untuk memberikan pelukan atau kata-kata manis. Sebaliknya, ia melangkah menuju meja kayu jati, melepas jas hitamnya, dan melemparnya ke kursi dengan gerakan yang sangat terkontrol.

"Kau terlihat sangat tenang untuk seseorang yang baru saja menghancurkan hidup sebuah keluarga," suara Arjuna memecah keheningan. Suaranya tidak meninggi, justru rendah dan datar, jenis nada yang digunakan seorang hakim saat membacakan vonis.

Liora berbalik, tangannya meremas pinggiran gaunnya. "Mas, apa yang kau katakan? Ini hari pernikahan kita. Hari yang kita tunggu-tunggu."

Arjuna berbalik, menatap Liora dengan mata yang dingin dan tajam. "Jangan sebut kata 'kita' seolah kau adalah bagian dari diriku. Kita menikah hari ini bukan karena cinta yang kau dambakan dalam dongeng-dongengmu, Liora. Kita menikah karena aku butuh kau berada dalam jangkauan tanganku. Aku butuh kau di sini agar aku bisa memastikan setiap detik hidupmu adalah penebusan."

"Penebusan untuk apa?" suara Liora bergetar, namun ia menolak untuk menangis di hadapan pria itu. Di balik rasa takutnya, ada secercah nalar yang berbisik bahwa ini adalah kesalahan besar.

"Untuk Maya," Arjuna melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Liora bisa mencium aroma wiski samar dari napasnya. "Kau pikir aku buta? Kau pikir aku tidak tahu siapa yang berada di lokasi kecelakaan itu sebelum ambulans datang? Kau pikir air matamu di rumah sakit bisa menghapus fakta bahwa adikku sekarang terbaring seperti mayat hidup karena keegoisanmu?"

"Aku tidak melakukan apa-apa, Arjuna! Aku mencoba menolongnya!"

"Cukup!" Arjuna mengeluarkan sekumpulan foto dari saku celananya dan melemparkannya ke atas tempat tidur yang bertabur kelopak mawar merah. Foto-foto itu mendarat dengan kasar, merusak tatanan dekorasi yang romantis. "Foto-foto ini diambil oleh orang suruhanku. Kau, di sana, berdiri di samping mobil yang ringsek, bukan dengan wajah panik, tapi dengan wajah yang... dingin. Persis seperti wajahmu sekarang."

Liora mendekati tempat tidur, tangannya gemetar saat mengambil salah satu foto. Itu adalah potongan gambar yang diambil dari sudut yang sangat spesifik, membuat tindakannya menarik Maya keluar dari mobil tampak seperti ia sedang mendorong atau membiarkannya. Ini adalah manipulasi visual yang sempurna.

Liora menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya. Dia tidak ingin mendengar kebenaran, batinnya. Dia butuh seorang penjahat agar dia punya alasan untuk tetap berdiri di tengah duka ini. Liora menatap Arjuna, tidak lagi dengan pandangan memohon, melainkan dengan tatapan yang mulai menilai.

"Mulai malam ini," Arjuna berkata sambil melonggarkan dasinya, gerakannya sangat tenang, seolah ia baru saja menyelesaikan transaksi bisnis yang sukses. "Kamar ini bukan tempat bagimu untuk beristirahat. Ini adalah penjara yang kubangun dengan emas dan sutra. Kau adalah milikku, Liora. Bukan sebagai istri, tapi sebagai pengingat akan setiap napas yang tidak bisa diambil oleh adikku secara normal."

Arjuna melangkah menuju sofa dan merebahkan diri di sana, memunggungi istrinya. Liora berdiri tegak di tengah ruangan, gaun putihnya kini terasa seperti zirah. Ia menyadari satu hal: ia tidak bisa melawan amarah pria ini dengan air mata. Jika Arjuna ingin ia menjadi penjahat, maka ia akan menjadi saksi yang paling tenang dalam pengadilan gila ini. Malam itu, bukan cinta yang lahir, melainkan awal dari perang psikologis yang tak terlihat.