Koridor rumah sakit itu terasa begitu panjang dan steril, berbau disinfektan yang tajam yang selalu memicu mual di perut Liora. Ia berjalan menuju ruang ICU tempat Maya terbaring. Di depan pintu kaca besar itu, ia melihat Arjuna. Pria itu duduk di kursi tunggu kayu, kepalanya tertunduk, tangannya saling bertautan erat. Ia tampak begitu kecil di bawah lampu neon yang pucat.

Liora berdiri di sampingnya selama beberapa menit sebelum Arjuna menyadari kehadirannya. Saat pria itu mendongak, matanya tampak merah dan letih.

"Kenapa kau ke sini?" tanya Arjuna, suaranya parau. Tidak ada bentakan kali ini, hanya kelelahan yang murni.

"Aku merindukannya, Mas. Aku ingin tahu apakah ada perkembangan," jawab Liora lembut. Ia duduk di samping Arjuna, menjaga jarak yang aman.

Arjuna menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar seperti reruntuhan. "Dokter bilang kondisinya stabil, tapi belum ada tanda-tanda dia akan bangun. Dia di sana, Liora... hanya beberapa meter dari kita, tapi terasa seperti di planet lain. Dan setiap kali aku melihatnya, aku melihat wajahmu di malam itu."

"Aku tahu kau menyalahkanku, Arjuna. Tapi apakah kau pernah berpikir, jika aku memang ingin mencelakainya, mengapa aku tetap tinggal? Mengapa aku tidak membiarkannya saja di mobil itu?"

Arjuna menoleh, menatap Liora dengan pandangan yang kompleks. Untuk sesaat, amarahnya tampak luruh, digantikan oleh kekosongan yang menyakitkan. "Karena mungkin kau ingin terlihat seperti pahlawan untuk menutupi dosamu. Atau mungkin..." ia menggantung kalimatnya, seolah takut untuk melanjutkan. "Mungkin karena aku terlalu bodoh untuk melihat siapa kau sebenarnya."

Keheningan kembali menyelimuti mereka, hanya interupsi oleh suara langkah perawat yang lewat. Arjuna bangkit untuk berbicara dengan dokter di ujung koridor, memberi Liora kesempatan yang sudah ia tunggu-tunggu.

Liora masuk ke dalam kamar Maya dengan langkah tanpa suara. Suara mesin ventilator yang berdetak teratur menjadi satu-satunya musik di ruangan itu. Ia menatap wajah Maya yang pucat, dikelilingi kabel-kabel. Mata Liora tertuju pada laci meja samping tempat tidur. Di sana, di antara barang-barang pribadi yang dikembalikan polisi, ia melihat sudut sebuah amplop cokelat kecil yang menyembul dari bawah buku catatan Maya.

Jantung Liora berdegup kencang. Ia mengulurkan tangannya, jemarinya hampir menyentuh permukaan amplop itu ketika pintu terbuka.

Liora tersentak dan menarik tangannya kembali. Ibu Chandra berdiri di ambang pintu, matanya yang tajam seperti elang mengunci gerak-gerik Liora. Wanita itu tidak mengatakan apa-apa, namun tatapannya mengandung pengawasan yang sistematis, seolah ia bisa membaca niat terdalam Liora.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Liora? Bukankah sudah kukatakan untuk tidak mendekati Maya tanpa seizinku?" suara Ibu Chandra dingin dan memerintah.

"Saya hanya ingin memberikan dukungan, Bu," jawab Liora, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meskipun tangannya gemetar di balik punggungnya.

"Dukunganmu tidak dibutuhkan di sini. Pergilah. Arjuna sedang menunggumu di luar."

Liora keluar dari ruangan itu dengan perasaan tercekik. Ia gagal mengambil amplop itu, namun ia tahu satu hal sekarang: Maya menyimpan sesuatu. Sesuatu yang cukup penting hingga Ibu Chandra merasa perlu menjaga ruangan itu seperti benteng. Petunjuk baru telah ditemukan, namun di rumah sakit yang sunyi ini, Liora menyadari bahwa ia sedang diawasi oleh mata yang tidak pernah berkedip.