Suara riuh rendah di ruang tamu rumah keluarga Baskoro terasa seperti dengung lebah yang menyiksa telinga Kania. Gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar rias. Kebaya putih brokat yang melekat di tubuhnya terasa mencekik, lebih sesak daripada korset yang ia kenakan. Hari ini, di usianya yang baru menginjak dua puluh dua tahun, ia akan menyerahkan kebebasannya.
"Kania, turunlah. Penghulu sudah menunggu," suara Ibu Siska memecah lamunan Kania. Sang ibu mendekat, merapikan kerudung transparan di kepala putrinya dengan mata berkaca-kaca. "Ini demi kebaikanmu, Sayang. Arkan pria yang baik."
"Baik menurut Papa dan Mama tidak berarti baik untukku, Ma," sahut Kania dengan nada tajam yang tersamar getaran. "Dia hanya penjaga masjid. Bagaimana Kania harus bicara pada teman-teman Kania? Apa yang harus Kania katakan kalau mereka tanya siapa suamiku? Seorang marbot?"
Ibu Siska menghela napas, tangannya mengusap bahu Kania. "Status bukan segalanya. Kelak kamu akan paham."
Dengan langkah berat, Kania menuruni tangga. Di sana, di tengah ruang tengah yang sudah disulap menjadi area akad nikah, duduk seorang pria dengan punggung tegak. Arkan. Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana dan peci hitam. Tidak ada kemewahan, tidak ada jam tangan bermerek, bahkan sepatunya pun terlihat sudah lama dipakai meski bersih.
Arkan menoleh sekilas saat Kania duduk di sampingnya. Tatapan matanya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang akan menikahi gadis yang terus-menerus menolaknya selama sebulan terakhir. Kania sengaja memalingkan wajah, ia enggan memberikan keramahan sedikit pun.
"Saya terima nikahnya Kania Putri Baskoro binti Baskoro dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," suara Arkan terdengar berat, mantap, dan tanpa keraguan sedikit pun dalam satu tarikan napas.
"Sah?"
"Sah!"
Kata itu seperti palu hakim yang memvonis Kania. Ia kini resmi menjadi istri seorang pria yang bagi dunianya adalah 'kasta rendah'. Saat sesi bersalaman, Kania mencium tangan Arkan dengan gerakan secepat kilat, seolah kulit pria itu mengandung listrik yang menyakitkan. Arkan hanya membalas dengan usapan lembut di ubun-ubun Kania, sebuah tindakan yang membuat Kania merinding karena gusar, bukan karena cinta.
Malam harinya, rumah besar itu mulai sepi. Orang tua Kania sibuk mempersiapkan keberangkatan haji mereka keesokan subuh. Arkan sudah memindahkan tas ranselnya yang hanya berisi beberapa potong baju ke kamar Kania.
Kania berdiri di ambang pintu kamar, menatap Arkan yang sedang menggelar sajadah untuk salat Isya. "Dengar, Arkan—atau siapa pun namamu," Kania memulai konfrontasi. "Hanya karena kita sudah menikah, bukan berarti kau bisa mengatur hidupku. Kita punya kesepakatan pribadi. Kau tetap pada duniamu di masjid, dan aku tetap pada duniaku di kampus. Jangan pernah muncul di depanku saat aku sedang bersama teman-temanku."
Arkan menyelesaikan takbirnya, baru kemudian menoleh setelah salam. Ia bangkit dan melipat sajadah dengan rapi. "Aku tidak pernah berniat membatasi duniamu, Kania. Tapi ingat, mulai hari ini, namaku adalah tanggung jawabmu, dan namamu adalah kehormatanku. Aku akan menjagamu dengan caraku, meski kau tidak menyukainya."
"Menjagaku? Dengan gaji marbotmu itu?" Kania tertawa sinis, melempar tas desainer-nya ke atas tempat tidur. "Untuk biaya perawatanku saja sebulan, kau mungkin harus bekerja sepuluh tahun di masjid itu."
Arkan tidak marah. Ia justru tersenyum tipis—sebuah senyum yang terlihat misterius sekaligus menyebalkan bagi Kania. "Rezeki punya jalannya sendiri. Sekarang sebaiknya kau istirahat. Besok orang tuamu berangkat, dan kita harus mengantar mereka."
Kania mendengus, ia memilih tidur di sofa panjang di pojok kamar, memunggungi pria yang kini menjadi suaminya itu. Di bawah temaram lampu kamar, Arkan menatap jendela luar, memandang ke arah kegelapan malam. Tangannya merogoh saku celana, menyentuh sebuah kartu plastik berwarna hitam pekat yang ia simpan rapat di balik dompet kulitnya yang sudah usang.
Satu bulan lagi, batin Arkan. Satu bulan lagi aku akan membuktikan pada Ayah bahwa hidup dengan cara yang benar tidak akan membuatku kelaparan. Tapi untuk sekarang, biarlah aku menjadi pelindung bagi gadis angkuh ini.
Malam itu, dalam keheningan yang menyesakkan, dua jiwa yang berbeda kutub itu memulai perjalanan panjang mereka. Kania dengan kemarahannya, dan Arkan dengan rahasia besarnya yang terkunci rapat.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar