Deru mesin motor bebek Arkan memecah keheningan sore yang mulai merayap naik. Kania duduk dengan kaku di jok belakang, tangannya memegang erat besi pegangan motor, sebisa mungkin menghindari kontak fisik dengan punggung Arkan. Pikirannya masih tertinggal pada sosok Darel—pria dengan sedan mewah yang tadi menatap Arkan dengan sorot kebencian yang aneh.
"Siapa dia?" tanya Kania setengah berteriak melawan angin, egonya tak mampu lagi menahan rasa penasaran.
Arkan tidak langsung menjawab. Ia fokus membelah kemacetan kota. Setelah beberapa saat, suaranya terdengar datar. "Hanya seseorang dari masa lalu yang sebaiknya tidak perlu kau kenal lebih jauh."
"Dia mengenalku, Arkan! Dia tahu namaku!" balas Kania kesal.
"Darel punya cara untuk mengetahui apa pun yang dia inginkan. Tetaplah menjauh darinya, Kania. Ini demi kebaikanmu," jawab Arkan tegas. Nada bicaranya bukan lagi seperti pengurus masjid yang lembut, melainkan seperti seseorang yang terbiasa memberi perintah.
Kania mendengus, namun ia memilih diam. Sore itu, alih-alih pulang ke rumah besar keluarganya, Arkan menghentikan motor di depan sebuah bangunan kecil yang bersih namun sangat sederhana di samping masjid besar kompleks.
"Kenapa kita ke sini?"
"Aku ada jadwal membersihkan area wudu dan memeriksa logistik. Kau bisa tunggu di dalam kantor atau ikut aku ke dalam masjid," ujar Arkan sembari melepas helmnya.
Kania menatap bangunan itu dengan ngeri. "Aku? Menunggu di sini? Tidak mungkin! Aku mau ke mal, Manda dan Sheila sudah menungguku untuk makan malam."
"Kartu kreditmu diblokir, Kania. Kau lupa?" Arkan mengingatkan tanpa ekspresi mengejek.
Wajah Kania memerah. "Aku masih punya uang cash pemberianmu tadi pagi! Itu cukup untuk sekadar pasta dan kopi."
Tanpa menunggu persetujuan Arkan, Kania mencegat taksi yang kebetulan lewat. "Aku akan pulang naik taksi nanti! Jangan jemput aku!" teriaknya sambil membanting pintu taksi. Arkan hanya menatap kepergian istrinya dengan helaan napas panjang. Ia mengambil ponsel dari sakunya, mengetik sebuah pesan singkat: “Pantau dia di Resto Aviano. Pastikan tidak ada yang mengganggunya.”
Restoran Aviano adalah puncak kemewahan di pusat kota. Lampu-lampu kristal menggantung elegan, memantulkan cahaya pada alat makan perak yang berkilau. Manda dan Sheila sudah duduk di meja pojok yang paling strategis.
"Akhirnya muncul juga ratu kita!" seru Manda. "Eh, tadi gimana? Cowok motor itu beneran supir lo? Kok berani banget dia nyuruh-nyuruh lo pulang?"
Kania duduk dengan kikuk, meletakkan tasnya. "Yah... begitulah. Dia memang agak kolot. Papa yang nyuruh dia jagain gue ketat banget selama mereka haji."
"Duh, mending lo dengerin kata gue tadi. Darel itu jauh lebih 'level' buat lo," bisik Sheila sambil memesan Truffle Pasta dan Wagyu Steak.
Kania ikut memesan menu yang sama, meski dalam hati ia mulai menghitung-hitung. Uang pemberian Arkan tadi berjumlah lima ratus ribu rupiah. Untuk standar Kania, itu jumlah yang kecil, tapi biasanya cukup untuk sekali makan malam mewah sendirian. Masalahnya, ia sedang bersama teman-temannya yang terbiasa berbagi tagihan secara merata.
Makan malam berlangsung meriah, namun Kania tidak bisa menikmati makanannya. Setiap suapan terasa seperti beban. Saat pelayan datang membawa bil tagihan, jantung Kania seolah berhenti berdetak.
"Totalnya dua juta delapan ratus ribu rupiah, Kak," ujar pelayan itu dengan sopan.
Manda mengeluarkan kartunya. "Gue bagi tiga ya? Kan, bagian lo sekitar sembilan ratus ribu lebih dikit."
Kania membeku. Tangannya gemetar di bawah meja. Sembilan ratus ribu? Uangnya hanya lima ratus ribu. Kartu kreditnya mati. Ia merasa keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Karma atas kesombongannya tadi pagi datang lebih cepat dari yang ia duga.
"Eh... guys," suara Kania tercekat. "Gue... gue baru inget kalau dompet utama gue ketinggalan di mobil supir tadi. Gue cuma bawa cash lima ratus ribu."
Suasana meja mendadak hening. Manda dan Sheila saling berpandangan. "Lho, biasanya lo selalu sedia kartu, Kan? Masa selevel lo nggak ada cadangan di HP?" tanya Sheila dengan nada yang mulai berubah sedikit sinis.
"Aduh, sori banget. Gue... gue bener-bener lupa," Kania merasa ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga.
"Duh, saldo gue juga pas-pasan nih habis belanja tas kemarin," gumam Manda sambil menarik kembali kartunya. "Shel, lo ada?"
"Gue juga limit, Man."
Situasi menjadi canggung dan memalukan. Pelayan resto masih berdiri di sana, menatap mereka dengan tatapan yang mulai menghakimi. Orang-orang di meja sebelah mulai menoleh. Di tengah keputusasaan itu, sebuah bayangan muncul di samping meja mereka.
"Ada masalah dengan pembayarannya?"
Kania mendongak dan hampir berteriak. Arkan. Pria itu berdiri di sana, masih dengan kemeja flanelnya, namun kali ini ia mengenakan jaket kulit hitam yang terlihat sangat mahal jika diperhatikan detail jahitannya.
"Lo lagi?" Manda mengerutkan kening. "Mas supir, lo bawa dompet majikan lo nggak? Dia ketinggalan nih."
Arkan tidak menanggapi sindiran Manda. Ia menatap Kania yang wajahnya sudah menunduk sedalam mungkin. Arkan mengeluarkan sebuah kartu dari dompet kulitnya—kartu yang sama yang sempat Kania lihat sekilas semalam. Kartu hitam tanpa limit.
"Gunakan ini," ujar Arkan pada pelayan.
Manda dan Sheila terbelalak. Mereka bukan orang bodoh. Mereka tahu jenis kartu apa itu. Black Card hanya dimiliki oleh orang-orang dengan kekayaan luar biasa.
"Ini... kartu siapa, Mas?" tanya Sheila dengan suara bergetar.
"Kartu milik majikan saya," jawab Arkan tenang, berbohong demi menjaga martabat Kania yang sudah di ujung tanduk. "Beliau meminta saya menyusul nona muda karena tahu kartunya sedang bermasalah."
Setelah transaksi selesai, Arkan menatap Kania. "Ayo pulang. Mobil sudah menunggu di depan."
Kania bangkit tanpa berkata sepatah kata pun. Ia berjalan melewati teman-temannya yang masih mematung tak percaya. Begitu sampai di luar, di parkiran VIP, bukannya motor bebek tua, sebuah SUV hitam mewah dengan kaca gelap sudah terparkir.
"Masuk," perintah Arkan.
Begitu pintu tertutup, Kania meledak. "Dari mana kau dapat kartu itu? Dan mobil ini? Kau mencuri uang ayahku?"
Arkan menghidupkan mesin, suara mesinnya terdengar sangat halus dan bertenaga. "Ayahmu tidak sekaya itu untuk memiliki kartu jenis ini, Kania. Berhentilah menuduh dan belajarlah untuk berterima kasih."
"Lalu siapa kau sebenarnya?" suara Kania mulai melunak, bercampur dengan ketakutan dan rasa penasaran yang luar biasa.
Arkan memutar kemudi, menatap jalanan malam Jakarta yang berkilau. "Aku adalah orang yang baru saja menyelamatkan mukamu dari kehancuran di depan teman-temanmu. Selebihnya, biarlah menjadi rahasia sampai kau siap melihat kenyataan."
Malam itu, Kania menyadari bahwa pria yang ia sebut 'marbot' ini memiliki lapisan misteri yang lebih dalam dari samudra. Dan di balik jendela restoran, dari kejauhan, Darel memperhatikan SUV itu pergi dengan tangan mengepal. Permainan baru saja dimulai.
(Bersambung ke Bab 5...)
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar