Gedung Fakultas Ekonomi pagi itu tampak lebih bising dari biasanya. Suara musik dentum dari kantin dan tawa para mahasiswa yang baru saja menyelesaikan mata kuliah pertama mengisi udara. Kania melangkah dengan gaya angkuh yang menjadi ciri khasnya, meski di balik kacamata hitam itu, lingkaran hitam karena kurang tidur tidak bisa disembunyikan.
"Kania! Sumpah, lo ke mana aja sih? Gue telepon semalam nggak diangkat!" Manda berlari menghampiri, diikuti oleh Sheila. Keduanya adalah sahabat Kania yang selalu mengikuti tren gaya hidup kelas atas.
Kania memaksakan senyum tipis. "Sori, Man. Nyokap sama Bokap baru berangkat haji tadi subuh, jadi gue agak repot ngurusin koper mereka."
"Oh, pantesan muka lo kusut," Sheila menimpali sambil memperhatikan tas tangan Kania. "Eh, tapi lo aman kan tinggal sendiri di rumah gede itu? Kalau lo takut, mending kita stayover di sana. Sekalian kita bikin party kecil-kecilan merayakan kebebasan lo."
Jantung Kania berdegup kencang. Party? Di rumah ada Arkan! "Eh, jangan sekarang. Rumah lagi dibersihin total, banyak tukang. Gue juga kayaknya bakal sering nginep di apartemen deket kantor magang gue nanti."
"Yah, sayang banget," keluh Manda. "Eh, btw, denger-denger ada cowok baru di jurusan teknik yang tajir melintir. Katanya dia sering bawa mobil sport beda-beda tiap hari. Namanya Darel. Lo harus liat, Kan, gantengnya kebangetan."
Kania hanya mengangguk malas. Pikirannya masih tertuju pada uang lusuh pemberian Arkan yang tadi pagi sempat ia tolak namun akhirnya ia selipkan di saku jaket karena gengsi tak membawa uang tunai. Ia merasa sangat rendah. Seorang Kania, yang biasanya menghabiskan jutaan rupiah untuk sekali makan siang, kini membawa uang pemberian seorang pengurus masjid.
"Kantin yuk? Gue laper banget," ajak Sheila.
Saat mereka berjalan menuju kantin, sebuah mobil pikap tua yang membawa tumpukan kardus berisi nasi kotak masuk ke area parkir kampus. Mobil itu berhenti tepat di depan jalur pejalan kaki tempat Kania dan teman-temannya berdiri.
Kania mematung. Ia mengenali mobil itu. Itu adalah mobil operasional masjid yang sering dikemudikan Arkan.
Pintu mobil terbuka, dan sesosok pria dengan kemeja flanel sederhana keluar. Rambutnya yang sedikit berantakan tertutup peci hitam. Arkan. Ia tampak sibuk menurunkan beberapa kardus dengan gerakan yang sangat efisien.
"Duh, siapa sih itu? Ngalingin jalan banget," gerutu Manda sambil mengibaskan tangan di depan hidung, seolah-olah mobil tua itu mengeluarkan bau tak sedap. "Eh, mas! Bisa geser dikit nggak mobilnya? Ganggu banget tahu!"
Arkan menoleh. Matanya bertemu dengan mata Kania di balik kacamata hitam. Ada jeda beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Kania merasa dunianya akan runtuh jika Arkan menyapanya atau memanggilnya "Istriku".
Kania segera membuang muka, pura-pura sibuk memeriksa kuku jarinya.
"Maaf, Mbak. Sebentar saja, saya hanya mengantar makanan untuk acara bakti sosial di aula," suara Arkan terdengar tenang dan sopan. Ia sama sekali tidak memberi tanda bahwa ia mengenal Kania.
"Bakti sosial? Oh, jadi mas ini kurir atau apa?" tanya Sheila meremehkan.
Arkan tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat Kania merasa sangat bersalah sekaligus lega. "Saya hanya membantu. Permisi."
Setelah Arkan masuk ke arah aula, Manda berbisik pada Kania. "Gila ya, ganteng sih mas-mas tadi kalau dilihat dari deket. Tapi sayang banget, kayaknya cuma tukang anter makanan. Mukanya kayak familiar gitu nggak sih, Kan?"
Kania berdeham keras, mencoba menetralkan suaranya yang mendadak tercekat. "Enggak tuh. Biasa aja. Yuk, buruan ke kantin."
Namun, nasib sial sepertinya belum ingin beranjak dari Kania. Saat di kantin, kartu kreditnya ditolak.
"Maaf, Kak, saldonya tidak mencukupi atau mungkin diblokir?" ujar pelayan kantin dengan suara yang cukup keras hingga terdengar ke meja sebelah.
Kania membelalak. Papa benar-benar melakukannya! Ayahnya telah membekukan semua akses keuangannya tepat setelah pesawat lepas landas. Ia mencoba kartu kedua, lalu ketiga. Hasilnya sama.
"Aduh, gimana ya? Gue lupa bayar tagihan bulan lalu kayaknya," bohong Kania sambil tertawa canggung. Wajahnya memerah karena malu.
"Pake punya gue dulu aja, Kan," tawar Manda, namun Kania bisa melihat kilat keheranan di mata sahabatnya itu. Seorang Kania tidak pernah kehabisan saldo.
Sepanjang sisa hari itu, Kania merasa seperti berjalan di atas paku. Ia merasa semua orang memperhatikannya. Saat jam kuliah berakhir, ia segera pamit dengan alasan ada urusan keluarga. Ia tidak berani memesan taksi online karena aplikasinya terhubung dengan kartu kredit yang sudah mati.
Ia terpaksa berjalan kaki menuju gerbang kampus, berniat mencari angkutan umum yang bahkan ia tidak tahu rutenya. Saat itulah, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di depannya. Kaca jendela turun perlahan, menampakkan seorang pria muda dengan senyum sombong yang sangat kontras dengan wajah tenang Arkan.
"Butuh tumpangan, Gadis Cantik?" tanya pria itu.
Kania mengernyit. "Siapa ya?"
"Kenalkan, aku Darel. Aku sering melihatmu di sekitar sini. Kamu Kania, kan?" Pria itu turun dari mobil, menunjukkan jam tangan mewah yang berkilau di bawah sinar matahari. "Tampaknya hari ini bukan hari keberuntunganmu. Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang? Gratis, dan dengan AC yang jauh lebih dingin daripada bus kota."
Kania ragu. Nama Darel tadi sempat disebut oleh Manda. Ia terlihat kaya, sangat kaya. Tapi ada sesuatu yang berbahaya dalam tatapannya.
Baru saja Kania hendak menjawab, suara motor bebek tua terdengar mendekat. Arkan muncul dengan motornya, berhenti tepat di samping sedan Darel. Arkan masih mengenakan pakaian yang sama dengan tadi pagi.
"Kania, ayo pulang. Aku sudah disuruh Papa untuk menjemputmu," ujar Arkan tegas. Ia mengabaikan kehadiran Darel, seolah pria dengan mobil mewah itu hanyalah bayangan tak kasat mata.
Darel tertawa kecil, matanya menatap Arkan dengan penuh kebencian yang tersembunyi. "Oh, jadi ini 'supir' keluargamu, Kania? Seleramu sangat... tradisional."
Kania berdiri di antara dua pilihan: kemewahan yang ia puja namun asing, atau kesederhanaan yang ia benci namun sah di mata hukum. Tanpa kata, dengan wajah yang dipalingkan karena malu, Kania melangkah menuju motor Arkan dan naik ke jok belakang.
"Jalan," perintah Kania singkat.
Arkan memacu motornya meninggalkan Darel yang masih berdiri dengan senyum licik. "Sangat menarik," gumam Darel sambil mengambil ponselnya. "Mari kita buat permainan ini sedikit lebih panas untuk Kakakku yang suci."
Di atas motor, Kania tidak berpegangan pada Arkan. Ia menjaga jarak, namun angin sore yang menerpa wajahnya entah mengapa mulai meruntuhkan sedikit rasa angkuh di hatinya, menyisakan pertanyaan besar: Siapa sebenarnya Darel, dan mengapa ia menatap Arkan seolah-olah mereka adalah musuh bebuyutan?
(Bersambung ke Bab 4...)
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar