Malam setelah kejadian di Restoran Aviano terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Di dalam mobil SUV mewah yang melaju membelah jalanan Jakarta, keheningan terasa begitu pekat. Kania menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap lampu-lampu kota yang mengabur karena rintik hujan mulai turun.
Ia melirik Arkan dari sudut matanya. Pria itu fokus mengemudi, tangannya yang kokoh memegang kemudi dengan tenang. Kania ingin bertanya banyak hal—tentang kartu hitam itu, tentang mobil ini, tentang siapa dia sebenarnya—tapi lidahnya terasa kelu. Ada rasa malu yang teramat sangat karena ia baru saja diselamatkan oleh pria yang ia rendahkan.
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Kania akhirnya, suaranya nyaris berbisik.
"Melakukan apa?"
"Menyelamatkanku. Kau bisa saja membiarkanku malu di depan Manda dan Sheila. Itu kan yang kau inginkan? Menunjukkan kalau aku tidak berdaya tanpa uang Papa?"
Arkan membelokkan mobil ke halaman rumah. Ia mematikan mesin, lalu menoleh ke arah Kania. Tatapannya tidak mengandung amarah, hanya ketulusan yang membuat dada Kania sesak. "Aku suamimu, Kania. Menjagamu bukan tentang kompetisi siapa yang lebih kuat. Itu adalah janji yang kuucapkan di depan ayahmu dan di hadapan Tuhan."
Kania terdiam. Ia segera membuka pintu mobil dan lari masuk ke dalam rumah, menghindari rintik hujan sekaligus menghindari gejolak di hatinya.
Namun, karma tampaknya belum selesai bermain. Malam itu, suhu tubuh Kania mendadak naik. Mungkin karena stres yang menumpuk, kelelahan, atau karena ia sempat terkena air hujan saat berlari tadi. Ia menggigil di atas sofa kamarnya, mencoba membungkus dirinya dengan selimut tebal, namun giginya tetap berderit.
Tok! Tok!
Pintu kamar diketuk pelan. "Kania? Kau belum tidur? Aku mendengar suaramu merintih," suara Arkan terdengar dari balik pintu.
Kania tidak menjawab, ia terlalu lemas bahkan untuk sekadar berteriak menyuruh Arkan pergi. Pintu terbuka perlahan. Arkan masuk membawa segelas air hangat. Begitu melihat Kania yang pucat dan menggigil, ia segera meletakkan gelas itu dan menghampirinya.
"Badanmu panas sekali," ujar Arkan setelah menempelkan punggung tangannya di kening Kania.
"Jangan sentuh aku..." rintih Kania lemah, meski tangannya justru mencengkeram lengan baju Arkan karena kedinginan.
Arkan tidak memedulikan penolakan itu. Dengan sigap, ia mengangkat tubuh Kania dari sofa dan memindahkannya ke tempat tidur yang lebih nyaman. Ia menyelimuti gadis itu hingga sebatas dada. Tak lama kemudian, Arkan kembali dengan sebaskom air hangat dan handuk kecil.
Sepanjang malam, Arkan tidak tidur. Ia duduk di kursi samping tempat tidur, mengganti kompres di dahi Kania setiap kali handuk itu mulai mengering. Ia juga dengan sabar menyuapkan sesendok demi sesendok bubur instan yang ia buatkan agar Kania bisa meminum obat.
Dalam setengah kesadarannya, Kania merasakan jemari Arkan yang kasar namun lembut mengusap rambutnya yang basah oleh keringat dingin. Ia mendengar Arkan membisikkan doa-doa penenang yang entah mengapa membuat rasa sakit di kepalanya perlahan sirna.
Pria ini... kenapa dia begitu baik padaku? batin Kania sebelum akhirnya terlelap jauh ke dalam mimpi.
Keesokan paginya, Kania terbangun dengan perasaan yang jauh lebih segar. Matahari mulai mengintip dari balik tirai. Ia menoleh ke samping dan menemukan Arkan tertidur dalam posisi duduk di kursi, kepalanya bersandar pada pinggiran tempat tidur.
Kania tertegun melihat wajah suaminya dari dekat tanpa hijab kebencian yang biasanya ia pakai. Arkan memiliki garis rahang yang tegas dan wajah yang sebenarnya sangat tampan, tipe ketampanan yang klasik dan berwibawa. Di meja samping tempat tidur, selain sisa air kompres, Kania melihat ponsel Arkan yang menyala karena sebuah pesan masuk.
Ia tidak bermaksud mengintip, namun nama pengirimnya begitu mencolok: "Wirawan Sudrajat".
Pesannya singkat: "Pulanglah. Jangan membuang waktumu di tempat kotor itu. Ayah menunggumu."
Kania mengerutkan kening. Siapa Wirawan Sudrajat? Kenapa namanya terdengar sangat familiar?
Rasa ingin tahu itu membuncah, namun ia segera memejamkan mata kembali saat melihat Arkan mulai terjaga. Arkan meregangkan otot-ototnya yang kaku, lalu segera memeriksa kening Kania lagi.
"Syukurlah, panasmu sudah turun," gumam Arkan lega. Ia beranjak berdiri. "Aku akan ke masjid sebentar untuk membantu persiapan salat Jumat. Ada sarapan di meja. Jangan dipaksakan ke kampus kalau masih lemas."
Setelah Arkan pergi, Kania tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Ia bangkit dengan langkah yang masih sedikit goyah, menuju kamar tamu tempat Arkan menyimpan barang-barangnya. Inilah momen yang membawanya menemukan majalah bisnis dan kliping koran lama itu—jejak masa lalu yang mengungkap bahwa suaminya bukan sekadar marbot, melainkan seorang sultan yang sedang menepi.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar