Suasana kamar yang luas itu terasa mencekik. Bagi Kania, kehadiran Arkan di sana bukan sekadar gangguan, melainkan invasi terhadap privasinya. Sejak tadi, ia meringkuk di sofa panjang dengan selimut yang ditarik hingga ke dagu, matanya terpejam namun otaknya berputar liar. Ia bisa mendengar suara gesekan halus kain—mungkin Arkan sedang merapikan pakaiannya ke dalam lemari kecil yang disisakan Kania.

"Kau tidak harus tidur di sana, Kania. Sofa itu keras," suara Arkan memecah keheningan dengan nada datar namun tenang.

Kania membuka matanya, menatap tajam ke arah suaminya yang kini duduk di tepi tempat tidur berukuran king size. "Lebih baik badanku pegal karena sofa keras daripada harus berbagi tempat tidur dengan orang asing. Dan jangan panggil namaku seolah kita akrab."

Arkan hanya menghela napas pendek. Ia tidak membantah. "Terserah kau saja. Tapi besok pagi pukul lima, kita harus sudah siap. Papa dan Mama ingin kita mengantar ke bandara sebelum aku pergi ke masjid untuk tugas subuh."

"Aku tahu! Tidak perlu kau ingatkan terus-menerus," ketus Kania. Ia membalikkan badan, memunggungi Arkan, mencoba mencari posisi nyaman meski hatinya dongkol setengah mati.

Malam itu, Kania baru menyadari betapa sunyinya rumah mereka ketika hanya ada mereka berdua. Biasanya, ia akan menghabiskan waktu dengan menelepon Manda atau Sheila hingga larut malam, membicarakan tren fashion atau gosip kampus. Namun malam ini, ia merasa seolah-olah ditarik paksa dari dunianya yang gemerlap ke dalam sebuah ruang kedap suara yang membosankan.

Di sisi lain tempat tidur, Arkan belum juga memejamkan mata. Ia menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu kristal. Kontras sekali dengan langit-langit kamarnya di mesjid yang hanya berupa beton polos dengan bercak lembap. Arkan menyentuh dadanya, merasakan debaran yang bukan karena cinta, melainkan karena beban tanggung jawab yang baru saja diletakkan di pundaknya.

Ia teringat percakapannya dengan Pak Baskoro, ayah Kania, sebulan yang lalu. "Arkan, aku tahu siapa kamu sebenarnya. Aku tahu siapa ayahmu. Aku tidak peduli dengan konflik kalian. Aku hanya melihat bahwa kamu adalah pria paling jujur yang pernah kutemui. Tolong, jaga putriku yang keras kepala itu. Dia butuh seseorang yang bisa membimbingnya tanpa menekannya."

Arkan menutup mata. Membimbing Kania? Gadis itu lebih mirip badai yang siap menghancurkan apa saja yang menghalanginya.


Pukul empat pagi, alarm di ponsel Kania menjerit nyaring. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, ia bangkit dari sofa. Punggungnya terasa kaku dan lehernya miring. Ia melihat ke arah tempat tidur; sudah rapi. Arkan tidak ada di sana.

Kania melangkah ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin. Saat ia keluar kamar, aroma sedap nasi goreng dan telur mata sapi merayap masuk ke indra penciumannya. Ia mengerutkan kening. Siapa yang masak? Bi Ana kan sudah pulang kampung.

Di dapur, ia melihat Arkan masih mengenakan sarung dan baju koko, namun tangannya cekatan mengaduk nasi di atas wajan. Arkan menoleh sekilas. "Mandilah. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu dan orang tuamu. Kita harus berangkat tiga puluh menit lagi."

"Kau bisa memasak?" tanya Kania spontan, rasa herannya mengalahkan gengsinya sejenak.

"Hidup sendiri di perantauan mengajarkanku banyak hal, termasuk bertahan hidup tanpa bantuan pelayan," jawab Arkan tenang sembari memindahkan nasi ke piring.

Kania tertegun sejenak. Gaya bicara Arkan tidak terdengar seperti orang yang kurang pendidikan. Caranya memegang peralatan dapur, cara ia menata meja, semuanya terlihat sangat sistematis dan berkelas. Namun, Kania segera menepis pikiran itu. Mungkin dia memang sudah terbiasa menjadi pelayan di masjid, pikirnya sinis.

Perjalanan ke bandara berlangsung dalam keheningan yang emosional. Di kursi belakang mobil yang dikemudikan Arkan, Pak Baskoro dan Ibu Siska terus memberikan wejangan.

"Arkan, Papa titip Kania. Jangan manjakan dia terlalu berlebihan, tapi jangan biarkan dia kekurangan," pesan Pak Baskoro sambil menepuk bahu Arkan dari belakang.

"Insya Allah, Pa. Arkan akan lakukan yang terbaik," jawab Arkan sambil tetap fokus pada kemudi.

Kania yang duduk di samping Arkan hanya menatap ke luar jendela, pura-pura sibuk dengan ponselnya. Di grup WhatsApp kampusnya, Manda mengirimkan pesan: “Kania! Besok malam ada party di rumah Raka. Lo harus dateng! Katanya bakal ada pengusaha muda yang mau join. Siapa tahu dapet gebetan baru!”

Jari Kania gemetar. Ia melirik Arkan yang sedang tersenyum sopan meladeni obrolan ayahnya. Gebetan baru? Aku bahkan sudah punya suami yang identitasnya harus kusembunyikan setengah mati, batinnya pahit.

Sesampainya di terminal keberangkatan, Ibu Siska memeluk Kania erat. "Jadilah istri yang berbakti, Nak. Arkan itu berkah untukmu."

Kania hanya mengangguk terpaksa. Begitu pesawat yang membawa orang tuanya lepas landas, Kania langsung menjauh dari Arkan. Ia berjalan cepat menuju area parkir.

"Tunggu, Kania," panggil Arkan.

Kania berhenti dan berbalik, kacamata hitamnya bertengger angkuh di hidung. "Dengar, Arkan. Orang tuaku sudah pergi. Peran 'suami-istri bahagia' ini berakhir di sini. Kau mau ke masjid, silakan. Aku mau ke kampus. Jangan coba-coba menjemputku kecuali aku yang minta. Dan ingat, kalau teman-temanku melihatmu, kau adalah sepupuku yang kerja di kantor Papa. Mengerti?"

Arkan menatap Kania lurus-lurus. Tidak ada kemarahan di matanya, hanya ada sorot prihatin yang mendalam. "Aku tidak suka berbohong, Kania. Tapi jika itu yang membuatmu merasa aman, aku akan diam. Namun ingat satu hal, kebohongan biasanya punya cara sendiri untuk menunjukkan dirinya."

Arkan merogoh saku bajunya, mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan meletakkannya di tangan Kania. "Ini untuk ongkos taksimu hari ini. Mobil ini akan kupakai untuk mengangkut logistik masjid sebentar, setelah itu akan kuletakkan di rumah."

Kania menatap uang itu dengan hina. Uang itu lusuh, seolah telah berpindah tangan berkali-kali. "Aku tidak butuh uang recehmu. Aku punya kartu kredit."

"Pakai saja. Kartu kreditmu mungkin akan diawasi Papa selama beliau di tanah suci," ujar Arkan tenang sebelum berbalik pergi meninggalkan Kania yang terpaku di tengah keramaian bandara.

Kania meremas uang itu. Kesal, karena perkataan Arkan ada benarnya. Ayahnya memang mengancam akan membatasi pengeluarannya jika ia tidak mau menurut. Dengan perasaan campur aduk, ia melangkah menuju pangkalan taksi, tidak menyadari bahwa di kejauhan, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam sedang mengawasi mereka.

Di dalam sedan itu, seorang pria muda berambut klimis dengan senyum miring menyesap kopinya. "Jadi, itu kakakku yang terhormat? Menjadi supir dan marbot? Benar-benar menjijikkan," gumam Darel sambil menatap punggung Arkan yang kian menjauh. "Mari kita lihat, seberapa lama si Marbot ini bisa melindungi istrinya yang cantik itu dari duniaku."