Lampu-lampu neon Times Square yang berpijar dari kejauhan biasanya tampak seperti permata bagi Aura Kasandra. Namun malam ini, cahaya itu hanya terlihat seperti bintik-bintik menyakitkan yang menusuk retinanya. Di dalam aula ballroom salah satu hotel paling bergengsi di Manhattan, dentum musik deep house terasa seperti palu yang menghantam gendang telinganya berkali-kali.
Aura, yang baru saja dinobatkan sebagai "Asia’s Rising Star", seharusnya merayakan kesuksesan kontrak globalnya dengan agensi model internasional. Namun, tubuhnya berkata lain.
"Aura, kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali," suara Maya, manajernya, nyaris tenggelam oleh hiruk-pikuk tawa para eksekutif mode.
"Hanya... pusing, May. Mungkin jetlag-nya baru terasa sekarang," bohong Aura. Ia memegangi pinggiran meja, berusaha menyeimbangkan diri.
Sebenarnya, itu bukan jetlag. Beberapa menit yang lalu, seorang pria asing yang mengaku sebagai asisten produser memberikan segelas champagne. Aura yang biasanya waspada, merasa terlalu lelah untuk menolak. Namun, hanya butuh tiga tegukan untuk menyadari ada yang salah. Rasa panas yang tidak wajar mulai menjalar dari ulu hatinya, merambat ke pembuluh darah, dan membuat kulitnya yang putih porselen terasa seperti terbakar.
"Aku harus ke kamar, May. Jangan cari aku sampai besok pagi," bisik Aura sebelum ia menyelinap keluar melalui pintu samping, menghindari kejaran paparazi yang mungkin mengintai di lobi utama.
Langkah kaki Aura terasa berat. Karpet tebal di lorong lantai dua belas hotel itu terasa seperti rawa yang mengisap kakinya. Penglihatannya mulai berbayang. Angka-angka di pintu kamar seolah menari-nari.
1201... 1203... 1205...
Dunia di sekitar Aura mulai berputar. Napasnya pendek-pendek. Ia merasa seolah-olah oksigen di lorong mewah itu telah habis. Ia merogoh tas tangan kecilnya, mencari kartu kunci perak miliknya dengan jari yang gemetar hebat.
"Mana... mana kamarku?" erangnya pelan. Tubuhnya merosot sedikit, bersandar pada dinding wallpaper bermotif klasik.
Tepat di depan kamar 1208, ia berhenti. Logikanya yang sudah tumpul mengatakan bahwa ini adalah tempatnya. Ia mencoba menempelkan kartu itu ke panel elektronik, namun lampu merah terus berkedip. Tiiiit. Gagal. Ia mencobanya lagi. Tiiiit. Tetap gagal.
"Ayo... buka..." Aura mulai terisak kecil karena rasa frustrasi dan sensasi aneh yang semakin liar di dalam tubuhnya. Ia merasa sangat haus, namun bukan haus akan air. Ada dorongan instingtif yang menakutkan yang mulai menguasai kesadarannya.
Tiba-tiba, suara derit pintu terdengar. Bukan karena kartu Aura berhasil, melainkan karena seseorang dari dalam membukanya.
Aura nyaris jatuh tersungkur ke depan jika sebuah lengan kokoh tidak menangkap bahunya. Ia mendongak dengan mata yang sayu dan berkaca-kaca. Di hadapannya berdiri seorang pria yang tampak seolah baru saja keluar dari sampul majalah bisnis kelas dunia.
Adrian Mahendra.
Adrian baru saja melepas dasinya, menyisakan dua kancing kemeja putihnya yang terbuka, menampakkan leher yang jenjang dan aura otoritas yang tak terbantahkan. Ia sedang menunggu "janji" yang dikatakan sekretarisnya—seorang wanita yang konon dikirim untuk menghiburnya malam ini setelah negosiasi akuisisi yang melelahkan.
Adrian mengerutkan kening, menatap wanita di pelukannya. Wajah itu tidak asing. Ia sering melihatnya di baliho raksasa saat ia mendarat di Jakarta bulan lalu.
"Aura Kasandra?" Adrian bergumam, suaranya berat dan serak, mengirimkan getaran aneh ke tulang belakang Aura. "Wah... aku tidak menyangka agenku sehebat ini. Apa benar gosip itu? Bahwa ikon pop sepertimu punya pekerjaan sampingan... melayani pria di kamar hotel?"
Aura tidak bisa memproses kata-kata itu. Yang ia tahu, tangan pria ini terasa dingin dan menenangkan di kulitnya yang panas membara. "Panas..." bisik Aura, jemarinya yang lentur tanpa sadar mencengkeram kemeja Adrian, menariknya lebih dekat.
Adrian tersenyum sinis. Baginya, ini adalah bagian dari akting. Ia terbiasa dengan wanita yang pura-pura mabuk atau pura-pura malu untuk meningkatkan "nilai jual" mereka. Namun, saat ia menatap lebih dalam ke mata Aura, ia melihat pupil wanita itu melebar secara tidak wajar. Ada kilat keputusasaan yang tulus di sana.
"Siapa... siapa kamu?" tanya Aura lirih. Wangi parfum kayu cendana dan citrus dari tubuh Adrian mulai memenuhi indra penciumannya, membuatnya semakin pening.
"Pria yang memegang kuncimu malam ini," jawab Adrian arogan. Ia menarik Aura masuk ke dalam kamar yang hanya diterangi oleh lampu temaram di sudut ruangan. Pintu tertutup dengan bunyi klik yang final, mengunci suara bising dunia luar.
Di dalam kamar suite yang luas itu, ketegangan terasa begitu pekat. Adrian melepaskan pegangannya, berniat mengambil segelas air, namun Aura tidak membiarkannya pergi. Wanita itu justru memeluknya dari belakang, menyandarkan wajahnya di punggung Adrian yang lebar.
"Tolong... bantu aku..." Aura terisak. Obat yang bekerja di tubuhnya telah meruntuhkan seluruh harga dirinya sebagai seorang bintang.
Adrian tertegun. Ia telah bertemu ribuan wanita, namun tidak ada yang pernah mengeluarkan suara seringkih ini. Ia membalikkan tubuh, memegang dagu Aura agar wanita itu menatapnya. Di bawah cahaya lampu redup, Aura tampak begitu rapuh, sangat kontras dengan citra diva yang selalu ia tampilkan di panggung.
"Kau tahu apa yang kau minta, Aura?" tanya Adrian, suaranya kini lebih rendah, lebih berbahaya. "Jika kita melangkah lebih jauh, tidak ada jalan kembali. Aku bukan pria yang suka berbagi, dan aku tidak suka drama."
Adrian mengangkat tubuh Aura dengan mudah, membawanya menuju ranjang king size yang dilapisi sprei sutra putih. Saat tubuh Aura menyentuh kasur yang empuk, ia merasa seolah-olah ia sedang tenggelam di awan.
Adrian menatapnya sejenak, menimbang-nimbang. Sebagai seorang pengusaha sukses, ia selalu menghitung risiko. Namun malam ini, di tengah kota New York yang tidak pernah tidur, ia memutuskan untuk mengabaikan semua logika.
"Kau yang menginginkan ini," bisik Adrian di telinga Aura sebelum ia menenggelamkan diri dalam malam yang akan mengubah sejarah hidup mereka berdua selamanya.
Malam itu, di kamar 1208, tidak ada lagi sang bintang pop atau sang miliarder. Yang ada hanyalah dua jiwa yang terjebak dalam pusaran takdir yang salah alamat. Aura tidak tahu bahwa pria yang bersamanya adalah orang yang paling dihindari oleh banyak orang di dunia bisnis karena kekejamannya. Dan Adrian tidak menyadari bahwa wanita di bawahnya bukanlah "wanita pesanan", melainkan seorang gadis yang masih menyimpan kesuciannya dengan rapat di tengah gemerlapnya dunia hiburan yang kotor.
Lampu kota Manhattan terus berkedip di balik jendela kaca besar, menjadi saksi bisu atas sebuah kesalahan fatal yang dilakukan dengan penuh perasaan. Setiap sentuhan, setiap napas yang beradu, dan setiap janji bisu yang terucap di tengah kegelapan malam itu seolah merajut benang-benang konflik yang akan segera meledak.
Saat fajar mulai mengintip dari balik gedung-gedung pencakar langit, kehidupan Aura Kasandra yang sempurna telah hancur, digantikan oleh sebuah rahasia besar yang akan membawanya pada perjalanan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Pintu yang salah itu bukan sekadar pintu kamar hotel; itu adalah pintu menuju sebuah labirin emosi, pengkhianatan, dan pencarian cinta yang sesungguhnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar