Satu minggu telah berlalu sejak malam yang menentukan di Manhattan, namun bagi Aura Kasandra, waktu seolah berhenti berputar di kamar 1208. New York yang biasanya memberikan inspirasi, kini terasa seperti penjara terbuka yang menyesakkan. Setiap kali ia memejamkan mata, ia kembali merasakan sentuhan dingin Adrian Mahendra dan aroma kayu cendana yang kini ia benci sekaligus ia ingat dengan sangat detail.

Aura duduk di depan meja rias di apartemen sewaannya yang mewah di Upper West Side. Maya, manajernya, sedang sibuk mondar-mandir di belakangnya sambil berbicara di telepon dengan nada tinggi.

"Ya, saya tahu jadwal pemotretannya padat! Aura akan siap dalam sepuluh menit. Tolong siapkan kopi hitam tanpa gula untuknya," tegas Maya sebelum menutup telepon dengan kasar.

Maya menatap pantulan wajah Aura di cermin. "Aura, kau melamun lagi. Pakai syalmu. Kenapa kau bersikeras memakai syal sutra itu di cuaca yang mulai menghangat begini? Kau bisa kegerahan."

Aura tersentak, jemarinya refleks menyentuh lehernya. Di balik kain sutra mahal itu, terdapat jejak kemerahan yang belum sepenuhnya pudar—sebuah tanda kepemilikan yang ditinggalkan Adrian di tengah gairah buta mereka. "Aku... aku hanya merasa sedikit kedinginan, May. Mungkin efek kelelahan."

"Kau pucat, Aura. Sejak malam pesta agensi itu, kau berubah. Kau lebih banyak diam, dan kau hampir tidak menyentuh makananmu. Apa ada sesuatu yang terjadi yang tidak kau ceritakan padaku?" tanya Maya, matanya menyelidik dengan tajam. Sebagai manajer sekaligus sahabat, Maya memiliki intuisi yang kuat.

Aura memaksakan senyum tipis yang tampak sangat rapuh. "Hanya kelelahan kerja, May. Jangan khawatir."

Di dalam hati, Aura ingin berteriak. Ia ingin menumpahkan segala ketakutannya. Namun, kontrak kerahasiaan yang secara tidak langsung ia "setujui" dengan membiarkan kejadian itu berlalu tanpa melapor, serta bayang-bayang kehancuran karier, membuatnya bungkam. Ia merasa seperti berjalan di atas seutas tali tipis di tengah badai.

Sementara itu, di lantai teratas gedung Mahendra Group yang menghadap langsung ke arah Central Park, Adrian Mahendra sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Di depannya, setumpuk laporan keuangan perusahaan yang seharusnya ia tinjau hanya berakhir menjadi pajangan.

Pikirannya terus kembali pada wajah Aura saat tertidur di fajar itu. Noda di sprei putih itu terus menghantuinya seperti sebuah dosa yang tidak bisa ia hapus dari neraca kehidupannya.

"Sudah kau temukan?" tanya Adrian tanpa menoleh saat sekretaris pribadinya, Bram, masuk ke ruangan.

Bram mengangguk sopan. "Sudah, Tuan. Kamera CCTV di lorong hotel menunjukkan bahwa Nona Aura Kasandra memang salah memasuki kamar. Dia tampak tidak stabil, ada indikasi dia diberi sesuatu dalam minumannya saat pesta di lantai bawah. Dan... agen yang saya pesan malam itu ternyata tertahan di lobi karena masalah identitas. Jadi, wanita yang bersama Anda malam itu murni sebuah kecelakaan."

Adrian memejamkan mata rapat-rapat. Rahangnya mengeras. Kecelakaan. Kata itu terasa sangat merendahkan bagi seseorang yang selalu merencanakan segalanya dengan presisi seperti dirinya.

"Hancurkan semua rekaman CCTV itu. Pastikan tidak ada satu salinan pun yang tersisa. Dan cari tahu siapa yang memberi obat pada wanita itu," perintah Adrian dingin.

"Baik, Tuan. Lalu, mengenai Nona Aura... apa ada langkah selanjutnya?"

Adrian terdiam sejenak. Ia teringat bagaimana Aura memeluknya malam itu, bagaimana suara tangisnya yang lirih seolah meminta perlindungan. "Pantau dia. Jangan biarkan dia mendekati pers. Jika dia butuh sesuatu, pastikan itu tersedia tanpa dia tahu itu dariku. Tapi jangan pernah tunjukkan wajahmu di hadapannya."

Adrian ingin menjauh, namun rasa bersalah yang asing mulai menggerogoti logikanya. Ia adalah pemangsa di dunia bisnis, namun merenggut kesucian seorang gadis yang sedang tidak berdaya bukanlah gaya mainnya. Ia merasa kotor dengan caranya sendiri.

Sore harinya, Aura berada di sebuah studio foto di Brooklyn untuk pemotretan sampul majalah mode ternama. Lampu-lampu flash menyambar wajahnya berkali-kali. Aura adalah seorang profesional; di depan kamera, ia bisa menyembunyikan badai batinnya dan menampilkan sosok diva yang tangguh dan mempesona.

Namun, di tengah sesi, rasa mual yang hebat tiba-tiba menyerang ulu hatinya. Bau parfum ruangan yang tajam dan aroma kopi dari kru studio terasa seperti racun bagi indra penciumannya.

"Aura? Pose-mu mulai kaku," tegur sang fotografer.

Aura mencoba menarik napas panjang, namun dunia di sekitarnya mulai bergoyang. "Maaf, bisakah kita istirahat lima menit?"

Tanpa menunggu jawaban, Aura berlari menuju kamar mandi studio. Ia mengunci pintu dan langsung menunduk di depan wastafel. Ia merasa ingin memuntahkan seluruh isi perutnya, meski yang keluar hanyalah cairan bening karena ia belum makan apa pun sejak pagi.

Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, menatap pantulannya di cermin. Matanya tampak lebih sayu dari biasanya. Aura mencoba mengatur napas, namun tangannya kembali gemetar saat ia menghitung siklus bulanannya di dalam kepala.

Seharusnya sudah datang tiga hari yang lalu, pikirnya dengan jantung yang berdegup kencang.

"Tidak... tidak mungkin," bisiknya pada diri sendiri. "Hanya satu malam. Dan aku... aku tidak mungkin sesial itu."

Aura mencoba meyakinkan dirinya bahwa keterlambatan itu hanya karena stres dan kelelahan. Namun, firasat seorang wanita jauh lebih tajam daripada logika mana pun. Ia teringat kembali pada momen-momen di kamar hotel itu—Adrian tidak menggunakan pengaman apa pun.

Ketakutan baru yang jauh lebih mengerikan dari sekadar skandal mulai menyelimuti benaknya. Jika malam itu meninggalkan jejak di lehernya, bagaimana jika malam itu juga meninggalkan jejak kehidupan di dalam rahimnya?

Aura keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai. Di sudut studio, ia melihat televisi yang menyiarkan berita bisnis. Wajah Adrian Mahendra muncul di sana, sedang memberikan pernyataan tentang akuisisi sebuah perusahaan teknologi. Adrian tampak begitu tenang, begitu berkuasa, seolah-olah ia tidak pernah menghancurkan hidup seseorang dalam semalam.

Aura mengepalkan tangannya. Kebencian mulai tumbuh, menggantikan rasa takutnya. Pria itu ada di sana, di puncak dunia, sementara dirinya di sini, berjuang untuk tetap tegak di bawah bayang-bayang kehancuran.

"Aura, ayo kembali ke set!" panggil Maya.

Aura memperbaiki syalnya, memastikan jejak merah itu tertutup rapat. Ia berjalan kembali ke arah lampu-lampu terang, berjanji pada dirinya sendiri bahwa apa pun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan Adrian Mahendra melihatnya hancur. Namun, ia tidak tahu bahwa jejak merah di kulitnya hanyalah awal dari ikatan darah yang tidak akan pernah bisa ia putuskan.

Malam itu, saat kembali ke apartemen, Aura tidak langsung tidur. Ia duduk di balkon, menatap lampu-lampu Manhattan yang berkilauan. Ia merogoh ponselnya, mencari nama Adrian Mahendra di mesin pencari. Ribuan artikel muncul—tentang kekayaannya, tentang wanita-wanita cantik di sekelilingnya, dan tentang sifatnya yang dingin.

Aura mematikan ponselnya. Ia merasa sangat sendirian di kota sebesar ini. Ia merindukan ayahnya, ia merindukan aroma tanah basah di Kotagede, dan ia merindukan masa ketika hidupnya masih miliknya sendiri. Kini, ia merasa seperti properti yang rusak, menunggu waktu untuk dibuang atau ditemukan.

Dan di seberang kota, Adrian Mahendra sedang menyesap wiski di ruang kerjanya, menatap jam tangan platinum dengan inisial A.M. yang baru saja diantarkan kembali oleh staf hotel dari kamarnya semalam. Ia teringat Aura pernah menyentuh jam ini. Ia merasa seolah-olah aura wanita itu masih tertinggal di sana, sebuah gangguan yang tidak bisa ia usir dari pikirannya.

Dua orang, satu rahasia, dan jejak yang tak terhapuskan. New York tetap bising, namun bagi mereka berdua, keheningan baru saja dimulai.


Bersambung ke Bab 4...