Aura Kasandra tidak pernah menyangka bahwa keberaniannya akan diuji sedemikian rupa di sebuah lokasi pemotretan luar ruangan di DUMBO, Brooklyn. Dengan latar belakang Jembatan Manhattan yang megah dan angin dingin yang berembus dari East River, Aura seharusnya fokus pada ekspresi wajahnya yang harus tampak fierce untuk kampanye terbaru sebuah merek jam tangan mewah.

Namun, setiap kali lampu kilat menyambar, ia merasa dunianya bergetar. Keterlambatan siklus bulanannya kini sudah memasuki hari ke-sepuluh. Gejala mual yang datang dan pergi mulai membuatnya paranoid.

"Bagus, Aura! Sekarang lihat ke arah sungai, berikan tatapan yang lebih misterius!" teriak fotografer.

Aura menoleh, namun pandangannya justru tertuju pada sebuah SUV hitam mengkilap yang terparkir tidak jauh dari lokasi pemotretan. Kaca filmnya begitu gelap, namun Aura bisa merasakan ada sepasang mata yang mengawasinya dari dalam sana. Perasaan diawasi ini sudah ia rasakan sejak tiga hari terakhir.

"May," bisik Aura saat jeda penggantian kostum. "Mobil itu... apa itu paparazi?"

Maya menatap ke arah yang ditunjuk Aura. "Bukan. Itu bukan gaya paparazi New York. Mereka biasanya lebih berisik. Mobil itu... terlihat seperti kendaraan diplomat atau pengusaha kelas kakap. Mungkin hanya orang kaya yang sedang menikmati pemandangan."

Aura tidak percaya. Ia tahu itu bukan sekadar penikmat pemandangan.

Benar saja, saat sesi pemotretan berakhir dan Aura berjalan menuju van pribadinya untuk berganti pakaian, seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam menghalangi jalannya. Itu adalah Bram, sekretaris Adrian.

"Nona Aura Kasandra? Tuan saya ingin berbicara dengan Anda. Sebentar saja," ujar Bram dengan nada sopan namun mengandung perintah yang tak bisa dibantah.

"Siapa tuanmu?" Aura bertanya, meski jantungnya sudah berdegup kencang karena ia sudah tahu jawabannya.

Bram hanya menunjuk ke arah SUV hitam yang kini pintunya terbuka sedikit. Aura menatap Maya, memberi isyarat agar manajernya menunggu. Dengan langkah gemetar namun kepala tetap tegak, Aura mendekati mobil itu.

Pintu terbuka sepenuhnya. Di dalam sana, duduk Adrian Mahendra. Ia tampak sempurna—terlalu sempurna untuk seorang pria yang telah menghancurkan hidup seseorang. Adrian mengenakan kemeja biru navy tanpa dasi, lengannya digulung hingga siku, menampakkan jam tangan platinum yang inisialnya sempat Aura lihat di hotel.

"Masuk, Aura. Kita tidak punya banyak waktu sebelum manajermu mulai memanggil polisi," suara Adrian rendah dan berwibawa.

Aura masuk dan duduk di kursi kulit yang dingin. Pintu tertutup secara otomatis, menciptakan keheningan kedap suara yang menyesakkan. Aroma kayu cendana itu lagi. Aura merasa mualnya kembali bangkit.

"Apa yang kau inginkan?" Aura langsung menyerang. "Jika ini tentang malam itu, aku sudah menganggapnya tidak pernah ada. Jadi, pergilah."

Adrian menatap Aura dengan intensitas yang membuat Aura ingin berpaling. "Aku menghargai usahamu untuk melupakan, tapi sayangnya, dunia tidak bekerja seperti itu. Aku tahu siapa kau, Aura. Dan aku juga tahu apa yang terjadi di pesta agensimu malam itu. Kau diberi obat."

Aura tersentak. "Bagaimana kau—"

"Aku punya sumber daya untuk tahu segalanya," potong Adrian. Ia menyodorkan sebuah map kulit berwarna hitam. "Ini adalah Kontrak Keheningan. Di dalamnya tertulis bahwa kedua belah pihak sepakat untuk tidak pernah membicarakan, membocorkan, atau mengakui kejadian di hotel itu kepada siapa pun, termasuk keluarga, media, atau otoritas."

Aura tertawa hambar, matanya berkaca-kaca karena amarah. "Kau datang jauh-jauh hanya untuk melindungimu sendiri? Kau takut reputasi Mahendra Group tercoreng karena CEO-nya meniduri artis mabuk?"

"Aku melindungimu juga, Aura," ujar Adrian dingin. "Jika ini bocor, kariermu yang baru mekar akan layu dalam semalam. Kau akan dianggap sebagai wanita yang menggunakan tubuhnya untuk mendekati miliarder. Di negaramu yang konservatif, kau akan habis."

Aura terdiam. Adrian benar, dan itulah yang paling menyakitkan.

"Bacalah. Di sana ada poin kompensasi. Aku akan memastikan seluruh kampanye globalmu berjalan mulus tanpa hambatan finansial. Sebagai gantinya, kau tutup mulut. Selamanya."

Aura membaca dokumen itu dengan tangan gemetar. Matanya terpaku pada poin yang menyebutkan bahwa ia dilarang menuntut apa pun di masa depan terkait hubungan fisik yang terjadi. Adrian benar-benar memikirkan segalanya. Ia ingin memastikan Aura tidak akan pernah bisa mengklaim apa pun darinya.

"Ambil penamu," perintah Adrian.

Aura mengambil pena emas yang disodorkan Adrian. Sebelum menandatanganinya, ia menatap Adrian dengan kebencian murni. "Kau pikir uang bisa menghapus semuanya? Kau pikir kontrak ini bisa membuatku merasa bersih kembali?"

"Bersih atau tidak adalah masalah perspektif, Aura. Yang aku tawarkan adalah keamanan," jawab Adrian datar.

Sret. Sret. Aura menandatangani dokumen itu. Ia merasa seolah-olah baru saja menjual jiwanya pada iblis. Ia melempar map itu ke pangkuan Adrian.

"Sudah selesai. Sekarang, jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Aku tidak ingin melihat wajahmu, apalagi mencium bau parfummu yang menjijikkan ini," desis Aura.

Ia segera keluar dari mobil, tidak menoleh lagi. Adrian menatap punggung Aura yang menjauh. Ia melihat bagaimana wanita itu sedikit terhuyung saat berjalan, bagaimana tangannya memegang perutnya secara tidak sadar.

Adrian menutup map itu. Ia merasa menang, secara hukum. Namun, ada sesuatu di dada kirinya yang terasa tidak nyaman saat melihat Aura menangis tanpa suara di balik kacamata hitamnya.

"Jalan," perintah Adrian pada sopirnya.

Di dalam van-nya, Aura jatuh terduduk. Ia menangis sejadi-jadinya. Maya yang baru masuk terkejut dan mencoba memeluknya.

"Ada apa, Aura? Apa yang dikatakan pria di mobil itu?"

"Bukan apa-apa, May... aku hanya... aku ingin pulang ke Indonesia. Sekarang juga. Batalkan semua jadwal yang bisa dibatalkan. Aku ingin pulang ke rumah Bapak," isak Aura.

Aura merasa New York telah merampas segalanya. Dan yang paling mengerikan adalah, ia merasa kontrak yang baru saja ia tanda tangani akan menjadi bumerang. Ia teringat mualnya pagi ini. Jika benar ada kehidupan yang tumbuh di dalam dirinya, kontrak itu baru saja memutus satu-satunya jalan bagi anak itu untuk memiliki seorang ayah.

Namun bagi Aura, lebih baik anaknya tidak memiliki ayah daripada memiliki ayah seperti Adrian Mahendra—pria yang menganggap manusia dan perasaan hanya sebagai angka-angka dalam sebuah kontrak.


Bersambung ke Bab 5...