Cahaya fajar yang pucat merayap masuk melalui celah gorden suite mewah di lantai dua belas, membelah kegelapan kamar yang masih menyisakan aroma parfum kayu cendana dan sisa-sisa gairah yang menyesakkan. Manhattan di pagi hari tampak tenang dari ketinggian ini, namun di dalam ruangan itu, keheningan terasa begitu tajam, seolah siap menguliti siapa pun yang berani terjaga lebih dulu.

Adrian Mahendra membuka matanya. Ia tidak terbiasa bangun di samping seseorang. Biasanya, setelah urusannya selesai, ia akan segera pergi atau meminta wanita itu untuk keluar sebelum matahari terbit. Namun kali ini berbeda. Kepalanya berdenyut ringan, bukan karena alkohol—karena ia tidak minum banyak semalam—melainkan karena beban kenyataan yang perlahan mulai menghantam kesadarannya.

Ia menoleh ke samping. Aura Kasandra masih terlelap. Rambut hitam panjangnya tersebar berantakan di atas bantal sutra putih, menutupi sebagian wajahnya yang tampak begitu damai dalam tidurnya. Namun, pandangan Adrian tidak berhenti di wajah itu. Matanya terpaku pada noda merah kecil yang mengering di atas sprei putih bersih tepat di bawah tubuh Aura.

Jantung Adrian seolah berhenti berdetak sesaat.

Sebagai pria yang telah melanglang buana di dunia bisnis dan pergaulan kelas atas, Adrian tahu persis apa arti noda itu. Seluruh spekulasi sinis yang ia lontarkan semalam—bahwa Aura adalah wanita pesanan atau artis yang menjual diri—runtuh seketika. Tidak mungkin seorang wanita yang "berjualan" masih memiliki tanda kesucian itu.

"Sial," umpatnya pelan, nyaris tak terdengar.

Adrian bangkit dari tempat tidur, berusaha tidak menimbulkan suara. Ia memungut pakaiannya yang berserakan di lantai dengan gerakan mekanis. Otaknya yang biasanya bekerja seperti komputer kini sedang memproses skenario terburuk. Jika Aura benar-benar salah masuk kamar, dan jika dia benar-benar dalam pengaruh obat seperti yang sempat ia curigai semalam dari perilaku aneh wanita itu, maka Adrian baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Ia berdiri di dekat jendela, menatap sosok Aura yang masih bergelung di balik selimut. Ada dorongan dalam dirinya untuk membangunkannya, meminta maaf, atau setidaknya menjelaskan sesuatu. Namun, ego Mahendra yang besar menghalanginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapi emosi wanita yang terluka. Di dunia Adrian, semuanya bisa diselesaikan dengan uang dan kontrak, tetapi noda di sprei itu tidak bisa dihapus dengan cek bank mana pun.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Adrian mengambil selimut tambahan dari sofa dan menutup tubuh Aura dengan lembut, memastikan bahu wanita itu tidak kedinginan. Ia menatap wajah Aura sekali lagi—wajah yang selama ini hanya ia lihat di layar-layar besar Times Square sebagai simbol kecantikan yang tak tersentuh. Kini, simbol itu tampak begitu nyata dan rapuh di hadapannya.

Tanpa meninggalkan sepatah kata pun, tanpa secarik kertas pesan, Adrian melangkah keluar kamar. Ia harus segera menghubungi sekretarisnya. Ia harus memastikan tidak ada jejak CCTV yang merekam Aura masuk ke kamarnya. Ia harus mengubur malam ini sedalam mungkin sebelum dunia tahu bahwa Adrian Mahendra telah merenggut sesuatu yang paling berharga dari sang diva kebanggaan Asia.


Beberapa jam kemudian, matahari sudah tinggi. Aura terbangun dengan rasa sakit yang luar biasa menghantam kepalanya. Ia mengerang, mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa nyeri di bagian bawah tubuhnya membuatnya tersentak bangun sepenuhnya.

Ingatannya samar, namun potongan-potongan gambar mulai muncul seperti kepingan puzzle yang menyakitkan. Lorong hotel, rasa panas yang membakar, seorang pria dengan mata yang tajam namun menenangkan, dan... sentuhan.

Aura duduk dengan cepat, mengabaikan pusing yang membuatnya mual. Ia menyadari dirinya tidak mengenakan sehelai benang pun di balik selimut tebal ini. Ia menatap sekeliling ruangan yang asing. Ini bukan kamarnya. Kamarnya adalah 1206, dan desain interior ruangan ini jauh lebih mewah daripada kamar yang dipesan agensinya.

Lalu, matanya menangkap bercak merah itu.

Dunia seolah runtuh seketika. Aura menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan teriakan yang ingin meledak dari tenggorokannya. Air mata mulai mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat. Semua prinsip yang ia jaga selama bertahun-tahun di industri hiburan yang kejam ini, semua janji pada ayahnya di Kotagede bahwa ia tidak akan pernah kehilangan jati dirinya, musnah dalam satu malam yang salah.

"Siapa..." bisiknya parau. "Siapa pria itu?"

Ia mencoba mengingat wajah pria itu. Ia ingat aura kekuasaan yang terpancar darinya. Ia ingat bagaimana pria itu memandangnya dengan hinaan sebelum akhirnya menyerah pada tarikan gairah. Aura merasa kotor. Ia merasa seolah-olah seluruh tubuhnya telah dicemari oleh sesuatu yang tidak ia inginkan.

Dengan terburu-buru dan napas tersengal, ia memungut gaun pestanya yang sudah kusut. Ia berlari ke kamar mandi, menyalakan pancuran air dingin, dan berdiri di bawahnya tanpa melepas pakaian. Ia menggosok kulitnya dengan kasar, berharap rasa dingin air bisa menghapus sisa-sisa sentuhan pria asing itu. Namun, semakin ia menggosok, semakin ia teringat bagaimana tangannya sendiri merengkuh pria itu semalam. Bagian tersakit dari kenyataan ini adalah kesadaran bahwa semalam, ia tidak menolak. Tubuhnya, yang dipengaruhi oleh obat jahat itu, justru menginginkannya.

Setelah merasa cukup tenang untuk berpikir, Aura keluar dari kamar mandi dan mengenakan kembali pakaiannya. Ia harus keluar dari sini. Ia tidak boleh terlihat oleh siapa pun.

Saat ia hendak melangkah keluar, matanya tertuju pada sebuah jam tangan mewah yang tertinggal di atas nakas. Jam tangan platinum dengan inisial A.M. di bagian belakangnya. Aura mengambilnya sejenak, menatap inisial itu dengan kebencian yang mendalam. Ia tidak tahu siapa A.M., tapi ia bersumpah tidak akan pernah ingin bertemu dengan pria itu lagi.

Ia meletakkan jam itu kembali, seolah benda itu adalah bara api yang panas. Ia membuka pintu kamar dengan hati-hati, memastikan lorong sepi, lalu berlari menuju lift.

Di dalam lift, Aura menatap pantulan dirinya di cermin. Rambutnya berantakan, matanya sembab, dan ada bekas kemerahan di lehernya yang tidak bisa disembunyikan. Ia segera menarik kerah gaunnya ke atas.

"May... aku harus menelepon Maya," gumamnya dengan tangan gemetar merogoh ponsel di tasnya.

Namun, sebelum ia sempat memencet nomor manajernya, sebuah pikiran menghantamnya. Bagaimana jika berita ini bocor? Kariernya yang baru saja memuncak akan hancur dalam semalam. Para sponsor akan menarik diri, kontrak film akan dibatalkan, dan yang paling penting, ayahnya akan sangat kecewa.

Aura menarik napas panjang, mencoba mendapatkan kembali kendali atas dirinya sendiri. Ia harus bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ia harus menelan kepahitan ini sendirian. Malam ini di New York harus dianggap sebagai mimpi buruk yang tidak pernah terjadi.

Ia tidak tahu bahwa takdir tidak pernah bekerja sesederhana itu. Pintu yang ia masuki semalam telah membuka lembaran baru yang penuh dengan duri. Dan inisial A.M. yang ia lihat di jam tangan itu akan segera menjadi nama yang paling sering ia dengar, baik dalam mimpinya maupun dalam kenyataan pahit yang akan datang.

Adrian Mahendra, di kantor perwakilannya di Wall Street, sedang menatap layar komputernya tanpa fokus. Di depannya ada laporan profil Aura Kasandra. Putri dari seorang pengrajin perak di Yogyakarta, lulusan terbaik sekolah seni, tidak pernah tersentuh skandal.

Adrian menutup laptopnya dengan keras. Ia tahu ia harus melakukan sesuatu. Bukan karena ia peduli pada Aura, tapi karena ia peduli pada kontrol. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Adrian merasa kehilangan kendali atas sebuah situasi.

Matahari Manhattan terus meninggi, menyinari dua orang yang kini terikat oleh rahasia yang sama, namun berada di kutub emosi yang berbeda. Aura yang berusaha melupakan, dan Adrian yang mulai merencanakan bagaimana cara membungkam kenyataan.