Aura duduk terdiam di kursi empuk kabin kelas satu pesawat yang membawanya kembali ke Jakarta. Di luar jendela, awan-awan putih bergulung seperti tumpukan kapas, namun di dalam kepalanya, badai yang sesungguhnya belum juga reda. Di pangkuannya, sebuah kotak beludru hitam berukuran kecil tampak mencolok. Itu adalah "hadiah terakhir" dari Adrian Mahendra yang dikirimkan melalui Bram, sesaat sebelum Aura berangkat ke bandara JFK.

Dengan tangan gemetar, Aura membuka kotak itu. Sebuah kalung berlian dengan mata berbentuk tetesan air mata berkilau terkena cahaya lampu pesawat. Berlian itu begitu murni, begitu jernih, dan pastinya sangat mahal. Namun bagi Aura, benda itu tidak lebih dari sekadar penghinaan yang dikemas dengan kemewahan.

"Kompensasi tambahan," begitu isi pesan singkat yang menyertainya.

Aura ingin sekali melemparkan kalung itu ke tempat sampah, namun ia teringat kontrak yang baru saja ditandatanganinya. Adrian tidak sedang memberikan hadiah; dia sedang memasang "borgol" emas. Berlian ini adalah pengingat bahwa suara Aura telah dibeli.

"Aura, kau melamun lagi?" suara Maya memecah keheningan. "Boleh aku lihat?"

Tanpa menunggu persetujuan, Maya mengambil kotak itu. Matanya membelalak. "Demi Tuhan, Aura! Ini koleksi Harry Winston. Siapa yang memberimu ini? Pria di mobil tempo hari?"

Aura mengalihkan pandangan ke jendela. "Hanya hadiah dari rekan bisnis sebagai bentuk apresiasi atas kerja sama di Manhattan."

"Apresiasi? Ini harganya setara dengan satu unit apartemen di Sudirman! Rekan bisnis macam apa yang memberikan perhiasan sekelas ini hanya sebagai 'apresiasi'?" Maya mulai curiga. "Aura, katakan padaku, apa kau menjalin hubungan dengan salah satu konglomerat di sana? Jika benar, ini bisa jadi berita besar, tapi kita harus mengaturnya dengan hati-hati."

"Tidak ada hubungan apa-apa, May. Tolong, jangan bahas lagi," potong Aura tajam. Nada suaranya yang tidak biasa membuat Maya terdiam, meski rasa penasaran masih terpancar jelas di wajahnya.

Aura memejamkan mata. Kebohongan pertama telah terucap. Dan ia tahu, ini hanya akan menjadi awal dari ribuan kebohongan lainnya.

Sementara itu, di sebuah griya tawang di pusat Jakarta, Adrian Mahendra baru saja mendarat dengan jet pribadinya beberapa jam lebih awal. Ia sedang menyesap kopi pahit sambil menatap pemandangan kota yang mulai macet. Pikirannya tidak berada pada agenda rapat yang menanti, melainkan pada sosok Aura.

Ia tahu Aura telah menerima kalung itu. Ia sengaja memilih berlian berbentuk tetesan air mata sebagai simbol ironis dari pertemuan mereka. Adrian menganggap tindakannya memberikan perhiasan itu sebagai cara untuk "menyeimbangkan neraca". Dalam dunia bisnisnya, setiap kerugian harus diganti dengan aset yang setara. Baginya, kesucian Aura adalah aset yang tak sengaja ia konsumsi, dan berlian itu adalah pembayarannya.

Pintu ruang kerjanya terbuka. Ibunya, Saraswati Mahendra, masuk dengan langkah anggun. "Adrian, kau baru pulang dan sudah sibuk dengan berkas lagi?"

Adrian tersenyum tipis, berdiri untuk mencium tangan ibunya. "Hanya beberapa urusan New York yang belum selesai, Ma."

Saraswati duduk di sofa kulit, menatap putranya dengan tatapan menyelidik yang khas. "Maanda mendengar kau banyak menghabiskan waktu di Manhattan. Apa kau bertemu seseorang yang spesial? Mama sudah bosan melihatmu hanya berganti-ganti teman kencan tanpa ada yang serius."

"Tidak ada yang spesial, Ma. Semuanya hanya bisnis," jawab Adrian datar.

"Bisnis, bisnis, bisnis. Ingat Adrian, usiamu sudah tiga puluh satu tahun. Perusahaan ini butuh penerus, dan Mama butuh cucu. Mama tidak ingin kau seperti pamanmu yang menghabiskan hari tua sendirian di London hanya dengan hartanya."

Kata 'cucu' membuat jantung Adrian berdesir aneh. Bayangan Aura yang memegangi perutnya di lokasi pemotretan kembali muncul. Tidak mungkin, pikirnya cepat. Ia selalu berhati-hati. Tapi kemudian ia teringat, malam itu ia sama sekali tidak menggunakan akal sehatnya.

"Adrian? Kenapa melamun?"

"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya sedikit jetlag. Nanti kita bicara lagi saat makan malam," Adrian berusaha mengalihkan pembicaraan.

Setelah penerbangan belasan jam, Aura akhirnya tiba di rumahnya di Jakarta. Namun, ia tidak merasa tenang. Ia merasa seolah-olah membawa bom waktu di dalam tubuhnya.

Ia memutuskan untuk pergi ke sebuah apotek yang jauh dari jangkauan paparazi, mengenakan topi dan masker yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Dengan tangan yang berkeringat dingin, ia membeli tiga merek alat tes kehamilan yang berbeda.

Sesampainya di apartemen, ia langsung mengunci diri di kamar mandi. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di telinganya sendiri. Ia mengikuti instruksi dengan saksama, lalu meletakkan ketiga alat itu di pinggiran wastafel.

Lima menit menunggu terasa seperti lima abad.

Aura berdiri di depan cermin, menatap dirinya sendiri. Ia terlihat berantakan. Ia membenci pria yang telah membuatnya berada di posisi ini. Ia membenci Adrian Mahendra dengan seluruh jiwanya.

Perlahan, ia menunduk untuk melihat hasilnya.

Dua garis merah. Di ketiga alat tersebut. Jelas. Tegas. Tanpa keraguan.

Dunia seolah berhenti berputar. Aura merasa oksigen di sekitarnya menghilang. Ia jatuh terduduk di lantai kamar mandi yang dingin, memeluk lututnya, dan terisak tanpa suara.

"Tidak... ini tidak boleh terjadi," bisiknya di sela tangis.

Di dalam rahimnya, kini tumbuh benih dari pria yang paling ia benci. Pria yang menganggapnya sebagai "wanita pesanan", pria yang memaksanya menandatangani kontrak keheningan, dan pria yang mencoba membeli kehormatannya dengan seuntai kalung berlian.

Aura menyentuh perutnya yang masih rata. Ada kehidupan di sana. Sebuah kehidupan yang tercipta dari kesalahan, skandal, dan obat bius. Ia tahu, menurut kontrak, ia tidak boleh menuntut apa pun. Ia tidak boleh memberitahu siapa pun.

Namun, bagaimana ia bisa menyembunyikan perut yang akan membesar? Bagaimana ia bisa melanjutkan kariernya sebagai bintang pop yang sempurna jika ia hamil tanpa suami?

Aura mengambil kalung berlian dari kotak yang ia letakkan di meja rias. Ia menatap kilaunya yang dingin. Berlian ini adalah bukti bahwa Adrian Mahendra menganggapnya sebagai transaksi. Dan sekarang, transaksi itu memiliki konsekuensi biologis yang tidak bisa dibatalkan oleh kontrak mana pun.

"Kau pikir kau bisa membayarku dengan ini, Adrian?" Aura bicara pada kalung itu, suaranya bergetar oleh amarah. "Kau salah. Kau sangat salah."

Ia melempar kalung itu ke dalam laci paling dalam dan menguncinya. Rahasia ini akan ia simpan rapat-rapat, setidaknya untuk saat ini. Ia harus merencanakan langkah selanjutnya. Ia harus pulang ke Kotagede. Ia butuh ayahnya, meski ia tahu kebenaran ini mungkin akan menghancurkan hati pria tua itu.

Di luar, hujan Jakarta mulai turun dengan deras, menghapus debu-debu di jalanan, namun tidak mampu menghapus jejak dosa yang kini telah berakar di dalam diri Aura Kasandra.

Bersambung ke Bab 6...