(POV Nadhira)

Aroma melati dari ronce rambutku masih menguar pekat, bercampur dengan wangi pendingin ruangan di kamar pengantin ini. Sebuah kamar hotel mewah yang disewa khusus oleh keluarga suamiku untuk malam pertama kami. Seharusnya, malam ini menjadi saksi dari awal sebuah kebahagiaan. Seharusnya, debar di dadaku ini adalah debar cinta dan antisipasi, bukan debar kecemasan yang mencekik.

Aku duduk di tepi ranjang berseprai putih, masih lengkap dengan kebaya resepsi yang terasa berat dan korset yang membelit pinggangku hingga sesak. Mataku menatap ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Di balik pintu itu ada Mas Arga, laki-laki yang baru sepuluh jam lalu menjabat tangan ayahku dengan lantang, mengucapkan ijab kabul yang mengikatku sebagai istrinya.

Pintu kamar mandi terbuka. Mas Arga keluar. Ia sudah berganti dengan piyama sutra berwarna biru tua. Wajahnya datar, tanpa senyum, tanpa kehangatan yang tadi ia pamerkan di atas pelaminan di depan ratusan tamu undangan.

"Mas... mau kubantu keringkan rambutnya?" tanyaku pelan, memecah keheningan. Suaraku terdengar sedikit bergetar.

Alih-alih mendekat, ia malah berdiri di dekat meja rias, menatapku melalui pantulan cermin dengan tatapan yang sulit kuartikan. Bukan tatapan memuja, apalagi rindu. Itu adalah tatapan menilai yang dingin.

"Tidak usah repot-repot, Nadhira," ucapnya. Suaranya rendah, namun tiap silabelnya terasa seperti es yang menyentuh kulitku. Ia berbalik, melipat tangannya di dada. "Ada yang harus aku sampaikan padamu malam ini juga. Semakin cepat, semakin baik."

Aku mengerjap. Firasat buruk tiba-tiba merayap naik dari ujung kakiku. "Ada apa, Mas? Kamu kelihatan tegang. Apa ada masalah dengan acara tadi?"

Mas Arga menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Matanya menatap tepat ke manik mataku. "Maafkan aku, Nadhira. Tapi aku tidak bisa meneruskan pernikahan ini."

Duniaku seolah berhenti berputar. Udara di sekelilingku mendadak lenyap. Aku terpaku, mencoba mencerna deretan kata yang baru saja keluar dari bibirnya. "M-maksudnya? Mas bercanda kan? Kita... kita baru saja menikah, Mas."

"Aku serius," potongnya tajam, tidak ada keraguan sedikit pun di sana. "Aku menikahimu hanya karena tekanan ibuku yang berhutang budi pada ayahmu. Tapi setelah melihat semuanya hari ini... berdiri di sampingmu di depan rekan-rekan bisnisku... aku sadar ini sebuah kesalahan besar. Kamu tidak sepadan dengan duniaku. Kamu tidak akan pernah bisa mengimbangi ambisiku. Jadi, mulai detik ini, aku menjatuhkan talak padamu."

Aku terkesiap. Tanganku secara refleks meremas seprai putih di bawahku hingga buku-buku jariku memutih. Air mata yang sejak tadi tertahan, luruh seketika, merusak riasan pengantin yang sudah mulai luntur. Di malam saat aku baru saja disahkan menjadi seorang istri, di malam yang sama pula kehormatanku dilucuti begitu saja.

Mas Arga meraih dompet dan kunci mobilnya dari atas nakas. "Aku akan tidur di kamar lain. Besok pagi, kemasi barang-barangmu."

Ia memutar kenop pintu, bersiap melangkah keluar meninggalkanku yang hancur berkeping-keping. Namun, sebelum pintu itu tertutup sempurna, sebuah pertanyaan melintas di kepalaku—membawa ketakutan yang jauh lebih besar daripada rasa sakitku sendiri. Bagaimana caraku menjelaskan kehancuran ini pada bapak dan ibu yang sedang tersenyum bangga di rumah?