(POV Nadhira)
Aku tidak tidur sedetik pun. Semalaman, aku hanya duduk memeluk lutut di atas karpet tebal kamar hotel ini, membiarkan gaun kebayaku kusut masai, membiarkan air mataku mengering dengan sendirinya hingga kelopak mataku terasa bengkak dan perih.
Talak. Kata itu terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak. Menghantam kewarasanku berulang kali. Bagaimana mungkin laki-laki yang selama enam bulan masa ta'aruf bersikap begitu sopan dan menawan, berubah menjadi monster tidak berhati hanya dalam hitungan jam setelah akad? Apa salahku? Apakah karena aku hanya anak seorang pensiunan guru biasa di kota kecil, sementara ia adalah calon direktur perusahaan besar? Jika memang aku tidak pantas, mengapa ia harus repot-repot mengucap janji di depan Tuhan?
Pukul enam pagi, ketukan di pintu menyentak lamunanku. Aku bangkit dengan susah payah, tulang-tulangku terasa ngilu. Saat aku membuka pintu, Mas Arga berdiri di sana dengan setelan kasual yang rapi. Ia menatap penampilanku—kebaya yang masih melekat, riasan yang hancur, dan mata yang membengkak—dengan tatapan jijik yang sama sekali tidak ia sembunyikan.
"Cepat mandi dan ganti bajumu. Setengah jam lagi kita harus turun ke lobi," perintahnya dingin, seolah aku adalah bawahannya di kantor. "Ibuku dan orang tuamu sudah menunggu untuk sarapan bersama sebelum mereka pulang."
"Mas..." panggilku parau. "Bagaimana aku harus bilang pada bapak dan ibu? Bapak punya penyakit jantung, Mas. Beliau bisa kolaps kalau tahu anaknya ditalak sehari setelah menikah."
Wajah Mas Arga menegang sejenak, namun dengan cepat kembali mengeras. "Itu urusanmu, bukan urusanku. Cari alasan apa pun. Bilang saja kita akan pindah ke apartemenku hari ini dan kamu butuh waktu untuk beradaptasi. Jangan berani-berani mengacaukan nama baikku di depan keluargaku. Setelah mereka pulang ke kampung, terserah kau mau ke mana."
Darahku mendidih. Di tengah rasa sakit yang mengoyak dada, ada amarah yang mulai menyala. Ia membuangku seperti sampah, tapi masih menuntutku untuk menjaga citranya?
Setengah jam kemudian, setelah mencuci muka dan menggunakan riasan tebal untuk menutupi jejak tangisanku, aku turun ke restoran hotel bersama Mas Arga. Ia berjalan di sampingku, bahkan sempat melingkarkan tangannya di pinggangku saat kami mendekati meja tempat keluarga kami berkumpul. Sebuah sentuhan palsu yang membuat perutku mual.
"Wah, pengantin baru kita sudah turun," sambut ibu mertuaku dengan senyum lebar.
Bapak dan ibuku menatapku dengan mata berbinar bahagia. "Nadhira, kamu kelihatan pucat, Nduk. Kurang tidur ya?" goda bapak, yang langsung disambut tawa kecil dari kerabat yang lain.
Aku mencoba tersenyum, menarik ujung bibirku sekuat tenaga meski rasanya nyaris robek. "I-iya, Pak. Agak capek."
"Maklum, Pak, acara kemarin kan padat sekali," sahut Mas Arga dengan nada lembut yang dibuat-buat, sambil menuangkan teh ke cangkirku. Sempurna sekali sandiwara laki-laki ini.
Saat sarapan berlangsung penuh tawa dan canda dari kedua keluarga, aku hanya menunduk, menelan bubur ayam yang terasa seperti pasir di tenggorokanku. Aku harus bertahan. Demi bapak. Demi ibu. Aku tidak boleh hancur di depan mereka.
Namun, saat bapak menepuk pelan bahuku sebelum masuk ke mobil travel yang akan membawa mereka pulang, pertahananku nyaris runtuh. "Bapak lega, Nduk. Suamimu orang yang bertanggung jawab. Taati dia, jadilah istri yang sholehah," bisik bapak dengan mata berkaca-kaca.
Aku memeluk bapak erat, menyembunyikan wajahku di dadanya agar ia tak melihat air mataku yang akhirnya tumpah. Maafkan Nadhira, Pak, jeritku dalam hati. Laki-laki yang Bapak banggakan ini baru saja membuang anakmu. Mobil travel itu perlahan bergerak menjauh, meninggalkan aku berdiri di pelataran hotel bersama Mas Arga. Begitu mobil itu hilang dari pandangan, tangan yang sejak tadi bertengger di pinggangku langsung terlepas kasar.
"Bagus. Sandiwaramu cukup meyakinkan," desisnya. "Sekarang, ambil kopermu. Aku pesankan taksi untukmu. Jangan pernah mencariku lagi."
Aku berdiri mematung. Di kota metropolitan yang asing ini, tanpa rumah untuk pulang, ke mana aku harus pergi?
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar