(POV Nadhira)
Sudah tiga hari aku mengurung diri di kamar kos sempit ini. Tiga hari kuhabiskan hanya untuk menangis, meratap, dan menatap layar ponsel yang tak pernah berhenti menerima pesan dari Ibu. "Nduk, sudah sampai apartemen Mas Arga? Gimana rumah barumu? Pasti bagus ya." "Nadhira, kok nggak dibalas? Kamu sibuk ngurusin suami ya? Bapak sama Ibu di kampung sehat kok."
Setiap kali membaca pesan itu, dadaku terasa seperti disayat sembilu. Aku membalasnya dengan kebohongan demi kebohongan. Iya, Bu, apartemennya bagus. Maaf ya, Nadhira lagi beres-beres jadi sibuk. Jari-jariku gemetar setiap kali mengetik kata-kata itu. Aku benci diriku yang harus berbohong, tapi aku lebih takut kehilangan bapak jika ia tahu putri kesayangannya tidur beralaskan kasur busa tipis yang bau apak ini.
Pagi ini, perutku berbunyi nyaring, memaksaku bangkit dari keterpurukan. Aku menatap pantulan diriku di cermin plastik yang menempel di pintu lemari. Wajahku pucat, kantung mataku menghitam, rambutku kusut masai. Aku terlihat seperti mayat hidup.
"Kamu nggak bisa terus begini, Nadhira," bisikku pada diriku sendiri, suaraku terdengar asing di telingaku. "Kalau kamu mati kelaparan di sini, Bapak dan Ibu tetap akan tahu dan mereka akan hancur."
Aku menarik napas panjang, membasuh wajahku di kamar mandi, lalu berganti pakaian yang lebih pantas. Aku harus keluar. Aku harus mencari pekerjaan. Uangku kini tinggal dua juta dua ratus ribu. Itu tidak akan cukup untuk bertahan hidup bulan depan.
Kaki ini membawaku menyusuri gang demi gang di sekitar kosan. Aku bertanya ke beberapa warung makan, toko kelontong, hingga minimarket, menawarkan diri untuk menjadi pelayan atau tukang cuci piring. Namun, jawabannya selalu sama: Maaf, Mbak, kami sedang tidak butuh pegawai. Langkahku terhenti di depan sebuah pasar tradisional yang ramai. Aroma berbagai rempah dan kue-kue jajanan pasar menggelitik hidungku, memicu sebuah ingatan. Di kampung, aku sering membantu Ibu membuat kue subuh untuk dititipkan di pasar. Klepon, pastel, lemper, hingga bolu kukus. Tanganku terampil membuat adonan.
Ide itu muncul begitu saja. Jika aku tidak bisa mencari pekerjaan, aku harus menciptakannya.
Dengan sisa uang yang ada, aku membeli sebuah kompor gas kecil satu tungku, wajan, panci kukus sederhana, dan beberapa bahan baku: tepung, gula, santan, telur, dan pewarna makanan. Tanganku gemetar saat menyerahkan uang untuk membayar semua itu. Ini adalah pertaruhan terakhirku.
Malam harinya, kamar kosku yang sempit kini dipenuhi aroma pandan dan gula merah yang mendidih. Aku membuat klepon dan risoles mayo. Meski fasilitas sangat terbatas—aku menguleni adonan di atas alas plastik di lantai, dan mengukus dengan api kecil agar gas tidak cepat habis—aku mengerjakannya dengan sepenuh hati. Setiap kali tanganku bergerak membentuk adonan, ada tekad yang ikut terbentuk di dadaku. Aku tidak akan hancur. Aku akan membuktikan bahwa aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Menjelang subuh, dua boks plastik besar sudah terisi penuh dengan kue-kue buatanku yang masih hangat. Pukul lima pagi, aku berangkat ke pasar, menawarkan kue-kue itu kepada para pedagang lapak jajanan. Beberapa menolak dengan sinis, beberapa menerimanya dengan ragu-ragu karena aku orang baru.
Namun, lelahku terbayar lunas ketika sore harinya aku kembali untuk mengambil sisa titipan. "Mbak, risolesnya besok bawain lima puluh biji lagi ya. Tadi pagi jam delapan udah ludes diborong orang kantoran," ujar salah satu ibu pedagang sambil menyerahkan lembaran uang dua puluh ribuan padaku.
Tanganku bergetar saat menerima uang itu. Tiga ratus ribu rupiah. Ini adalah uang pertama yang kuhasilkan dari keringat dan air mataku sendiri di kota ini. Aku tersenyum tipis, sebuah senyum tulus pertama sejak malam resepsi itu.
Namun, senyumku pudar saat aku berjalan pulang melewati sebuah gedung perkantoran besar. Mataku tanpa sengaja menangkap sosok yang sangat kukenal. Mas Arga. Ia berjalan keluar dari lobi utama, tampak gagah dengan jas mahalnya, tertawa lepas sambil merangkul pinggang seorang perempuan cantik dan elegan yang bersandar manja di bahunya.
Langkahku terhenti. Kakiku seolah terpaku ke aspal. Dadaku kembali sesak, tapi kali ini bukan karena kesedihan, melainkan sebuah tikaman fakta yang nyata. Sementara aku berjuang mempertaruhkan sisa uang demi sesuap nasi, laki-laki yang menghancurkanku sedang berpesta di atas penderitaanku.
Perempuan di sebelahnya tiba-tiba menoleh, dan pandangan kami tak sengaja bertemu. Ia mengerutkan kening melihatku—seorang perempuan berjaket lusuh yang memegang dua boks plastik kosong—sebelum akhirnya membuang muka dengan tatapan meremehkan.
Tanganku mencengkeram erat boks plastik di pelukanku. Ingat wajahnya, Nadhira. Ingat tawa mereka. Aku membalikkan badan, melangkah menjauh dengan dada yang membusung lebih tegap dari sebelumnya. Mereka belum tahu, hari ini adalah awal dari berputarnya roda takdir.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar