(POV Nadhira)
Taksi kuning ini terus melaju membelah kepadatan lalu lintas. Sopir taksi sempat melirikku melalui kaca spion, mungkin heran melihat seorang perempuan berkebaya sederhana dengan mata bengkak membawa sebuah koper besar di tengah hari.
"Mbak, ini kita mau ke mana arahnya? Dari tadi kita cuma muter-muter Sudirman," tanya sopir itu memecah keheningan, nada suaranya terdengar hati-hati.
Aku tergagap pelan. "Maaf, Pak. Boleh tolong antar saya ke daerah... daerah pinggiran saja? Yang ada kos-kosan murah. Tolong carikan ya, Pak. Saya tidak terlalu paham jalanan Jakarta."
Bapak sopir itu mengangguk pelan, rasa iba jelas terpancar dari raut wajahnya yang keriput. "Baik, Mbak. Saya arahkan ke daerah pinggiran Selatan ya, di sana masih banyak kos-kosan bulanan yang harganya lumayan terjangkau."
Aku hanya mengangguk, menyandarkan kepalaku ke kaca jendela mobil yang mulai berembun. Langit mendadak mendung, seolah tahu isi hatiku yang sedang kelam. Rintik hujan mulai turun, berlomba dengan air mata yang kembali luruh tanpa bisa kucegah.
Di dalam dompetku saat ini hanya ada sisa uang tabunganku sebesar tiga juta rupiah. Uang gajiku sebagai guru honorer yang kukumpulkan berbulan-bulan. Sisanya sudah habis kugunakan untuk membantu bapak membeli suvenir pernikahan. Aku tidak membawa sepeser pun uang dari Mas Arga—laki-laki itu memang tidak memberiku apa-apa selain luka.
Aku memejamkan mata, memeluk tas selempangku erat-erat. Ketakutan menyergapku dari segala arah. Bagaimana aku harus bertahan hidup di kota sebesar dan sekejam ini dengan uang tiga juta? Aku tidak bisa pulang ke kampung. Jika bapak tahu kenyataan ini, jantungnya tidak akan kuat. Aku juga tidak mungkin menghubungi teman-teman lamaku; rasa malu telah membungkam lidahku rapat-rapat. Mereka semua baru saja memberiku ucapan selamat kemarin, bagaimana aku harus bilang bahwa aku sudah menjadi janda hari ini?
"Mbak, kita sudah sampai. Di gang depan itu ada rumah kos khusus putri. Bulanannya sekitar tujuh ratus ribu," suara bapak sopir mengembalikan kesadaranku.
Aku membayar ongkos taksi dan turun sambil menyeret koperku. Hujan turun semakin deras, mengguyur tubuhku tanpa ampun. Aku berdiri di depan pagar besi karatan, menatap bangunan kos bercat biru pudar itu. Air hujan bercampur dengan air mataku, membasahi wajah dan bajuku. Dinginnya menusuk hingga ke tulang, tapi tidak sebanding dengan rasa dingin yang ditinggalkan Mas Arga di hatiku.
Ibu kos, seorang wanita paruh baya berdaster, menyambutku dengan tatapan penuh selidik melihat penampilanku yang basah kuyup. "Cari kamar, Neng? Sendirian?"
"Iya, Bu. Ada kamar kosong?" suaraku terdengar serak dan parau.
"Ada, di lantai atas, pojok. Tapi harus bayar lunas sebulan di depan, plus uang deposit seratus ribu. Total delapan ratus. Mau?"
Aku mengeluarkan dompetku yang sedikit basah, menghitung lembaran uang ratusan ribu dengan tangan gemetar, lalu menyerahkannya.
Setelah menerima kunci, aku menyeret koperku menaiki tangga sempit yang licin. Begitu pintu kamar kos terbuka, aroma apak langsung menyergap hidungku. Kamar itu kecil, hanya berukuran tiga kali tiga meter. Ada kasur busa tipis di lantai, lemari plastik kecil, dan kamar mandi dalam yang sekadar layak pakai.
Aku mengunci pintu dari dalam, membiarkan koperku tergeletak begitu saja. Lututku seketika lemas. Aku merosot jatuh ke lantai dingin, menangkup wajahku dengan kedua tangan, dan menangis sejadi-jadinya. Untuk pertama kalinya, aku membiarkan suaraku pecah. Aku menjerit, merutuki nasibku, merutuki kebodohanku, dan merutuki ketidakadilan ini.
Aku sendirian. Dibuang. Dihancurkan. Dan besok pagi, saat matahari terbit, aku harus mencari cara agar bisa tetap bernapas di kota ini dengan uang yang tersisa. Tapi malam ini, biarkan aku meratapi matinya sebagian dari jiwaku.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar