(POV Arga - Mantan Suami)
Aku duduk di balik kemudi mobilku, menatap taksi yang membawa Nadhira menjauh dari pelataran hotel. Tidak ada penyesalan. Tidak ada rasa bersalah. Yang ada hanya rasa lega yang luar biasa seolah sebuah batu besar baru saja diangkat dari dadaku.
Pernikahan ini sejak awal adalah sebuah kesalahan konyol. Ibu yang memaksaku, terus-menerus mengungkit bagaimana ayah Nadhira pernah menyelamatkan nyawa almarhum ayahku puluhan tahun lalu saat mereka sama-sama masih miskin di desa. "Balsam hutang budi," begitu Ibu menyebutnya. Dan aku, sebagai anak laki-laki satu-satunya yang saat itu sedang mengejar kursi direktur utama, tak punya pilihan selain menuruti permintaan Ibu demi menjaga citra anak berbakti di mata keluarga besar.
Tapi melihat Nadhira di acara resepsi kemarin sungguh membuka mataku. Dia memang cantik, aku akui itu. Wajahnya ayu khas perempuan Jawa. Tapi kepolosannya, kepasrahannya, dan gaya bicaranya yang terlalu merendah membuatku muak. Saat rekan-rekan bisnisku dari luar negeri menyapanya, ia hanya tersenyum kikuk dan menunduk, sama sekali tidak memancarkan aura seorang istri direktur. Dia bukan aset. Dia adalah liabilitas.
Di dunia yang keras ini, aku butuh perempuan yang bisa berdiri sejajar denganku. Perempuan yang tahu cara membawa diri di pesta koktail, yang fasih berbicara soal investasi, dan yang memiliki koneksi untuk mendongkrak karirku. Dan kriteria itu ada pada Clara.
Kuraih ponsel dari dasbor mobil dan mengetikkan sebuah pesan singkat. “Aku sudah mengakhirinya. Sesuai janjiku padamu. Tunggu aku di apartemen.”
Tidak sampai satu menit, balasan dari Clara masuk. “You’re crazy, Arga. Baru semalam kalian resepsi! Tapi aku suka caramu. See you in 15 mins. 😘”
Aku tersenyum puas. Clara adalah putri tunggal dari komisaris utama perusahaanku. Bersamanya, jalanku menuju puncak akan terbuka lebar tanpa hambatan. Tentu saja, aku harus pintar-pintar menutupi perceraian kilat ini dari Ibu untuk sementara waktu. Nanti, setelah segalanya stabil, aku akan mengarang cerita bahwa Nadhira yang tidak betah hidup di kota besar dan memilih pergi meninggalkanku.
Menjalin hubungan dengan Nadhira hanyalah membuang waktu. Dia terlalu lemah, terlalu rapuh. Perempuan seperti dia hanya akan berakhir menjadi benalu yang menangisi nasibnya sendiri.
Aku memutar setir, membawa mobilku membelah jalanan ibu kota menuju apartemen Clara. Masa depanku yang gemilang sudah menanti. Tentang Nadhira? Ah, perempuan itu pasti akan pulang ke kampungnya sambil menangis tersedu-sedu. Ia bukan siapa-siapa, dan tidak akan pernah menjadi siapa-siapa.
Namun, saat mobilku berhenti di lampu merah, bayangan tatapan Nadhira pagi tadi sekilas melintas di benakku. Bukan tatapan memelas seperti yang kuduga, melainkan kilat kemarahan yang tertahan.
Aku menggelengkan kepala, mengusir pikiran konyol itu. Tidak mungkin. Nadhira terlalu lemah untuk marah. Dia pasti sudah hancur sekarang. Dan itu bukan urusanku lagi.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar