Kardus terakhir berdebum pelan saat diletakkan di atas lantai keramik yang kehilangan kilapnya. Raya meluruskan punggung, mengusap keringat yang menetes dari pelipisnya dengan punggung tangan yang berdebu. Napasnya terengah, beradu dengan suara deru kipas angin kecil yang ia nyalakan di sudut ruang tamu.

Di sebelahnya, Dimas menjatuhkan diri ke atas karpet lipat tipis. Anak laki-laki berusia sembilan belas tahun itu menatap langit-langit yang dipenuhi noda kecokelatan bekas bocor dengan pandangan kosong.

"Kak, kau yakin atapnya nggak bakal rubuh kalau hujan turun?" keluh Dimas. Suaranya terdengar serak karena debu.

Raya memaksakan seulas senyum tipis, meski pundaknya sendiri terasa kaku. "Pemiliknya bilang baru diperbaiki bulan lalu, Dim. Lagipula, dengan harga segini, kita nggak bisa protes banyak."

Ini bukan rumah impian, Raya sangat tahu itu. Blok D nomor 14 adalah sebuah kontrakan kecil di ujung kompleks perumahan lama yang setengah kosong. Fasadnya dicat dengan warna krem yang sudah mengelupas di sana-sini, memperlihatkan plesteran semen keabu-abuan di baliknya. Terasnya hanya cukup untuk memarkir satu motor, dibatasi oleh tembok setinggi dada yang memisahkannya dengan rumah sebelah—Blok D nomor 15.

Raya melangkah ke arah jendela depan yang masih terbuka. Ia menyandarkan sebelah tangannya di kusen kayu yang terasa kasar. Udara sore berembus pelan, membawa aroma tanah kering dan daun mangga yang terbakar dari kejauhan. Kompleks ini terlalu sepi untuk ukuran perumahan di tengah kota. Sepanjang jalan aspal yang berlubang di depan rumahnya, hanya ada dua atau tiga rumah yang jendelanya terbuka. Sisanya tertutup rapat, dengan pagar berkarat dan tanaman liar yang menjalar tak beraturan.

Tidak ada suara anak-anak yang bermain sepeda. Tidak ada ibu-ibu yang menyapu halaman sambil mengobrol. Hanya ada keheningan yang terasa mengendap, seperti udara berat sebelum badai turun.

Namun, Raya menghela napas lega. Sunyi lebih baik daripada tagihan sewa yang mencekik leher. Di sini, ia dan adiknya bisa menata ulang hidup mereka.

Pandangan Raya tanpa sadar beralih ke rumah sebelah. Tembok pembatasnya rendah, sehingga ia bisa melihat jelas bagian depan rumah Blok D nomor 15. Kondisinya tidak jauh berbeda dengan rumah yang ia tempati. Catnya berwarna biru pudar yang kusam. Jendelanya ditutupi tirai tebal berwarna gelap yang ditarik rapat. Tidak ada pot tanaman, tidak ada rak sepatu. Kosong.

"Malam ini kita pesan nasi goreng di depan gang saja ya," ucap Raya sambil berbalik, meninggalkan jendela. Ia mulai membongkar salah satu kardus berisi piring dan gelas. "Besok baru Kakak mulai masak. Kompornya belum dipasang."

Dimas hanya menggumam tidak jelas sebagai jawaban. Anak itu sudah memejamkan mata, terlalu lelah setelah mengangkat barang seharian.

Proses membongkar barang memakan waktu lebih lama dari yang Raya perkirakan. Saat ia memindahkan tumpukan pakaian ke dalam lemari plastik di kamarnya, cahaya matahari di luar sudah sepenuhnya lenyap, digantikan oleh temaram lampu jalan yang kekuningan.

Kamarnya berada di sisi kanan rumah, yang berarti dinding kamarnya berbatasan langsung dengan rumah sebelah. Raya menempelkan telapak tangannya di permukaan dinding yang terasa dingin saat ia merapikan kasur lipat. Ketebalan dinding ini sepertinya standar rumah subsidi lama; cukup padat, tapi bukan tembok beton tebal yang kedap suara.

Pukul setengah delapan malam, kelelahan akhirnya mengalahkan rasa lapar. Dimas sudah tertidur pulas di kamar depan. Raya memutuskan untuk menyeduh teh hangat dan duduk sendirian di ruang tamu. Ia mematikan lampu utama untuk menghemat listrik, menyisakan lampu neon kecil di dekat dapur.

Keadaan begitu hening. Raya bisa mendengar detak jantungnya sendiri dan suara gesekan daun mangga di luar jendela.

Lalu, di tengah kesunyian itu, ia mendengarnya.

Suara samar yang mengalun dari balik dinding sebelah kanannya. Raya menoleh. Ia menahan cangkir tehnya di udara.

Itu suara televisi.

Volume suara itu sangat pelan, terdengar seperti dengungan lebah dari kejauhan. Sesekali ada nada bicara yang naik-turun khas pembawa acara berita, diikuti oleh tawa rekaman dari sebuah acara sitkom. Raya mengerutkan kening. Jadi, rumah sebelah ada penghuninya? Ia tidak melihat tanda-tanda kehidupan di sana sejak sore tadi. Bahkan lampu teras rumah itu tidak menyala.

Raya bangkit perlahan, meletakkan cangkirnya di atas meja tanpa menimbulkan suara. Entah kenapa, instingnya menyuruhnya untuk bergerak tanpa suara. Ia berjalan mendekati dinding ruang tamu yang berbatasan dengan rumah Blok D nomor 15.

Ia memiringkan kepalanya, menempelkan sebelah telinganya ke permukaan tembok yang dingin.

Benar. Suara televisi. Kini terdengar sedikit lebih jelas. Ada suara gemerisik statis, seolah siaran itu tidak menangkap sinyal dengan baik. Raya memejamkan mata, mencoba fokus pada frekuensi suara tersebut untuk memastikan ia tidak salah dengar. Ia bahkan menahan napasnya agar tidak mengganggu pendengarannya sendiri.

Suara televisi itu tiba-tiba mati persis pada detik yang sama saat Raya memfokuskan pendengarannya, meninggalkan keheningan total yang mendadak terasa pekak di telinga.